Fasilitasi Kerjasama Nelayan dan Industri Pengolahan Ikan, Upaya Stabilkan Harga dan Pasokan Ikan

0
231
Stabilkan Harga dan Pasokan Ikan Saat Musim Puncak Penangkapan Ikan

(Vibizmedia – Jakarta) Berbagai upaya terus dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menstabilkan harga dan pasokan ikan di sejumlah wilayah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui fasilitasi kerjasama antara nelayan dan industri pengolahan ikan, dengan tujuan membuka akses pasar bagi nelayan saat pasokan ikan berlimpah agar diperoleh harga jual yang optimum.

 

Seperti misalnya di Prigi, Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, tengah mengalami musim puncak penangkapan ikan yang berlangsung pada September dan Oktober ini, maka produksi ikan akan melimpah. Berdasarkan catatan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, hasil tangkapan nelayan dalam sepekan terakhir yang masuk ke Tempat Pendaratan Ikan (TPI) mencapai 100 – 120 ton per hari.

Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Ishartini di Jakarta (13/9/2022) menyatakan, kondisi ini menyebabkan penurunan harga ikan tongkol lisong dari kondisi normal Rp16.000/kg menjadi Rp10.000-Rp12.000/kg.

Untuk itu Ishartini memastikan, jajarannya telah mempertemukan Koperasi Pindang Prigi Jaya dengan nelayan dalam rangka memenuhi pasokan hasil perikanan. Dengan melimpahnya hasil tangkapan, selain untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pindangnya sendiri, Koperasi Pindang Prigi Jaya juga bekerjasama dengan PT. Maharani Artha Prima guna memasok bahan baku ke wilayah lain.

Dikatakannya, aksi jemput bola di kawasan produksi ini sangat penting guna menjaga stabilitas harga komoditas perikanan. Upaya seperti ini sebaiknya dilakukan di titik produksi atau Pelabuhan Perikanan lain di saat produksi perikanannya berlimpah.

Melalui aksi jemput bola tersebut, Ishartini berharap para pelaku usaha industri, supplier, dan eksportir perikanan semakin terpacu untuk menyerap hasil tangkapan nelayan.

Hal yang sama disampaikan Direktur Logistik Ditjen PDSPKP, Berny A Subki. Ia  menyebut fenomena musiman ini memiliki nilai strategis dan ekonomi hulu-hilir yang penting. Karenanya, hadirnya program Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) diharapkan bisa membangun, mengembangkan dan menguatkan sistem manajemen rantai pasokan ikan dan hasil perikanan yang terintegrasi, efektif dan efisien.

Terlebih kata kunci dari SLIN ialah sinergi antar entitas pelaku usaha yang terlibat dalam penataan distribusi hasil perikanan. Nantinya pelaksanaan SLIN tetap dilakukan dengan dukungan digitalisasi, forecasting, termasuk alert system, mitigasi risiko, koordinasi dengan sektor lain dan Pemda.  Termasuk juga pilihan langkah aksi di lapangan bersama para pelaku usaha.

Sebagai informasi, selain di selatan Jawa Timur (WPP-573), Ditjen PDSPKP juga melaksanakan SLIN di Maluku Utara dan wilayah lainnya sekaligus bersinergi dengan unit Eselon I terkait di KKP. Pelaksanaan SLIN di Prigi ditandai dengan penataan distribusi hasil perikanan dalam mendukung pasokan dan ketersediaan bahan baku industri dan konsumsi di PPN Prigi di awal bulan ini.

Sebelumya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebutkan pentingnya keberadaan cold storage yang akan memperkuat manajemen rantai pasok hasil perikanan. Hal ini dapat mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat nelayan melalui stabilitas harga, serta menjamin pasokan stok ikan berkualitas kepada masyarakat.

 

Baca juga:

Kembangkan Inovasi Produk Perikanan untuk Kesejahteraan dan Solusi Krisis Pangan