KKP Terus Dorong Rumput Laut Menjadi Komoditas Unggulan Ekspor di Pasar Dunia

0
75

(Vibizmedia – Jakarta) Produktivitas budidaya rumput laut atau emas hijau terus digalakkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai komoditas unggulan ekspor produk perikanan Indonesia di pasar dunia. Rumput laut atau emas hijau ini memiliki potensi pasar yang sangat besar di luar negeri sebagai bahan pangan hingga bahan baku pembuatan kosmetik maupun produk farmasi.

Asisten Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Media dan Komunikasi Publik Doni Ismanto memaparkan bahwa pengembangan budidaya rumput laut termasuk dalam program Ekonomi Biru KKP karena potensinya  sangat besar di Indonesia. Potensi tersebut di antaranya ditunjukkan dengan ketersediaan lahan marikultur seluas 12,3 juta hektare dan yang dimanfaatkan baru mencapai 102 ribu hektare atau 0,8 persen.

Doni Ismanto dalam Talkshow Bincang Bahari mengupas “Peluang Investasi Usaha Rumput Laut” yang digelar hybrid dari Media Center KKP di Jakarta, Selasa (25/10/2022) menyatakan, rumput laut ini bisa dikatakan emas hijau dari laut. Indonesia memiliki summer dayanya, itu sebabnya jangan sampai kita kehilangan kesempatan.  Itu sebabnya dari lima program ekonomi biru KKP, salah satunya pengembangan budidaya berkelanjutan. Salah satu komoditas yang didorong adalah rumput laut. Tetanie tantangannya adalah, meski secara volume cukup besar tetapi masih dalam bentuk mentah dan belum menjadi olahan yang memiliki nilai lebih.

Indonesia saat ini menempati posisi kedua sebagai produsen rumput laut terbesar di dunia di bawah China dengan produksi mencapai 9,1 juta ton berdasarkan data tahun 2021. Indonesia paling banyak memasok bahan baku rumput laut khusus untuk jenis Euchema cottoni.

Direktur Perbenihan Ditjen Perikanan Budidaya KKP Nono Hartanto menambahkan, strategi peningkatan produktivitas rumput laut dilakukan KKP di berbagai lini. Di bagian hulu misalnya, pihaknya mengembangkan bibit rumput laut unggul berbasis sistem kultur jaringan yang terbukti lebih cepat berkembang dan tahan serangan hama dibanding bibit biasa.

Selain itu, KKP memiliki program kampung perikanan budidaya dan menetapkan kluster budidaya rumput laut agar ada kepastian tata ruang bagi para pembudidaya. Ada juga program bantuan pinjaman permodalan usaha bagi para pembudidaya kelas kecil, menengah, hingga besar.

Nono menjelaskan, KKP memiliki  6 UPT yang memiliki lab kultur jaringan untuk bisa memproduksi bibit rumput laut unggul. KKP mentargetkan produksi plantlet UPT meningkat dan akan dikembangkan di kebun bibit, untuk selanjutnya didistribusi ke kebun bibit milik pemerintah daerah maupun swasta. Ini langkah dari sisi hulu yang diharapkan bisa menjawab kebutuhan bahan baku industri rumput laut di Indonesia.

Di sisi lain, KKP gencar mempromosikan peluang investasi usaha rumput laut di dalam negeri untuk meningkatkan variasi produk yang akan dipasarkan. Selama ini produk yang paling banyak diekspor adalah bahan mentah, bukan olahan yang nilai jualnya jauh lebih tinggi.

Dalam waktu dekat, KKP berkolaborasi dengan BKPM, Bank Dunia dan pihak lainnya menggelar Seaweed Investment Forum & Festival di Surabaya pada awal November 2022. Forum ini bertujuan memperkuat produksi rumput laut dalam negeri, branding, hingga memperluas akses pasar bagi para pelaku usaha di pasar global.

Direktur Usaha dan Investasi Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Catur Sarwanto yang juga menjadi narasumber dalam talkshow Bincang Bahari menjelaskan, hal ini adalah wujud penegasan kembali komitmen KKP dalam pembangunan blue economy melalui promosi komoditas champion salah satunya rumput laut. Acara ini akan membangun komunikasi antara para stakeholder, karena investasi di rumput laut ini saling terkait antara hulu dan hilir.

