KAI: Survive di Masa Pandemi, Melaju di 2023-2024

Kinerja KAI 2022, dari Rugi Jadi Laba

0
816
KAI
Kereta Api Indonesia (Foto: PT KAI)

Kinerja KAI 2022, dari Rugi Jadi Laba

Dari seluruh BUMN di Indonesia, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI adalah salah satu yang mencatatkan perbaikan kinerja di tahun 2022. Pencapaian yang baik dibuktikan dengan membukukan laba bersih pada Semester I tahun 2022. Laba bersih yang dihasilkan KAI pada Semester I 2022 sebesar Rp740 miliar, atau tumbuh 254% dibanding Semester I 2021 yaitu Rp480 miliar.

Khusus untuk KAI Logistik, terjadi peningkatan kinerja angkutan barang KAI pada Semester I 2022. KAI mengangkut sebanyak 26,7 juta ton barang, angka ini naik 15% dibanding Semester I 2021 dimana KAI mengangkut sebanyak 23,2 juta ton barang.

Peningkatan kinerja angkutan barang KAI pada Semester I 2022 didominasi oleh angkutan batu bara sebesar 20,6 juta. Selain itu, peningkatan juga terjadi pada komoditi barang retail. Pada Semester I 2022, KAI mengangkut sebanyak 85.231 ton barang naik 29% dibandingkan Semester I 2021 dimana KAI mengangkut 65.900 ton barang. Secara umum berbagai komoditas yang KAI angkut seperti peti kemas, semen, BBM, CPO, Pulp, dan lainnya mengalami peningkatan volume angkutan.

Tidak hanya itu, KAI mencatat volume pelanggan kereta api naik pada Semester I 2022. Volume pelanggan pada Semester I 2022 didominasi oleh pelanggan KRL di wilayah Jabodetabek dimana jumlahnya mencapai 89,9 juta pelanggan. Kenaikan ini ditunjang oleh meredanya pandemi Covid-19, tingkat vaksinasi yang semakin membaik, dan relaksasi persyaratan perjalanan di awal tahun 2022.

Pada periode Semester I 2022 KAI kembali terdongkrak kinerjanya dengan menyelenggarakan Angkutan Lebaran, setelah 2 tahun vakum akibat kasus pandemi Covid-19. Volume pelanggan Angkutan Lebaran 2022 mencapai 4,39 juta pelanggan yang diselenggarakan selama 22 hari. Pencapaian tersebut telah mendekati pencapaian Angkutan Lebaran di tahun 2019 sebanyak 6,84 juta pelanggan.

Menghadapi wabah Covid-19, KAI terus melakukan berbagai langkah agar pelanggan dan pegawai KAI terhindar dari paparan virus tersebut. Sosialisasi dilakukan dengan gencar di seluruh stasiun di Indonesia.

KAI juga secara disiplin menerapkan protokol kesehatan mengacu kepada peraturan pemerintah seperti pemeriksaan suhu badan, wajib memakai masker, penyediaan fasilitas cuci tangan, dan pembatasan kapasitas penumpang. KAI menyediakan 25 Sentra Vaksinasi di beberapa lokasi stasiun di Jawa dan Sumatera.

Atas upaya-upaya seperti ini KAI berhasil meraih penghargaan Heroes of The Transportation Industry in The Pandemic Era.

KAI Berkomitmen Selesaikan Proyek KCJB dengan GCG

Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) yang merupakan proyek bergengsi PT KAI telah rampung dan telah sukses diujicobakan, dengan disaksikan oleh Presiden RI Joko Widodo serta Presiden China Xi Jinping secara virtual pada Rabu (16/11).

Proyek KCJB merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang tercantum pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat antara Jakarta dan Bandung.

Terkait penyelenggaraan KCJB ini KAI ditugaskan oleh pemerintah sebagai pemimpin konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menjadi partner dari Beijing Yawan HSR Co Ltd di dalam PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

KAI
PT KAI: Suasana Pelepasan Uji Dinamis Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) di Stasiun Tegalluar, Rabu (16 Nov 22) Foto: PT KAI)

Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo sebagai komandan proyek KCBI ini memengajak seluruh stakeholder Indonesia dan China bersama-sama menyukseskan proyek ini, tentunya dengan tetap menerapkan Good Corporate Governance (GCG). Saat ini proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung sedang dalam periode kritikal karena telah memasuki tahap penyelesaian.

Target proyek KCJB sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah kedua belah negara yakni selesai pada akhir 2022. Saat ini sedang dilakukan percepatan pembangunan di seluruh titik pembangunan.

Permasalahan dan Kendala

PT Kereta Api Indonesia (persero) atau KAI menghadapi tantangan dana dan materiil dalam kaitannya dengan perawatan sarana dan prasarana. Terutama dengan masih adanya backlog antara biaya pendanaan yang diberikan oleh pemerintah lewat dana Infrastructure Maintenance Operation (IMO) masih belum menutup biaya perawatan yang harus dikeluarkan oleh KAI saat ini.

