Dari Kopi Sampai Keripik Jamur, Promosi Produk Pertanian Tanah Air di AS

Bukan hal gampang mencari produk pertanian asal Indonesia di Amerika. Kalaupun ada, pasokannya terbatas. Di sela-sela pertemuan IMF-Bank Dunia pekan lalu, Menteri Pertanian RI mencoba merayu para importir AS untuk memasok lebih banyak dan beraneka ragam produk pertanian Indonesia.

0
97
Kopi
Beberapa komoditas Kopi Indonesia yang dipamerkan di Washington, DC. (Foto: Voaindonesia)

Bukan hal gampang mencari produk pertanian asal Indonesia di Amerika. Kalaupun ada, pasokannya terbatas. Di sela-sela pertemuan IMF-Bank Dunia pekan lalu, Menteri Pertanian RI mencoba merayu para importir AS untuk memasok lebih banyak dan beraneka ragam produk pertanian Indonesia.

(Vibizmedia – International) Menemukan produk pertanian atau olahan dari Indonesia di AS, seperti kopi sampai keripik jamur, bukanlah hal mudah. Seringkali seseorang harus mencarinya ke toko-toko yang khusus menjual produk asal negara-negara Asia dengan jumlah yang terbatas.

Saat ini Indonesia sendiri memang bukan pengimpor produk pertanian utama Amerika, meski volumenya terus meningkat. Secara umum, dalam setahun terakhir, volume perdagangan Indonesia dan Amerika mengalami pertumbuhan yang cukup baik, kata Duta Besar RI untuk AS Rosan Roeslani.

“Kita cukup bersyukur karena perdagangan antara Indonesia dan Amerika dari tahun 2020-2021 mengalami peningkatan yang cukup tinggi, kurang lebih 36 persen, kurang lebih 37 miliar dolar. Sampai bulan Juli, kenaikan pun dibandingkan tahun 2021 mengalami kenaikan 20 persen.”

Dengan target memperkenalkan lebih banyak komoditas pertanian khas Indonesia di Amerika, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo lantas mengundang publik AS, khususnya diaspora Indonesia yang menetap di negeri Paman Sam, untuk “membisniskan” komoditas-komoditas tersebut di sela-sela pertemuan musim gugur IMF dan Bank Dunia di Washington DC.

“Kami punya kopi, kami punya tanaman hias, kami punya rempah-rempah, kami punya cokelat, kelapa dan lain sebagainya,” ujar Syahrul kepada VOA pada acara One Day Indonesian Coffee, Fruits and Floriculture yang disingkat Odicoff (11/10).

Pada pameran itu, pengunjung bisa melihat-lihat produk pertanian Indonesia, dari keripik jamur hingga manisan jahe. Mereka juga bisa mencicipi aneka jenis kopi nusantara dengan cita rasa yang berbeda-beda.

Syahrul berharap, ada di antara mereka yang lantas tertarik untuk mengimpor produk-produk tersebut ke Amerika.

“Odicoff itu tidak menentukan harus dengan bisnis besar. Bisnis ecek-ecek, UMKM juga ayo,” ujarnya.

Dian Lestari, ketua UKM IKM Nusantara cabang AS, adalah salah satu pihak yang meneken kerja sama dengan Kementerian Pertanian ketika acara itu digelar. Ia ingin memanfaatkan peluang berkurangnya produk-produk Tiongkok yang biasanya “membanjiri pasar” Amerika untuk membawa masuk komoditas nusantara.

Kelapa kopra dan kopi adalah dua komoditas pertanian Indonesia dengan permintaan terbesar saat ini di AS, katanya. Kopi Indonesia sendiri saat ini masih menjadi komoditas pertanian nomor satu yang diekspor ke AS, menurut Badan Pusat Statistik tahun 2021. Hampir seperempat (22,93%) pasokan kopi yang dikirim ke luar negeri diangkut ke sana dengan nilai ekspor mencapai 194,8 juta dolar Amerika, menyusul Mesir, Jepang, Spanyol dan Malaysia.

“Kopi kita kan sangat terkenal di Amerika. Itu juga peluangnya sangat besar,” ucap Dian saat ditemui VOA pada acara tersebut.

Meski demikian, masalah logistik masih menjadi tantangan untuk meningkatkan pasokan produk pertanian Indonesia ke Amerika, terutama bagi pelaku UMKM, kata Dian.

“Terutama dalam hal logistik dengan harga yang mahal untuk pengiriman. Kalau kita lihat, dengan harga FOB (Freight on Board) memang biasanya masuk. Tapi pada waktu udah mulai logistiknya, itu ada kendala sedikit,” ungkapnya. Harga FOB yang dimaksud Dian adalah harga beli yang didapatkan dari penjual, tidak termasuk biaya kirim.

Saat ditanyai apa solusi dari masalah tersebut, Mentan Syahrul Yasin Limpo menjawab:

“Tentu saja banyak masalah, tetapi saya tidak mau membesarkan masalah. Ayo cari apa yang bisa. Nggak usah pakai teori yuk. Yang bisa, bisa. Yang nggak bisa, ya cari lagi gantinya yang lain,” cetusnya.

Syahrul mengklaim pameran “iseng-iseng” yang sudah digelar kementeriannya di sedikitnya sembilan negara itu telah membukukan kerja sama hingga Rp7,2 triliun dalam satu tahun.

Data Departemen Perdagangan AS sendiri menunjukkan, AS adalah negara sumber impor produk pertanian terbesar kedua Indonesia, dengan kedelai, gandum, dan buah segar sebagai komoditas yang paling banyak diekspor AS ke Indonesia. Sementara Indonesia merupakan pengekspor komiditas pertanian terbesar ke-10 bagi AS.