Neraca Arus Dana Indonesia 2017-2021

0
146
Neraca Arus Dana

(Vibizmedia-Kolom) Indonesia memiliki Sistem data tersebut selanjutnya disebut Neraca Arus Dana (NAD). Kebutuhan investasi sangat dirasakan oleh semua sektor produksi guna memperbesar penciptaan nilai tambah dan memacu laju pertumbuhan ekonomi. Untuk mewujudkan investasi tersebut, berbagai dana diperlukan guna membiayainya, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti pinjaman dan hibah.

Proses pembiayaan investasi dalam pelaksanaannya memerlukan peran lembaga-lembaga keuangan baik bank maupun lembaga keuangan lainnya sebagai perantara yang menghubungkan penyedia dana (selanjutnya disebut sebagai sektor surplus) dengan sektor yang membutuhkan dana (sektor defisit).

Pada masa lalu, peranan lembaga keuangan ini kurang begitu menonjol. Sementara di lain pihak, penyedia dana hanya melakukan investasi finansialnya pada instrumen-instrumen yang masih terbatas seperti tabungan dan deposito.

Akibatnya, belum semua dana digunakan secara optimal untuk pembiayaan investasi. Sementara itu, sektor produksi (investor) masih mengalami kesulitan dalam memperoleh sumber dananya. Melihat kenyataan tersebut, sejak permulaan dasawarsa 1980, pemerintah mulai melakukan reformasi ekonomi khususnya di bidang perbankan, misalnya penentuan tingkat suku bunga. Dengan demikian, pemilik dana dapat melakukan investasi finansial dengan pilihan yang lebih luas dan menarik.

Di samping itu, dengan meningkatnya kegiatan pasar modal yang ditunjukkan oleh makin banyaknya perusahaan-perusahaan yang “go-public”, menyebabkan para pemilik dana mempunyai alternatif tambahan dalam berinvestasi finansial yang bersifat langsung yaitu dengan cara membeli saham dan sertifikat keuangan lainnya di pasar modal.

Sejalan dengan perkembangan saat ini, arus finansial dari sektor surplus ke sektor defisit melalui instrumen-instrumen yang ada menjadi lebih kompleks. Perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepat dalam sektor finansial ini perlu dicatat dan dipantau secara berkala dalam satu sistem data yang lengkap, komprehensif, dan konsisten, sehingga berguna sebagai masukan dalam menentukan arah kebijakan ekonomi dan moneter secara lebih tepat. Sistem data tersebut selanjutnya disebut Neraca Arus Dana (NAD).

Neraca Arus Dana (NAD) merupakan suatu sistem data finansial yang lengkap menggambarkan penggunaan tabungan dan sumber dana lainnya untuk membiayai investasi yang dilakukan oleh sektor-sektor institusi pada periode waktu tertentu.

NAD juga menampilkan kegiatan transaksi finansial antar berbagai sektor menggunakan berbagai jenis surat utang (instrumen finansial) pada periode waktu tertentu.

Tabungan dalam istilah NAD merupakan selisih antara penerimaan dengan pengeluaran dari kegiatan ekonomi.

Penerimaan meliputi, surplus usaha dari kegiatan memproduksi barang dan jasa, peneriman dari balas jasa faktor produksi yang dimiliki (upah/gaji, dividen, bunga, sewa, dsb), dan current transfer (subsidi, pajak, bantuan luar negeri, dan pensiun).

Pengeluaran mencakup pengeluaran untuk konsumsi, current transfer (seperti pajak, dll), dan pengeluaran lainnya (selain pengeluaran untuk kegiatan produksi) seperti pembayaran dividen dan bunga.

Tabungan dalam konteks ini adalah tabungan bruto, yaitu tabungan ditambah dengan penyusutan barang modal. Tabungan merupakan salah satu sumber dana yang digunakan untuk investasi.

Sumber lainnya untuk berinvestasi adalah penerimaan yang berasal dari transaksi keuangan seperti, penerimaan dari hasil penerbitan saham/obligasi, penerimaan pinjaman, dan sebagainya.

Sementara itu, investasi yang dilakukan oleh berbagai sektor institusi mencakup investasi finansial dan investasi nonfinansial (investasi riil).