Selama ini, KAI ditugaskan oleh Pemerintah untuk merawat prasarananya melalui IMO. Keselamatan perjalanan KA sangat bergantung dari biaya IMO yang diserahkan oleh pemerintah kepada PT KAI.

Arah Kebijakan dan Strategi Hingga 2024

Berdasarkan Rencana Jangka Panjang atau RJP 2020-2024 PT KAI, BUMN ini cukup optimis menargetkan Compounded Annual Growth Rate (CAGR) atau tingkat pertumbuhan per tahun selama rentang periode waktu tertentu. CAGR ini diproyeksikan akan menghasilkan prosentase pendapatan sebagai berikut:

Proyeksi pendapatan KAI 2020-2024:
           Moda   % Pendapatan
 2020       2024
Angkutan penumpang 57%     53%
Angkutan barang 34%     35%
Non Rail   5%       9%
Lainnya   4%       3%

 

Berikut adalah target-target utama komersial PT KAI hingga tahun 2024, dari sisi pendapatan, laba bersih dan total asset.

Sumber: PT KAI

Sedangkan dari sisi volume penumpang dan volume barang, targetnya sebagai berikut:

Sumber: PT KAI

Untuk peningkatan pelayanan, ditargetkan Customer Service Index (CSI) meningkat 0.5 dari skala 4 ke skala 4.5 pada 2024.

Dari sisi ketepatan waktu kedatangan, KAI menargetkan 89% ketepatan waktu akan dinikmati oleh pelanggan. Selain peningkatan layanan dari service level ketepatan waktu kedatangan, KAI juga siap menambah jumlah sarana hingga 2024 sebagai berikut:

Sumber: PT KAI

Transformasi KAI di tahun 2023

Memasuki tahun 2023, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menggunakan teknologi pemindaian wajah atau face recognition boarding gate.

KAI telah mengujicobakan fasilitas face recognition boarding gate di Stasiun Bandung dalam rangka memastikan dan menyempurnakan layanan inovatif terbaru ini. Ditargetkan pada awal tahun 2023, layanan ini sudah bisa diterapkan di seluruh stasiun KA Jarak Jauh di berbagai daerah.

KAI memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atau Solar Panel yang dipasang di stasiun dan kantor KAI. Pemasangan Solar Panel ini merupakan upaya transisi energi yang dilakukan KAI dengan menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk suplai energi listrik di berbagai aset KAI.

Dalam salah satu kesempatan interview Vibizmedia dengan Dirut KAI Didiek Hartantyo, disampaikan bahwa KAI akan terus melakukan inovasi-inovasi sebagai bentuk peningkatan kualitas layanan yang lebih baik kepada pelanggan. Untuk tahun 2020 beberapa inovasi yang telah dilakukan antara lain bagi pelanggan kereta penumpang yaitu  penyediaan fasilitas Wifi gratis di kereta, layanan Live Cooking di kereta makan, serta layanan First Mile & Last Mile. Layanan ini akan terus dikembangkan di tahun mendatang.

Untuk pengembangan angkutan barang, KAI akan bekerjasama dengan PT Bio Farma, PT Pupuk Indonesia dan PT Semen Indonesia, untuk pengoperasian kembali kereta api jalur Sawahlunto – Muaro Kalaban di Sumatra Barat. Rencananya proyek ini akan diselesaikan di tahun 2023.

Mencermati keberhasilan PT KAI yang tidak lepas dari kontribusi awal Dirut PT KAI periode 2009-2014, Ignasius Jonan. Di mana Ignasius berhasil mengubah wajah kereta dari kumuh menjadi lebih modern. Tranformasi fenomenal itu diawali dengan memperbaiki toilet di semua stasiun.

Kini PT KAI makin yakin menapaki dan memasuki tahun 2023 dengan bermodalkan keberhasilan yang diperoleh hingg semester II 2022 ini.

Menurut saya KAI sudah berbuat yang terbaik di tahun 2022, sebab bukanlah mudah untuk menciptakan keuntungan di tengah kondisi pandemi saat ini. Prestasi KAI tahun 2022 merupakan kerja keras mewujudkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.

Tahun 2023 akan berjalan sesuai roadmap yang disusun oleh KAI sendiri, sekalipun demikian KAI tetap perlu melihat sangat besarnya kebutuhan masyarakat akan transportasi kereta. Setiap kali masih terlihat pemandangan yang penuh sesak ketika naik kereta KRL misalnya. Hal ini adalah tantangan yang harus diselesaikan, dan bisa jadi sifatnya struktural. Belum lagi transformasi internal KAI sendiri yang merupakan tantangan tersendiri untuk tahun 2023.