{"id":391658,"date":"2024-09-08T23:10:53","date_gmt":"2024-09-08T16:10:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?p=391658"},"modified":"2024-09-09T01:53:37","modified_gmt":"2024-09-08T18:53:37","slug":"menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/","title":{"rendered":"Menyoroti Tingkat Pengangguran Indonesia, Belajar dari Keberhasilan Negara Tetangga"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">(Vibizmedia &#8211; Kolom) <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan catatan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dalam lima tahun terakhir, tingkat pengangguran di Indonesia menunjukkan variasi yang signifikan, dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Trend Penurunan pada Tingkat Pengangguran Indonesia Selama 5 Tahun Terakhir<\/b><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/datapengangguranIndonesia.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-391659\" src=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/datapengangguranIndonesia.jpg\" alt=\"\" width=\"833\" height=\"430\" srcset=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/datapengangguranIndonesia.jpg 833w, https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/datapengangguranIndonesia-300x155.jpg 300w, https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/datapengangguranIndonesia-768x396.jpg 768w, https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/datapengangguranIndonesia-696x359.jpg 696w, https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/datapengangguranIndonesia-814x420.jpg 814w\" sizes=\"(max-width: 833px) 100vw, 833px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">BPS mencatatkan bahwa pada tahun 2019, tingkat pengangguran berada pada angka 6,82 persen.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, pada tahun 2020, tingkat pengangguran sedikit meningkat menjadi 6,93 persen, terutama disebabkan oleh dampak awal pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada awal tahun tersebut, menyebabkan banyak sektor industri terdampak, terutama pariwisata dan manufaktur.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2021 mencatat lonjakan tingkat pengangguran yang cukup signifikan menjadi 8,75 persen, akibat pandemi yang berkepanjangan, mengakibatkan banyak perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 2022, tingkat pengangguran sedikit menurun menjadi 8,4 persen, menunjukkan adanya pemulihan ekonomi meskipun masih belum kembali ke kondisi sebelum pandemi. Pada tahun 2023, tingkat pengangguran mencapai 7,99%, seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 2024 ini, tingkat pengangguran diproyeksikan turun menjadi 5,2 persen, didukung oleh pemulihan ekonomi yang lebih kuat dan peningkatan kualitas kondisi ketenagakerjaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan data periode Agustus, proporsi tenaga kerja formal memang mengalami peningkatan secara bertahap. Namun, data periode Februari menyebutkan adanya tren penurunan meskipun kembali mengalami peningkatan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Februari 2024, proporsi tenaga kerja formal tercatat sebesar 40,83 persen, meningkat dibandingkan Februari 2023 yang sebesar 39,88 persen. Pemulihan ekonomi yang disertai dengan tren perbaikan kualitas kondisi ketenagakerjaan diharapkan dapat mendorong penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) secara berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah menargetkan bahwa pada tahun 2024, TPT dapat berada pada rentang 5 persen \u2013 5,70 persen. Untuk mencapai target ini, diperlukan upaya yang konsisten dalam menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan memperkuat sektor-sektor ekonomi yang memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Secara keseluruhan, data lima tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan domestik, termasuk dampak pandemi Covid-19. Meskipun terdapat tren pemulihan, masih dibutuhkan usaha yang berkelanjutan untuk mencapai tingkat pengangguran yang lebih rendah dan meningkatkan kualitas ketenagakerjaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">B<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">eberapa indikator penting mengenai\u00a0 ketenagakerjaan yang dituliskan\u00a0 Badan Pusat Statistik (BPS) pada 6 Mei 2024 menuliskan:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 4,82 persen, dengan rata-rata upah buruh sebesar 3,04 juta rupiah per bulan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2024, jumlah angkatan kerja mencapai 149,38 juta orang, meningkat 2,76 juta orang dibanding Februari 2023. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik 0,50 persen poin dibanding tahun sebelumnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2024 tercatat sebanyak 142,18 juta orang, bertambah 3,55 juta orang dari Februari 2023. Sektor dengan peningkatan terbesar adalah Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum, yang bertambah 0,96 juta orang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebanyak 58,05 juta orang (40,83 persen) bekerja di sektor formal pada Februari 2024, meningkat 0,95 persen poin dibanding Februari 2023.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Persentase pekerja setengah pengangguran naik 1,61 persen poin, sedangkan pekerja paruh waktu turun 0,73 persen poin dibanding Februari 2023.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jumlah pekerja komuter pada Februari 2024 tercatat 7,13 juta orang, turun 0,05 juta orang dibanding tahun sebelumnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2024 turun 0,63 persen poin menjadi 4,82 persen dibandingkan dengan Februari 2023.