Investasi finansial adalah transaksi yang dilakukan oleh suatu sektor institusi dengan menggunakan berbagai instrumen finansial seperti saham, Surat Utang Negara (SUN), pinjaman, Surat Berharga Bank Indonesia (SBI), surat utang jangka pendek, dan sebagainya.

Investasi nonfinansial (investasi riil) mencakup penambahan serta pengurangan barang-barang modal dan inventori (stok) yang dilakukan oleh suatu sektor institusi.

Sektor-sektor institusi dalam Neraca Arus Dana tahunan dibagi menjadi Korporasi Nonfinansial, Korporasi Finansial, Pemerintah, Rumah Tangga, Lembaga Non Profit (LNPRT), dan Luar Negeri.

NAD disajikan dalam bentuk matrik, yaitu suatu sajian dalam bentuk tabel yang terdiri dari baris dan kolom. Baris pada matrik NAD menunjukkan kategori transaksi, yaitu jenis-jenis transaksi baik transaksi finansial maupun nonfinansial, seperti pembentukan modal tetap bruto, pinjaman, saham, surat utang jangka panjang, dan sebagainya.

Sementara itu, kolom pada matriks NAD menunjukkan pembagian sektor-sektor institusi. Setiap sektor institusi mempunyai dua kolom yaitu kolom perubahan aset dan kolom perubahan kewajiban. Kolom perubahan aset digunakan untuk mencatat semua perubahan (arus) aset (harta) baik aset finansial maupun aset nonfinansial, sedangkan kolom perubahan kewajiban digunakan untuk mencatat perubahan (arus) kewajiban finansial dan ekuitas.

Perkembangan Investasi

Pada tahun 2020, porsi investasi nonfinansial sebesar 61,09 persen dan pada tahun 2021 menurun menjadi 56,14 persen. Sementara itu, porsi investasi finansial mengalami peningkatan dari 38,91 persen di tahun 2020 menjadi 43,86 persen di tahun 2021.

Peningkatan porsi investasi finansial ini menunjukkan sentimen/kepercayaan masyarakat terhadap kondisi pasar keuangan di Indonesia membaik. Hal ini turut dipengaruhi oleh membaiknya kondisi ekonomi di Indonesia pasca krisis pandemi COVID-19.

Pada periode 2017-2021, nilai total investasi Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pola ini mirip dengan nilai investasi non finansial, kecuali di tahun 2020 yang mengalami penurunan cukup besar. Sementara itu, investasi finansial menunjukkan pola yang berbeda, dimana nilai investasi finansial menurun dari tahun 2017 hingga tahun 2019, kemudian meningkat kembali di tahun 2020 dan 2021.

Pertumbuhan total investasi terbesar terjadi pada tahun 2021, yaitu sebesar Rp9.510 triliun dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp8.176 triliun. Peningkatan investasi pada tahun 2021 ini terutama disebabkan oleh peningkatan investasi finansial sebesar Rp 990 triliun.

Perkembangan Celah Tabungan dan Investasi (S-I Gap)

S-I Gap (Saving Investment Gap) dapat menggambarkan kemampuan suatu sektor untuk memberikan pinjaman bagi sektor lain (net lending) atau memperoleh utang dari sektor lain (net borrowing) dalam membiayai investasi non finansialnya.

Dalam kaitan dengan sektor Korporasi Nonfinansial, jika S-I Gap sektor ini negatif (seperti yang terjadi pada tahun 2017-2019) berarti sektor Korporasi Nonfinansial memperoleh pinjaman dari sektor lainnya, seperti dari sektor Rumah Tangga, Luar Negeri, dan Korporasi Finansial.

Dalam hal ini sektor Rumah Tangga, Luar Negeri, dan Korporasi Finansial mengalami net lending, begitu pula sebaliknya. Selama tahun 2017-2021, sektor Korporasi Nonfinansial dan Pemerintah senantiasa mengalami net borrowing kecuali sektor Korporasi Nonfinansial pada tahun 2020 dan 2021.

Kekurangan dana tersebut dapat disediakan, terutama oleh sektor Rumah Tangga, Luar Negeri, dan Korporasi Finansial. Secara umum, selama tahun 2017-2021 sektor Rumah Tangga, Luar Negeri, dan Korporasi Finansial merupakan sektor surplus, kecuali tahun 2021 bagi sektor Luar Negeri.

