Perluasan Pasar Ekspor Biomassa Cangkang Sawit Indonesia ke Jepang Makin Luas

0
106
Perjanjian kerja sama industri – perdagangan komoditas cangkang sawit, Indonesia dan Jepang (Foto: Infopublik)

(Vibizmedia – Industry) Cangkang sawit merupakan biomassa potensial yang bisa diolah menjadi produk hilir. Untuk itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu perluasan pasar ekspor untuk produk biomassa cangkang sawit ke Jepang. Produk turunan cangkang sawit asal Indonesia sangat diminati oleh pasar Jepang sebagai sumber energi primer yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Eko SA Cahyanto, menyatakan dukungannya untuk masuknya investasi di sektor industri hilir pengolahan cangkang sawit. Cangkang sawit akan diolah menjadi bahan bakar terbarukan dengan nilai kalori tinggi melalui produk industri pellet biomassa.

Di Indonesia, potensi produksi cangkang sawit mencapai 11 juta ton per tahun, tetapi yang sudah  diekspor masih sekitar 3,5 juta ton per tahun dalam bentuk komoditas setengah jadi.

Kemenperin melalui fasilitasi Atase Perindustrian KBRI Tokyo menginisiasi kegiatan forum bisnis di Tokyo. Kegiatan itu untuk mempertemukan para pelaku usaha cangkang sawit yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI) dengan Japan Biomass Power Association (BPA). Event Indonesia – Japan Business Forum on Sustainable Palm Oil Biomass Industry, terselenggara pada 26 September 2022 atas kolaborasi Kementerian Perindustrian, ITPC Osaka, Atase Perdagangan, dan Atase Perindustrian KBRI Tokyo.

Forum bisnis ini bertujuan mempromosikan aspek sustainability produk cangkang sawit asal Indonesia, dan merupakan peluang masuknya investasi industri pengolahan lanjut Biomassa di Indonesia. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para investor potensial dan existing buyer cangkang sawit dari Jepang.

Salah satu peluang investasi adalah produksi pellet (high-energy density biomass) yang dapat meningkatkan nilai kalori cangkang sawit menjadi setara dengan batu bara antrasit (6.100- 6.400 kcal per kg). Tantangannya adalah penyediaan teknologi permesinan yang canggih, termasuk yang telah dan sedang dikembangkan oleh fabrikasi permesinan dari Jepang seperti Sumitomo, Mitsubishi, dan Ishikawajima Harima Heavy Industri.

Ketua Umum APCASI, Dikki Ahmar, mengemukakan bahwa para pelaku usaha industri cangkang sawit telah menjalankan prinsip ramah lingkungan dan lestari berkelanjutan, termasuk juga membangun perekonomian masyarakat di daerah produsen cangkang sawit.

Pada rangkaian forum bisnis, telah dilakukan perjanjian kerja sama industri – perdagangan komoditas cangkang sawit, dengan total nilai kerja sama ekonomi sekitar USD135,2 juta per tahun, yang terdiri dari PT. Jatim Propertindo dengan Hanwa & N. Taiheyo Cement, PT. Eka Sapta Paramita Energi dengan Semec dan Iwatani, PT. Bersaudara Natural Energi dengan Thomas International. Co. Ltd dan  PTT Pacific, PT Biomas Andalan Indonesia Baik dengan PTT Pacific, serta PT Inti Persada dengan Thomas International Co. Ltd.