Langkah Makro Pemerintah Menuju Penguatan Ekonomi Indonesia

0
248
Menko Airlangga (Foto: Humas Ekon)

(Vibizmedia – Cirebon, Jawa Barat) Indonesia dinilai mampu menghadapi ketidakstabilan kondisi geopolitik dan ekonomi global saat ini dan memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat.

Perekonomian Indonesia tumbuh positif 4,94% (yoy) atau 5,05% (ctc) pada kuartal ketiga 2023 dengan tingkat inflasi yang masih terkendali dalam kisaran sasaran 3,0±1% yakni sebesar 2,61% (yoy) pada Desember 2023.

Neraca perdagangan Indonesia juga kembali mencatatkan surplus pada bulan Desember 2023 dengan nilai yang mencapai USD3,31 miliar. Angka tersebut kembali melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020 atau telah berlangsung selama 44 bulan berturut-turut. Bahkan untuk pertama kalinya sejak tahun 2008 tercipta surplus dengan Tiongkok yakni sebesar USD2,06 miliar pada 2023.

Dalam acara Investor Daily Round Table yang bertema “Tantangan Ekonomi di Tahun Politik” di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (24/1/2024), Menko Airlangga juga mengatakan bahwa kinerja ekspor sepanjang tahun 2023 mampu mencetak USD258,82 miliar dan masih lebih tinggi dari nilai impor yang sebesar USD221,89 miliar.

Menko Airlangga menjelaskan, sebetulnya langkah-langkah makro yang dilakukan oleh Pemerintah  Indonesia sudah berada dalam track yang benar. Demikian pula mengenai pendapatan per kapita kita, pasca Covid-19 ini Indonesia kembali masuk di upper middle income country. Tidak banyak negara masuk di upper middle income country secara konsisten. Dan diperkirakan di tahun 2024, income per kapita Indonesia bisa menembus di angka USD5.300 sampai dengan USD 5.400.

Lebih lanjut, Menko Airlangga juga menyinggung pembangunan proyek jangka panjang Giant Sea Wall (GSW) yang bertujuan menjaga keberlangsungan Pulau Jawa sebagai salah satu mesin utama ekonomi nasional. Perlindungan pesisir pulau Jawa akan meningkatkan resiliensi baik secara ekonomi maupun keamanan.

Menko Airlangga menyatakan, jika melihat ke depan maka ada banyak Proyek Strategis Nasional, tetapi koridor utara Jawa menjadi koridor yang seharusnya tidak ada gangguan. Untuk itu perlu menekan logistic cost lebih rendah dari 20%. Sehingga salah satunya ada Pelabuhan Patimban, selain Tanjung Priok, Tanjung Emas dan Tanjung Perak. Pelabuhan Patimban punya potensi untuk sangat membantu di kawasan utara bagian barat. Terutama untuk industri otomotif dan manufaktur. Dibuktikan bahwa tahun lalu dalam waktu singkat kapasitas untuk ekspor otomotif yang disiapkan sekitar 218 ribu, langsung 100%. Itu membuktikan gerakan ekonomi utara yang luar biasa.

Dalam acara yang dihadiri langsung oleh sekitar 350 orang dan juga ditonton paling tidak oleh sekitar 50.000 orang secara live tersebut, Menko Airlangga menerangkan sejumlah kebijakan strategis Pemerintah dalam mendukung penguatan ekonomi Indonesia seperti Program Bantuan Pangan yang turut menjaga daya beli dan level inflasi nasional, pemberdayaan UMKM melalui program KUR, penguatan daya saing dan nilai tambah industri melalui hilirisasi, mendorong ekspor dan menjaga resiliensi sektor eksternal, peningkatan produktivitas SDM, pemerataan pembangunan dan konektivitas, peningkatan kerja sama internasional, serta kemudahan berusaha dan peningkatan investasi.

Menko juga menjelaskan, beberapa negara pengungkit seperti Amerika Serikat sudah mulai bisa menangani inflasinya dan pertumbuhannya juga sudah bisa kelihatan. Demikian pula dengan China. Indonesia berada di region Indo-Pasifik, diharapkan menjadi wilayah yang sangat dinamis karena pertumbuhan ekonomi dunia ini berbasis pada Indo-Pasifik.