Presiden Jokowi Sebut Ekonomi Digital Indonesia Tumbuh 8 Kali Lipat pada Tahun 2030

0
172
Ekonomi Digital Indonesia
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutannya dalam acara Peresmian Pembukaan BUMN Startup Day Tahun 2022, FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa ekonomi digital Indonesia tumbuh pesat dan tertinggi di Asia Tenggara dan melompat delapan kali lipat dari tahun 2020 kira-kira Rp632 triliun menjadi Rp4.531 triliun pada tahun 2030 mendatang.

Menurut Presiden, itu merupakan peluang yang besar sekali.

Selain itu, Presiden Jokowi menyebut, Indonesia juga memiliki potensi lain yakni jumlah pengguna internet yang besar yang mencapai 77 persen dari total penduduk Indonesia dengan penggunaan rata-rata 8 jam 36 menit setiap harinya. Tak hanya itu, Indonesia juga merupakan negara dengan perusahaan rintisan tertinggi keenam di dunia.

“Pertama memang Amerika, India, UK (United Kingdom/Britania Raya), Kanada, Australia, Indonesia, nomor enam. Ini juga sebuah potensi yang besar yang harus kita kembangkan,” jelas Presiden dalam sambutannya dalam acara Peresmian Pembukaan BUMN Startup Day Tahun 2022, pada hari Senin, 26 September 2022, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Presiden Jokowi juga menyebut bahwa masih banyak bidang yang ke depan perlu diatasi dengan teknologi, di antaranya yakni dalam bidang pangan, kesehatan, dan UMKM. Presiden menilai hal tersebut merupakan peluang pengembangan perusahaan rintisan di Indonesia.

“Dari kategori yang saya lihat, memang yang paling besar masih di fintech, 23 persen. Kemudian retail ada 14 persen. Padahal tadi kalau lihat, urusan masalah krisis pangan, urusan pangan ke depan ini akan menjadi persoalan besar yang harus dipecahkan oleh teknologi,” katanya.

Presiden juga menekankan, pembentukan perusahaan rintisan perlu melihat kebutuhan pasar yang ada. Selain itu, perusahaan rintisan juga perlu didukung oleh ekosistem yang berkesinambungan agar dapat berhasil masuk ke pasar dan peluang yang ada.

“Hati-hati, 80 persen sampai 90 persen startup gagal saat merintis. Karena sekali lagi, tidak melihat kebutuhan pasar yang ada,” tegas Presiden.