Pertamina International Shipping Utarakan Empat Strategi Mengurangi Emisi

0
187
Armada milik Pertamina International Shipping (PIS). (Foto: PIS)

(Vibizmedia – Dubai) Komitmen PT Pertamina International Shipping (PIS) adalah mendorong pelayaran ramah lingkungan untuk ekonomi biru (blue economy). Untuk itu PIS memaparkan sejumlah strategi mengurangi emisi di acara Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2023 atau Conference of the Parties (COP) 28 di Dubai, Uni Emirat Arab.

Direktur Utama PIS Yoki Firnandi, menyatakan pada Sabtu (3/12/2023), pihaknya sudah bisa mengurangi 9 persen emisi yang dihasilkan di 2022, sebesar 1,9 megaton CO2eq.

Pada diskusi bertema “Ocean High Level Panel: Embodiment of Blue Economy Through a Sustainable Use of Coastal and Marine Resources to Save the Ocean Environment” di Paviliun Indonesia – COP 28, Yoki menjelaskan empat strategi dalam mengurangi emisi.

Pertama, desain kapal ramah lingkungan.
Saat ini, PIS memiliki 19 kapal ramah lingkungan dan tiga kapal yang memenuhi standar emisi International Maritime Organization (IMO) tier tiga.

Strategi kedua adalah peremajaan armada sesuai ketentuan The International Convention for the Prevention of Pollution from Ships (MARPOL) dan Peraturan Menteri Perhubungan No. 29 Tahun 2014 tentang Penghentian Operasi Kapal Lambung.

Ketiga, pengurangan bahan bakar melalui pembersihan lambung (menghasilkan efisiensi 4%), pengoptimalan kecepatan operasi kapal (efisiensi 22%), serta penyertaan alat penyimpan energi (efisiensi 2%).

Keempat, intensitas emisi yang lebih rendah. Salah satunya pada kapal very large gas carrier (VLGC) Pertamina Gas Amarylis.

Selain itu, Yoki menjelaskan bahwa PIS akan menggunakan campuran nabati pada bahan bakarnya.

Yoki menyatakan, pihaknya akan memakai 60 persen dari bensin dan sisanya dari biofuel. Tak hanya itu, PIS juga akan mengembangkan amonia dan hidrogen. Yoki turut menekankan pentingnya pengembangan teknologi untuk mewujudkan semua inovasi tersebut.

PIS memiliki tiga tahapan pengurangan emisi.
Pertama, tahap jangka pendek tahun 2022─2025 yang strateginya adalah pembatasan kecepatan operasi kapal.
Lalu, strategi jangka menengah tahun 2026─2030 dengan penggantian bahan bakar dan pengoperasian kapal ramah lingkungan. Terakhir, strategi jangka panjang pada 2030─2060.

PIS menargetkan pengurangan emisi sebesar 20 ribu tCO2eq dengan menggunakan sumber energi lainnya, seperti hidrogen dan amonia hijau.

Yoki menegaskan, pihaknya menyadari bahwa tren ke depan harus ada pengurangan emisi dari sektor pelayaran dan kelautan, sehingga sudah memiliki peta jalan menuju NZE 2060.

Senada dengan perencanaan PIS tersebut, tingkat nasional, pemerintah pun sudah menyiapkan peta jalan ekonomi biru.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Vivi Yulaswati mengatakan, sektor maritim memiliki peran utama dalam pengembangan ekonomi biru.

Vivi menjelaskan, pihaknya sudah mengembangkan rencana aksi ekonomi biru dan indeks ekonomi biru untuk memantau perkembangannya. Ia menambahkan, lembaganya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendorong pengembangan ekonomi biru di berbagai daerah, salah satunya dengan Pertamina Group. Pemerintah juga bekerja sama dengan dunia internasional untuk mengembangkan ekonomi biru.

Head of Ocean Action Agenda World Economic Forum Alfredo Giron Nava mengatakan, pihaknya telah bersepakat dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi untuk melaksanakan agenda Kemitraan Aksi Karbon Biru Nasional atau National Blue Carbon Action Partnership (NBCAP).

Kemitraan ini diharapkan dapat membantu pemulihan ekosistem karbon biru di Indonesia.

Terlebih, ekosistem laut dan pesisir Indonesia memiliki sumber daya yang kaya, yang dapat memberikan efek nyata bagi kelestarian lingkungan dunia.

Nada menjelaskan, sinergi antara pemerintah dan forum internasional ini juga perlu didukung oleh sektor swasta dan masyarakat pesisir.

Sesi diskusi ini turut dihadiri oleh Senior Vice President & Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany dan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Victor Gustaaf Manopo.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s).

Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.