Perusahaan Pertanian Jawa Barat Tahun 2022

0
122
Perusahaan Pertanian
(Photo: Kementerian Pertanian)

(Vibizmedia-Kolom) Perusahaan Pertanian berbadan hukum adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha di sektor pertanian yang bersifat tetap, terus menerus, yang didirikan dengan tujuan memperoleh laba yang pendirian perusahaan dilindungi hukum atau ijin dari instansi yang berwenang minimal pada tingkat kabupaten/kota, untuk setiap tahapan budidaya pertanian seperti pemupukan, pemeliharaan, dan pemanenan. Berdasarkan jenis usaha, perusahaan pertanian yang dicakup meliputi: 1. Perusahaan Padi/Palawija 2. Perusahaan Hortikultura 3. Perusahaan Perkebunan 4. Perusahaan Kehutanan 5. Perusahaan Perikanan 6. Perusahaan Peternakan 7. Perusahaan Jasa Pertanian

Kegiatan yang dicakup adalah kegiatan budidaya tanaman hortikultura meliputi pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan. Usaha perdagangan hortikultura tidak dikategorikan sebagai usaha tanaman hortikultura. Kegiatan budidaya tanaman hias meliputi usaha pembesaran tanaman dan usaha pengembangbiakan tanaman. Tanaman buah dalam pot (tabulampot) adalah tanaman buah-buahan yang ditanam dalam pot yang fungsinya untuk keindahan dan termasuk dalam kelompok tanaman hias.

Usaha tanaman perkebunan adalah kegiatan perkebunan yang menghasilkan produk tanaman perkebunan dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ ditukar atas risiko usaha. Usaha perkebunan yang dicakup meliputi usaha perkebunan yang melakukan budidaya dari persiapan, pengolahan sampai panen.

Usaha peternakan adalah adalah kegiatan memelihara/menguasai/melakukan kegiatan peternakan dengan sebagian/seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar. Kegiatan Peternakan mencakup pengembangbiakan, penggemukan, pembibitan, pembesaran ternak betina (rearing), dan produksi daging/telur/susu/madu/kokon/liur. Ternak yang dicakup meliputi ternak besar; ternak kecil ;unggas, dan ternak/unggas lainnya.

Kegiatan perikanan meliputi kegiatan budidaya ikan dan penangkapan ikan. Kegiatan perikanan yang dimaksud baik budidaya ikan maupun penangkapan ikan adalah kegiatan perikanan yang dilakukan oleh perusahaan atau usaha pertanian lainnya sabagai kegiatan usaha yaitu kegiatan perikanan dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar atas risiko usaha.

Usaha Budidaya ikan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan dan atau membiakkan (pembenihan) ikan dengan menggunakan lahan, perairan dan fasilitas buatan serta memanen hasilnya dengan tujuan sebagian atau seluruhnya untuk dijual/ ditukar atas risiko usaha. Kegiatan pemeliharaan/budidaya ikan dapat dilakukan di laut, tambak air payau, kolam air tawar, sawah, dan perairan umum (danau/waduk, sungai, rawa, dsb.), juga termasuk budidaya khusus ikan hias.

Penangkapan ikan adalah kegiatan menangkap/mengumpulkan ikan/binatang air lainnya/tanaman air yang hidup di laut/perairan umum secara bebas dan bukan milik perseorangan. Usaha Penangkapan Ikan di Laut adalah suatu kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan di laut dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual untuk memperoleh pendapatan/keuntungan dengan menanggung risiko usaha (sebagai pengusaha/bukan sebagai buruh). Usaha Penangkapan Ikan di Perairan Umum adalah suatu kegiatan penangkapan ikan dilakukan di perairan umum (sungai, danau, waduk, rawa, dan lain-lain) dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual untuk memperoleh pendapatan/ keuntungan dengan menanggung risiko usaha (sebagai pengusaha/bukan sebagai buruh).

Usaha tanaman kehutanan adalah kegiatan kehutanan yang menghasilkan produk tanaman kehutanan (kayu, daun, getah, dan lain-lain) termasuk usaha pembibitan dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ditukar atas resiko usaha. Penangkaran tumbuhan/satwa liar adalah kegiatan kehutanan yang menghasilkan produk/melakukan pemeliharaan tumbuhan/satwa liar. Kelompok ini mencakup usaha penangkaran, pembesaran, penelitian untuk pelestarian tumbuhan/satwa liar, baik yang hidup di darat maupun yang di laut.

Pemungutan hasil hutan dan lainnya adalah kegiatan mengambil benda-benda hayati hutan,dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar atas risiko usaha. Jenis hasil hutan yang biasa dipungut, seperti: kayu bakar, kayu pertukangan, bambu, rotan, damar, jelutung, jamur, lumut, madu, sarang burung, telur, dan kotoran burung. Berburu adalah menangkap dan/atau membunuh satwa buru termasuk mengambil atau memindahkan telur-telur dan/atau sarang satwa buru.

