Konsumsi kalori dan protein Indonesia

Tingkat kecukupan konsumsi kalori dan protein dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi gizi masyarakat dan juga keberhasilan pemerintah dalam pembangunan pangan, pertanian, kesehatan, dan sosial ekonomi secara terintegrasi.

0
153
konsumsi kalori
Berbagai ikan segar dijual di Pasar Ikan Kedonganan Denpasar Bali (Foto: Ninda Hapsari/ Kontributor VM)

(Vibizmedia-Kolom) Tingkat kecukupan konsumsi kalori dan protein dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi gizi masyarakat dan juga keberhasilan pemerintah dalam pembangunan pangan, pertanian, kesehatan, dan sosial ekonomi secara terintegrasi.

Sustainable Development Goals atau SDGs adalah suatu rencana aksi global yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan.

Saat ini, masyarakat dunia secara bersama-sama tengah berusaha untuk mengakhiri kelaparan, seperti yang sudah dituangkan dalam tujuan kedua dari Sustainable Development Goals (SDG’s) yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan yang menunjukkan keseriusan dan perhatian dunia global terhadap masalah gizi.

Penerapan SDG’s di Indonesia, sudah sejalan dengan agenda prioritas pembangunan pemerintah yang dituangkan dalam Nawacita yaitu peningkatan status kesehatan dan gizi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

Pemerintah menyadari bahwa sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, dan kesehatan yang prima, merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan Kualitas sumber daya manusia erat kaitannya dengan asupan pangan yang dikonsumsi yang menentukan status gizi.

Untuk mencapai status gizi yang baik, pangan yang dikonsumsi harus dalam jumlah yang cukup, bermutu dan beragam untuk memenuhi berbagai zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Jumlah, mutu dan ragam pangan yang dikonsumsi oleh rumah tangga tergantung pada daya beli rumah tangga tersebut.

Semakin tinggi daya beli rumah tangga maka semakin tinggi peluang rumah tangga tersebut untuk memilih pangan yang baik dari sisi jumlah maupun jenisnya. Makanan yang dikonsumsi penduduk mengandung banyak zat gizi seperti kalori, protein, karbohidrat dan lemak.

Ada dua zat gizi penting yaitu kalori dan protein. Kalori merupakan satuan ukur untuk menyatakan nilai energi. Dalam ilmu gizi, kalori adalah energi yang diperoleh dari makanan dan minuman serta penggunaan energi dalam aktivitas fisik.

Tubuh kita memerlukan kalori untuk menghasilkan energi. Kalori dapat dianalogikan sebagai bahan bakar bagi tubuh, kekurangan kalori akan menjadikan tubuh lemah dan daya tahan tubuh menurun.

Energi mempunyai peran penting dalam kehidupan, tanpa energi, sel-sel tubuh bisa mati, sistem-sistem organ dalam tubuh bisa berhenti, serta tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari.

Asupan kalori yang tidak tepat akan mempengaruhi kesehatan. Kelebihan kalori juga tidak baik bagi kesehatan. Dampak yang paling mudah terlihat akibat kelebihan kalori adalah obesitas. Orang yang mengalami obesitas umumnya rentan terhadap berbagai penyakit degeneratif.

Protein adalah molekul organik yang dibentuk dari kumpulan asam amino. Asamasam amino ini diikat oleh suatu ikatan kimia dan membentuk struktur 3 dimensi, yang berperan penting dalam fungsi tubuh kita. Protein, bersama dengan karbohidrat dan lemak, termasuk ke dalam kelompok makronutrien (zat gizi makro). Ini adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar setiap hari, serta berkontribusi pada pasokan energi (kalori) untuk tubuh. Setiap gram protein mengandung 4 kalori.

Protein merupakan kunci nutrisi penting yang berguna untuk pembentukan sel-sel baru dalam tubuh, memengaruhi kerja enzim, hormon, dan kekebalan tubuh. Protein juga merupakan zat gizi yang penting bagi tubuh, terutama untuk mengembangkan dan memperbaiki jaringan tubuh.

Dampak terburuk dari kekurangan protein adalah penyakit busung lapar dan marasmus yang dapat berujung pada kematian. Konsumsi protein yang berlebihan juga berdampak buruk bagi tubuh, terutama mengganggu kerja ginjal.

Secara normal, status gizi seseorang dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Penghitungan status gizi dapat dibagi menjadi dua, yaitu secara langsung maupun secara tidak langsung. Faktor yang memengaruhi status gizi secara langsung adalah asupan makanan dan infeksi.

Pengaruh tidak langsung dari status gizi ada tiga faktor yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, dan lingkungan kesehatan yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan.

Konsumsi Kalori dan Protein pada Tingkat Nasional

Status gizi secara tidak langsung memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan dan kondisi kesehatan masyarakat. Status kecukupan gizi dapat dihitung dari besarnya kalori dan protein yang dikonsumsi oleh penduduk.

