Kembangkan Inovasi dan Modifikasi Produk di Lingkup UMKM Perikanan Menjadi Prioritas

0
118
UMKM Perikanan

(Vibizmedia – Purwakarta) Pentingnya inovasi dan modifikasi produk di lingkup UMKM menjadi penekanan dari  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Untuk menerapkan ekonomi biru kelautan dan perikanan juga diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah jugapengolahan tanpa ada yang terbuang menjadi limbah (zero waste).

Saat membuka Sosialisasi Mutu dan Nilai Tambah Produk Perikanan bersama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi di Kabupaten Purwakarta beberapa waktu lalu,  Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Ishartini menyatakan, secara ekonomi nilai tambah perlu ditingkatkan selain nilai tambah secara bisnis diperlukan,  karena peluang pasar value added product di dalam negeri dan ekspor meningkat.

Ishartini menegaskan keberadaan UMKM begitu penting bagi perekonomian nasional, serta akan semakin berdampak jika mereka berinovasi dan memodifikasi produk yang diolahnya. Berdasarkan data BPS, jumlah unit pengolah ikan (UPI) mikro kecil sebanyak 62.389 unit, sedangkan jumlah UPI menengah besar sesuai data Ditjen PDS sekitar 1.619 unit.

Dari data tersebut, tercatat 54 UPI mikro kecil di Kabupaten Purwakarta yang di dominasi oleh pemindangan 43 unit, pelumatan daging 5 unit, penggaraman/pengeringan 2 unit, dan pengolahan lainnya 4 unit.

Ia menambahkan, inovasi dan modifikasi produk tentu berdampak pada usaha yang semakin berkembang. Dan jika ini terjadi, permasalahan lapangan kerja juga bisa teratasi.

Guna mencapai titik tersebut, Ishartini juga mengingatkan pentingnya penerapan cara penanganan dan pengolahan ikan yang baik, dan Prosedur Operasi Standar Sanitasi yang bukti penjaminannya dilakukan melalui penerbitan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) atau sekarang disebut Sertifikat Good Manufacturing Practices (GMP). Dikatakannya, sertifikat GMP adalah pondasi sistem manajemen keamanan pangan yang diakui secara internasional sehingga menjadi instrumen dasar untuk perlindungan kesehatan konsumen.

Lanjutnya, setelah inovasi, sertifikasi agar produknya marketable dan recognized yaitu bisa diterima secara global harus diperhatikan juga, karena inilah pintu ekspor bagi UMKM.

Hal yang sama juga disampaikan Dedi Mulyadi yang menyatakan, globalisasi yang ditambah dengan digitalisasi membuat pola konsumsi ikan kian berkembang. Dia mengajak UMKM untuk menyadari pentingnya branding dan packaging agar bisa survive sekaligus berkembang.

Dedi menambahkan, semakin hari  jaman mengalami perubahan. Anak muda di jaman sekarang berbeda dengan  dahulu. Jaman sekarang orang memikirkan kemasan.

Dedi kemudian menceritakan hasil pengamatannya ke negara lain, di negara maju ada professor (ahli) memotong ikan tuna dan daging sapi. Hal ini menunjukkan pentingnya kesadaran akan ilmu dalam mengolah produk sekaligus mengemasnya agar berkualitas.

Karena itulah Dedi menekankan bahwa di era keterbukaan, UMKM juga memiliki peluang untuk maju. Terlebih sektor perikanan Indonesia juga memiliki potensi yang luar biasa. Tidak ada sebuah usaha tanpa proses, tetapi perpaduan dari kemasan dan cita rasa yang enak.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pentingnya inovasi dalam menghadirkan industri perikanan Indonesia yang maju dan berkelanjutan. Caranya dengan berkolaborasi dalam bidang perikanan tangkap maupun budidaya.

Menteri Trenggono menyatakan, inovasi akan berkembang jika industrinya juga hidup dan diregulasi dengan baik. Ia mengharapkan dukungan dari kampus yang merupakan pabriknya ilmu. Selain itu,  semangat anak-anak muda sangat luar biasa.

Baca juga:

KKP Dorong UMKM Lakukan Ekspor, Nikmati Tarif Ekspor Nol Persen