Kondisi Perusahaan

BPS Jawa Barat melakukan survei pada perusahaan pertanian yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Kabupaten Sukabumi tercatat sebagai Kabupaten dengan jumlah perusahaan pertanian terbanyak, yaitu 141 perusahaan.

Berada di urutan kedua dan ketiga yaitu Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur dengan jumlah perusahaan pertanian berturutturut sebanyak 86 perusahaan dan 64 perusahaan. Kabupten/ Kota yang tidak terdapat perusahaan pertanian yaitu Kota Cimahi.

Dari 547 perusahaan pertanian hasil updating tahun 2022 terdapat sebanyak 518 perusahaan respon, 29 perusahaan kondisi tutup sementara dan tidak ada perusahaan tidak dapat diwawancarai sampai batas waktu pencacahan. Dari perusahaan yang respon sebesar 67,64 persen kondisi aktif, sebesar 0,18 persen belum berproduksi, dan sebesar 26,87 persen perusahaan baru. Perusahaan baru mencakup perusahaan pertanian yang baru mulai beroperasi pada tahun 2022 dan perusahaan yang sudah beroperasi pada tahun sebelumnya tetapi baru tercatat pada tahun 2022.

Dalam melakukan usaha di perusahaan diperlukan perizinan/pembinaan usaha berupa Surat Ijin Perusahaan Perdagangan (SIUP), Nomor Induk Berusaha (NIB) dan atau sertifikasi. Perusahaan yang respon sebanyak 91,70 persen (475 perusahaan) memiliki SIUP, sebanyak 64,09 persen (332 perusahaan) memiliki NIB dan sebanyak 82,63 persen (428 perusahaan) memiliki sertifikasi pelaksanaan kegiatan usaha.

Perusahaan yang dikumpulkan pada tahun 2022 merupakan perusahaan yang memiliki badan hukum. Hasil updating mencatat sebanyak 267 perusahaan (51,54 persen) memiliki bentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT), sebanyak 116 perusahaan (22,39 persen) dengan bentuk badan hukum PT Persero/Perum, dan sebanyak 108 perusahaan (20,85 persen) dengan bentuk badan hukum CV.

Sisanya sebesar 5,21 persen gabungan bentuk badan hukum dari Perusahaan Perseroan Daerah/Perusahaan Umum Daerah (Perumda), Naamloze Vennootschap (NV), Firma, Koperasi, Yayasan, dan Perwakilan Perusahaan /Lembaga Asing. Status perusahaan yang dicatat terdiri dari perusahaan sebagai perusahaan induk/ kantor pusat, perusahaan tunggal atau perusahaan cabang.

Terdapat sebanyak 107 perusahaan pertanian (20,66 persen) merupakan perusahaan induk/kantor pusat,dan sebanyak 411 perusahaan (79,34 persen) merupakan perusahaan tunggal atau cabang.

Perusahaan yang merupakan perusahaan tunggal atau cabang, dilakukan identifikasi lebih lengkap terkait jenis usaha pertanian/komoditas pertanian yang diusahakan.

Keragaman komoditas di Indonesia memungkinkan bagi perusahaan untuk melakukan kegiatan usaha lebih dari satu jenis usaha baik dari jenis komoditas maupun jenis jasa pertanian yang dilakukan.

Dari total perusahan tunggal dan cabang yang respon sebanyak 411 perusahaan, sebanyak 122 perusahaan melakukan kegiatan di subsektor perkebunan, sebanyak 206 perusahaan melakukan kegiatan usaha di subsektor peternakan, sebanyak 25 perusahaan melakukan kegiatan di subsektor perikanan, sebanyak 32 perusahaan melakukan kegiatan usaha kehutanan, sebanyak 49 perusahaan melakukan kegiatan di subsektor hortikultura, sebanyak 5 perusahaan melakukan kegiatan di subsektor tanaman pangan dan sisanya 6 perusahaan melakukan kegiatan jasa pertanian. Perusahaan perkebunan dan peternakan terbanyak ada di Kabupaten Sukabumi.

Subsektor perikanan , hortikultura dan tanaman pangan serta kegiatan jasa pertanian terkonsentrasi di Pulau Jawa, Perbandingan jumlah perusahaan tunggal dan cabang antara hasil persiapan.

Secara keseluruhan terjadi peningkatan jumlah perusahaan yang melakukan usaha di subsektor perikanan dan hortikultura, tetapi terjadi penurunan pada subsektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan kehutanan. Peningkatan dalam persentase secara berturut-turut dari yang terbesar adalah perikanan (92,31 persen) dan hortikultura, sementara penurunan dalam persentase secara berturut-turut tanaman pangan (62,00 persen), perkebunan (20,79 persen), kehutanan (18,00 persen) dan peternakan ( 4,19 persen).