Perkembangan Uang Beredar

Perkembangan jumlah uang beredar dapat dilihat dari indikator moneter seperti M1 dan M2. M1 merupakan mencakup jumlah uang kartal dan giral yang beredar di masyarakat, sedangkan M2 dikatakan uang beredar dalam arti luas karena mencakup M1, uang kuasi, dan surat berharga selain saham.

Selama periode 2017-2021 kontribusi uang kuasi terhadap pembentukan M2 rata-rata sebesar 73,18 persen. Kontribusi lainnya ditentukan oleh M1 yang rata-rata kontribusinya terhadap M2 sebesar 26,47 persen, dan sisanya sebesar 0,35 persen berasal dari surat berharga selain saham.

Sementara itu, uang kuasi tumbuh sebesar 6,82 persen di tahun 2017 dan terus menurun hingga 6,14 persen di tahun 2019, namun meningkat kembali hingga mencapai 10,71 persen di tahun 2021. Pola pertumbuhan M1 juga menunjukkan hal yang serupa, dimana M1 mengalami penurunan dari 12,38 persen di tahun 2017 hingga mencapai 4,77 persen di tahun 2018.

Namun, mulai meningkat di tahun 2019 hingga akhirnya menjadi 22,98 persen di tahun 2021. Hal ini mencerminkan bahwa walaupun uang kuasi masih lebih diminati untuk dimiliki oleh masyarakat dibandingkan uang M1, namun pertumbuhannya tidak sebesar pertumbuhan M1 terutama di tahun 2021.

Velocity of Money dan Financial Deepening Indonesia

Gambaran lain yang menunjukkan keadaan perekonomian nasional dalam kaitannya dengan uang beredar adalah pendalaman sektor Keuangan (financial deepening) dan percepatan perputaran uang beredar (velocity of money). Sektor Keuangan Indonesia masih dianggap dangkal (shallow) dibanding beberapa negara utama di kawasan Asia.

Neraca Arus Dana
(Photo: Kemenkeu)

Masih dangkalnya sektor keuangan Indonesia tecermin dari perkembangan rasio M2/PDB. Rata–rata rasio M1/PDB sepanjang tahun 2017-2021 mengalami fluktuasi dalam kisaran sebesar 9-13 persen. Sementara itu, rata-rata rasio M2/PDB nilainya berkisar sebesar 38-46 persen.

Pada akhir tahun 2017, rasio M2/PDB Indonesia mencapai sebesar 39,88 persen, namun nilainya terus menurun hingga 38,76 persen di tahun 2019, dan akhirnya meningkat kembali hingga mencapai 46,38 persen di tahun 2021.

Peningkatan ini utamanya dipengaruhi oleh PDB yang sempat terkontraksi pada tahun 2020 akibat krisis COVID-19 dan adanya penerapan MMT (Modern Monetary Theory) melalui peningkatan pencetakan uang untuk mengatasi krisis.

Sementara itu, kondisi velocity of money di Indonesia selama periode 2017-2021 menunjukkan angka yang relatif rendah. Hal itu tecermin dari rendahnya rasio antara PDB terhadap M1 selama periode tersebut yang hanya berada di kisaran angka 7,44 sampai 10,18.

Penutup

NAD dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk perencanaan dan perumusan kebijakan khususnya di bidang ekonomi dan moneter.

NAD juga dapat dipakai untuk melengkapi penyusunan Sistem Neraca Nasional serta Sistem Neraca Sosial Ekonomi Finansial (SNSEF).

NAD merupakan sistem data tertutup yang di dalamnya melibatkan sektor Luar Negeri. Sebagai suatu sistem data tertutup berlaku bahwa setiap perubahan aset di suatu sektor akan diikuti perubahan kewajiban dalam jumlah yang sama di sektor yang lain.

Dengan demikian, untuk masing-masing kategori transaksi berlaku identitas baris yang menunjukkan bahwa jumlah arus penggunaan dana (kenaikan harta) sama besarnya dengan jumlah arus sumber dana (kenaikan kewajiban finansial) untuk ekonomi secara keseluruhan.