Tingginya potensi pasar produk rumput laut di pasar global juga  disampaikan Asisten Deputi Pengembangan Perikanan Budidaya Kemenko Marves Rahmat Mulianda. Bahkan rumput laut menjadi komoditas penting seiring adanya peralihan pertumbuhan ekonomi dari yang tadinya berbasis daratan ke ekonomi kelautan.

Bahkan saat ini rumput laut tidak hanya sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, farmasi maupun kosmetik, tapi juga berkaitan dengan perdagangan karbon karena kemampuannya menyerap karbondioksida di atmosfer yang menjadi pemicu perubahan iklim.

Rahmat Mulianda menyatakan, yang dibicarakan tidak hanya sekedar seaweed, tapi lebih luas lagi bagaimana blue economy, blue development, blue carbon itu semua ada di seaweed. Ia berpendapat bahwa harus menjadikan seaweed  concern kita, karena ini adalah seperti  emas yang harus dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan dan sumber devisa kita.

Direktut Perencanaan Sumberdaya Alam Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Ratih Purbasari Kania menambahkan, langkah-langkah yang dilakukan pihaknya untuk mendorong peningkatan investasi di bidang perikanan termasuk di dalamnya bidang rumput laut. Dukungan yang ditawarkan di antaranya fasilitas perjakan berupa Tax Allowance (TA), serta Super Tax Deduction untuk Litban dan Penyelenggaraan Vokasi.

Ratih menjelaskan,  dalam mengakselerasi investasi pada komoditas rumput laut, pihaknya juga menyusun dan mengimplementasikan kebijakan investasi yang terfokus dan berkelanjutan. Lalu meningkatkan koordinasi promosi investasi, melaksankan target promosi, serta memperkuat peran dalam memfasilitasi minta investasi. Untuk promosi investasi pihaknya melakukan pemetaan negara target. Untuk sektor perikanan ada Kanada, Jepang dan Selandia Baru.

Kepala Bidang Komunikasi dan Humas Asosiasi Rumput Laut Indonesia Indra Santoso menyambut baik langkah KKP meningkatkan produktivitas rumput laut nasional dengan menyiapkan program-program yang dapat memperkuat produksi rumput laut di hulu maupun di sektor hilir.

Diakuinya, rumput laut merupakan komoditas perikanan yang terbukti mampu bertahan pada masa pandemi Covid-19 yang mengakibatkan terganggungnya pergerakan ekonomi dunia. Bahkan menurutnya, pengembangkan rumput laut mampu menghadirkan kedaulatan ekonomi di wilayah-wilayah perbatasan.

Indra Santoso menyatakan,  peluang ini masih terbuka sangat lebar, dan prospeknya sangat menjanjikan. Selain itu banyak aspek yang bisa dilihat dari budidaya rumput laut ini. Di daerah perbatasan rumput laut tumbuh subur dan rupiah bisa berdaulat di daerah perbatasan dengan negara lain. Hal ini tentunya akan memperkuat perekonomian yang pada akhirnya memperkuat kesatuan NKRI.

Sementara itu Purchasing Manager PT Ocean Carrageenan Indonesia Rakhmadin Endra Saputra mengakui tingginya minat pasar terhadap produk turunan rumput laut. Perusahaan yang berbasis di Mojokerto ini mengolah rumput laut menjadi produk Alkali Treatment Cattonii (ATC), Semi Refined Carrageenan (SRC), dan Refined Carrageenan (RC).

Dia berharap, dengan masuknya komoditas rumput laut dalam program ekonomi biru KKP, kendala-kendala yang dihadapi pelaku usaha dapat segera diurai agar produktivitas bisa lebih ditingkatkan.

“Tentu kami memerlukan dukungan pemerintah. Beberapa kendala yang kami hadapi di antaranya harga dan kualitas bahan baku yang tidak stabil, termasuk ancaman hama yang menyebabkan gagal panen,” paparnya.

Baca juga:

Pengembangan Budi Daya Rumput Laut Disiapkan Jadi Komoditas Unggulan Ekspor