Penentuan tingkat kecukupan konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia per kapita per hari menggunakan standar rekomendasi dari hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) ke-11 tahun 2018.

Data tentang porsi zat gizi yang dikonsumsi penduduk dan berasal dari makanan jadi, dipisahkan dengan konsumsi dari makanan dan minuman yang disiapkan (dimasak) di rumah karena perubahan porsi makanan jadi mungkin mengindikasikan perubahan pola konsumsi yang berkaitan dengan proses modernisasi. Konsumsi kalori dan protein dari makanan dan minuman jadi penduduk di perkotaan (466,73 kkal dan 15,02 gram protein) lebih tinggi dibandingkan di perdesaan (379,61 kkal dan 11,23 gram protein).

Melihat proporsi masing-masing kelompok makanan terhadap total makanan, dapat dijabarkan bahwa kelompok makanan padi-padian, makanan dan minuman jadi serta minyak dan kelapa merupakan tiga kelompok makanan yeng kandungan kalorinya paling tinggi dikonsumsi oleh rakyat Indonesia.

Baca juga : Konsumsi Kalori Menurut Provinsi

Proporsi konsumsi kalori padi-padian sebesar 40,46 persen (37,93 persen di perkotaan dan 43,82 persen di perdesaan). Tingginya proporsi kalori yang berasal dari padi-padian disebabkan beras yang memiliki kandungan kalori besar dan merupakan makanan pokok penduduk Indonesia yang mengakibatkan konsumsi beras menjadi besar.

Proporsi konsumsi kalori dari makanan dan minuman jadi terhadap total konsumsi kalori penduduk yaitu sebesar 20,67 persen. Di daerah perkotaan (22,62 persen) jauh lebih besar dibandingkan di daerah perdesaan (18,08 persen).

Proporsi konsumsi kalori dari minyak dan kelapa terhadap total konsumsi kalori penduduk adalah 12,75 persen. Di daerah perkotaan (12,85 persen) lebih besar dibandingkan di daerah perdesaan (12,62 persen).

Pada dapat dilihat proporsi masing-masing kelompok makanan terhadap total makanan, ternyata kelompok makanan padi-padian, makanan dan minuman jadi serta Ikan/udang/cumi/kerang merupakan tiga kelompok makanan yang kandungan proteinnya paling tinggi dikonsumsi oleh rakyat Indonesia.

Proporsi konsumsi protein dari padi-padian mencapai 31,82 persen, dari makanan dan minuman jadi sebesar 21,55 persen dan dari Ikan/udang/cumi/kerang sebesar 15,39 persen. Salah satu sumber kalori terbesar ke dua setelah padi-padian adalah makanan dan minuman Jadi. Konsumsi kalori per kapita sehari penduduk yang berasal dari makanan dan minuman jadi sebesar 429,65 kkal.

Konsumsi daging sebagai sumber kalori di Indonesia masih tergolong sedikit, bahkan bila dibandingkan dengan negara-negara di asia tenggara. Selain harganya mahal, sedikitnya konsumsi daging penduduk Indonesia juga disebabkan karena daya beli penduduk yang masih rendah.

Konsumsi kalori per kapita sehari penduduk Indonesia yang berasal dari minyak dan Kelapa cukup besar yaitu 265,08 kkal, terbesar ke tiga setelah konsumsi kalori yang berasal dari padi-padian dan makanan dan minuman jadi.

Baca juga : KKP Menyiapkan Ikan Kerapu dari Anambas Menjadi Komoditas Unggulan Ekspor

Sebagai negara maritim dengan luas laut sekitar 3.544.743.9 km atau 64,97 persen dari luas total negara Indonesia, Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang sangat luas, sehingga potensi hasil ikan nya pun melimpah. Ikan merupakan sumber kalori dan makanan yang menyehatkan karena ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh omega 3 yang bagus untuk kesehatan.

Penutup

Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia adalah 2.100 kkal dan 57 gram protein. Secara nasional rata-rata konsumsi kalori per kapita per hari penduduk Indonesia pada Maret 2022 sebesar 2 079,09 kkal berada di bawah standar kecukupan tetapi untuk konsumsi protein sebesar 62,21 gram, sudah berada di atas standar kecukupan konsumsi protein nasional.

Rata-rata konsumsi kalori per kapita sehari penduduk baik di daerah perkotaan maupun di perdesaan berada di bawah standar kecukupan konsumsi kalori per kapita sehari yaitu sebesar 2 063,63 kkal di perkotaan dan 2 099,95 kkal di perdesaan.

Baik di daerah perkotaan maupun di perdesaan, konsumsi protein per kapita penduduk Indonesia sudah berada di atas standar kecukupan konsumsi protein nasional. Konsumsi protein per kapita sehari penduduk di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan di daerah perdesaan yaitu 63,45 gram di daerah perkotaan berbanding 60,54 gram di daerah perdesaan.