Industri Kulit dan Alas Kaki Q2-2022 Tembus Rp 7,57 Triliun, Didorong Permintaan Ekspor

0
102
Ilustrasi industri alas kaki. FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Arus Gunawan menyampaikan bahwa industri kulit merupakan salah satu subsektor industri pengolahan nonmigas yang memiliki kinerja positif.

Berdasarkan data capaian produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) di industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki yang menembus Rp7,57 triliun pada kuartal II tahun 2022.

Menurut Arus, capaian tersebut mengalami kenaikan hingga 13,12% secara tahunan (y-o-y) apabila dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,7 triliun, yang didorong tingginya permintaan ekspor, investasi, serta pengalihan order ke Indonesia.

“Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten menjadi salah satu faktor mulusnya kinerja industri kulit nasional. Untuk terus meningkatkan kualitas tenaga kerja di industri kulit, Kementerian Perindustrian memiliki unit pendidikan vokasi melalui Politeknik Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta (Politeknik ATK Yogyakarta),” jelas Gunawan dalam keterangannya, pada Rabu, 26 Oktober 2022.

Arus menyampaikan bahwa Politeknik ini memang memiliki kekhususan di bidang pemrosesan kulit. Artinya, unit pendidikan vokasi kami spesifik dan teknis, dengan menerapkan model pendidikan dual system yang berbasis kompetensi,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, BPSDMI Kemenperin menggelar pelatihan tentang penyamakan kulit di Politeknik ATK Yogyakarta. Pelatihan ini merupakan wujud nyata dari kerja sama Indonesia dan Tanzania.

“Indonesia menjadi Pivotal Partner atau sebagai pihak yang membagikan pengetahuan dan keahlian di bidang industri kulit melalui Politeknik ATK Yogyakarta,” kata Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri BPSDMI Kemenperin, Restu Yuni Widayati.

Sedangkan, Tanzania selaku Beneficiary Partner atau menjadi pihak yang mempelajari pengetahuan dan keahlian dari Pivotal Partner, dengan target pelatihan sesuai kebutuhan dan prioritas industri kulit di negara tersebut.

“Kerja sama ini juga didukung oleh Jerman selaku Facilitating Partner yang membantu menghubungkan kedua negara dan mendukung penyelenggaraan kegiatan,” ungkap Restu.

Kerja sama triangular cooperation atau kerja sama tiga negara antara Indonesia, Tanzania, dan Jerman ini telah direncanakan, diimplementasikan, dan dievaluasi oleh program South-South Triangular Cooperation (SSTC) Technical and Vocational Educational Training (TVET). Pembiayaan program dilakukan secara co-sharing dari pihak-pihak yang terlibat.

“Adapun tujuan dari kerja sama tiga negara ini adalah transfer pengetahuan dan keahlian terkait industri kulit agar sumber daya manusia industri kulit Tanzania lebih kompeten,” jelasnya.

Sebagai informasi, Tanzania merupakan negara kedua di Afrika yang memiliki populasi hewan ternak terbanyak setelah Ethiopia. Industri kulit memiliki potensi besar karena banyaknya kulit yang tersedia dari populasi hewan ternak yang tinggi tersebut. Akan tetapi, SDM kompeten di industri kulit masih menjadi tantangan tersendiri bagi Tanzania.