Tinjau Pabrik Pengolahan Produk Siap Ekspor, Wapres Harapkan ‘One Village One Industry’ Diikuti Daerah Lain

0
11
Wapres melakukan peninjauan pabrik Khatulistiwa Global Food (KGF), yang berlokasi di Jl. Budi Utomo, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (22/11/2022). (Foto: BPMI Setwapres)

(Vibizmedia – Pontianak) Selepas meresmikan Pembukaan Silaturahmi Bisnis ke-14 Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI), Wapres melakukan peninjauan pabrik Khatulistiwa Global Food (KGF), yang berlokasi di Jl. Budi Utomo, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (23/11/2022).

Tiba di lokasi, Wapres disambut oleh CEO PT. Pachira Group Mukhlis Bahrainy. Ia menjelaskan bahwa pabrik ini memiliki konsep ‘One Village One Industry’ (OVOI), yaitu satu daerah menghasilkan industri yang sudah diolah dengan inovasi agar memiliki nilai tambah.

Selanjutnya, Mukhlis memaparkan, proses pengolahan produk yang akan diekspor sangat panjang, namun sebelumnya sudah diproduksi oleh UMKM lokal. Industri plasma berada di perkampungan, sementara industri inti di pabrik KGF.

“Rangkaian [proses pengolahan produk] begitu banyak, sepertiganya di kerjakan oleh UMKM, distandarisasi di sini, lalu [produk] yang sudah standars diekspor, terutama diekspor ke Turki,” paparnya.

Menurut Mukhlis, dinamakan Khatulistiwa Global Food, karena produk-produk yang sudah memenuhi standar dikirim ke negara-negara non-tropis, seperti Turki.

“Nanas, langsat, cempedak, rambutan, pepaya, ini potensi yang cukup besar di Kalimantan Barat,” ungkapnya.

Agar buah-buahan tersebut memiliki nilai jual, Mukhlis menambahkan, maka diolah dalam kemasan yang tahan lama. Nanas misalnya, dapat diolah sebagai bahan pelengkap koktail (buah-buahan campur) yang ditambah dengan sirup dan dikemas dalam kaleng. Agar tahan lama, maka produk-produk yang akan diekspor disterilkan terlebih dahulu.

“Sehingga target ISMI nanti, semua daerah harus ada industrinya. Agar petani yang menghasilkan buah dan sayuran itu memiliki nilai tambah,” kata Mukhlis optimis.

Usai mendapatkan penjelasan, Wapres pun menegaskan bahwa program-program ISMI yang mendukung UMKM perlu didukung. Bahkan, model OVOI harus diikuti daerah-daerah lain.

“Saya kira mesti [konsep OVOI ini] diperbayak. Kita kan tahu daerah-daerah yang banyak menghasilkan seperti ini. Saya kira kalau itu bisa [dicontoh daerah lain], bisa [banyak] menampung [hasil] perkebunan masyarakat,” pesan Wapres.

Hadir mendampingi Wapres dalam peninjauan tersebut, Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat ISMI Ilham Akbar Habibie, Kepala Sekretariat Wapres, Ahmad Erani Yustika, Staf Khusus Wapres Mohamad Nasir, Masduki Baidlowi, Imam dan Robikin Emhas, serta Tim Ahli Wapres Johan Tedja Surya dan Farhat Brachma.