Memegang Presidensi G20, Nilai-Nilai Pancasila Perlu Ditonjolkan Indonesia di KTT G20

0
81
Antropolog asal Prancis, Jean Couteau (Foto: Kominfo)

(Vibizmedia – Bali)  Sebagai pemegang tampuk presidensi G20 maka Indonesia bisa memberikan manfaat dan poin lebih karena berhak menentukan tema dan agenda konferensi. Untuk itu Indonesia juga perlu menonjolkan kelebihan nilai-nilai yang dimiliki, terutama nilai yang terkandung di dalam dasar negara Pancasila.

Antropolog asal Prancis, Jean Couteau, saat ditemui Tim  Komunikasi dan Media G20, di Bali, Sabtu (6/11/2022) menyatakan,  Indonesia ada dalam posisi ideal untuk memainkan perannya dalam tataran global.

Beberapa indikator yang dimiliki Indonesia sehingga layak untuk memimpin, kata Couteau, antara lain adalah pertumbuhan ekonomi yang signifikan, nyaris tidak adanya kekerasan politik dibanding negara lain, hingga hubungan antar agama yang harmonis.

Couteau yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menambahkan, hal-hal itu bisa ditawarkan sebagai model ko-eksistensi (kehidupbersamaan) dalam tataran global. Di Indonesia praktiknya lebih menonjolkan nilai kebersamaan daripada perbedaan. Semuanya terkandung di Pancasila, rumus yang bersifat lintas bangsa.

Couteau menilai bahwa Indonesia sukses mencegah dan menangani kekerasan-kekerasan yang berbau identitas, terutama agama dan etnis. Hal itu membuat Indonesia luput dari kristalisasi agama dan paham nasionalisme sempit yang menjadi akar konflik di berbagai negara.

Pria kelahiran Clisson, Prancis tersebut menjelaskan, politik dan nilai-nilai identitas di Indonesia bisa dikatakan moderat. Bahkan cara mengelola kompleksitas keindonesiaan cukup baik dan berhasil.

Lebih lanjut Couteau mendorong pemerintah Indonesia untuk lebih berani memperlihatkan jati diri dan berperan di level global agar dunia bisa mengambil nilai-nilai baiknya. Apalagi Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga, dengan jumlah penduduk yang besar, juga punya keberagaman etnis.

“Seharusnya Indonesia bisa menjadi panutan dunia,” kata pria yang sudah puluhan tahun menetap dan banyak menulis buku soal Bali itu.

Koordinator Staf Khusus Presiden (SKP) Ari Dwipayana menambahkan bahwa dalam konstelasi global, yang dibutuhkan adalah peran para pemimpin dunia untuk menekan ego untuk bersama mengatasi resesi dunia.  Presidensi G20 menjadikan Indonesia terdepan untuk menyelesaikannya.

Namun posisi presidensi ini diwarnai dan dilingkupi oleh situasi dunia yang kurang menguntungkan. Antara lain situasi global yang fluktuatif pasca pandemi, gangguan geopolitik, resesi ekonomi, bahkan termasuk perang Rusia dan Ukraina. Ari menegaskan butuhnya respon yang dinamis untuk semua masalah itu.

Pelaksanaan KTT G20 di Bali, lanjut Ari, diharapkan bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dunia. Ari mengajak seluruh masyarakat, terutama masyarakat Bali untuk mendukung dan menyukseskan penyelenggaraan KTT G20 pada 15-16 November 2022 ini.

Ia menegaskan bahwa G20 adalah negara-negara ekonomi terkuat di dunia dan punya pengaruh mengatasi semua permasalahan duniai.

KTT G20 di Nusa Dua, Bali mengangkat tema Recover Together, Recover Stronger. G20  merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Tiga isu utama yang diangkat Indonesia untuk KTT 2022 ini adalah energi terbarukan, kesehatan dan dunia digital.