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">(Sumber: data.goodstats.id)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dilansir dari Antara, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Warsito,\u00a0 menyatakan, &#8220;Angka ini tentu penting bagi kita semua, meskipun trennya menurun. Jika kita bandingkan, TPT di negara-negara maju hampir semuanya berada di bawah 4 persen.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Tingkat Pengangguran Indonesia Tertinggi di Antara Negara ASEAN<\/b><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/tingkatpengangguranAsean.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-391660\" src=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/tingkatpengangguranAsean.jpg\" alt=\"\" width=\"843\" height=\"422\" srcset=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/tingkatpengangguranAsean.jpg 843w, https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/tingkatpengangguranAsean-300x150.jpg 300w, https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/tingkatpengangguranAsean-768x384.jpg 768w, https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/tingkatpengangguranAsean-696x348.jpg 696w, https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/tingkatpengangguranAsean-839x420.jpg 839w\" sizes=\"(max-width: 843px) 100vw, 843px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dilansir dari detik.com, dalam laporan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">World Economic Outlook<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dirilis pada April 2024, Dana Moneter Internasional (IMF)\u00a0 menyatakan bahwa dari total 279,96 juta penduduk Indonesia, sekitar 5,2 persen di antaranya menganggur. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar 5,3 persen.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Laporan ini memuat data tentang perkembangan ekonomi global di 196 negara anggota IMF, termasuk pembahasan terkait tenaga kerja dan tingkat pengangguran.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Laporan ini juga mencatatkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia merupakan yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Data lengkap mengenai tingkat pengangguran di negara-negara ASEAN menurut IMF adalah sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia: 5,2 persen<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Filipina: 5,1 persen<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Brunei Darussalam: 4,9 persen<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Malaysia: 3,5 persen<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Vietnam: 2,1 persen<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Singapura: 1,9 persen<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Thailand: 1,1 persen<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini Myanmar, Kamboja, Laos, dan Timor Leste tidak termasuk dalam daftar ini karena data tidak tersedia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Thailand dinyatakan menjadi negara dengan tingkat pengangguran terendah di dunia, unggul dari Singapura (1,9 persen), Jepang (2,5 persen), bahkan Amerika Serikat (4 persen).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, negara dengan tingkat pengangguran tertinggi dipegang oleh Sudan dengan 49,5 persen, disusul Afrika Selatan (33,5 persen) dan Georgia (15,7persen).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tingkat pengangguran Indonesia masih tertinggi di ASEAN pada 2024, proyeksi IMF melalui Datamapper menunjukkan adanya penurunan yang stabil pada 2025-2029, dengan angka mencapai 5,1 persen. Sebaliknya Filipina diperkirakan akan menempati posisi teratas dengan tingkat pengangguran sebesar 5,2 persen.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Mengapa Tingkat Pengangguran Indonesia Lebih Tinggi dari negara Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Kamboja?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa faktor yang berkontribusi pada tingkat pengangguran Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. Beberapa di antaranya adalah:<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li><b> Struktur Ekonomi<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia memiliki ekonomi yang lebih beragam, tetapi masih sangat bergantung pada sektor-sektor seperti pertanian dan manufaktur yang intensif tenaga kerja dan tidak selalu memberikan pekerjaan dengan kualitas yang tinggi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Singapura dan Thailand<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">memiliki ekonomi yang lebih maju dengan sektor jasa yang dominan, termasuk keuangan, teknologi, dan pariwisata, yang cenderung menciptakan pekerjaan dengan bayaran lebih tinggi dan lebih stabil.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Vietnam dan Kamboja memiliki sektor manufaktur yang berkembang pesat, terutama di industri tekstil dan elektronik, yang menyerap banyak tenaga kerja.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"2\">\n<li><b> Kualitas Pendidikan dan Keterampilan<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, ada kesenjangan dalam kualitas pendidikan dan pelatihan keterampilan. Banyak lulusan tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh industri, yang menyebabkan ketidakcocokan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Negara seperti Singapura dan Malaysia memiliki sistem pendidikan dan pelatihan keterampilan yang lebih terintegrasi dengan kebutuhan industri, sehingga lulusannya lebih siap kerja.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"3\">\n<li><b> Pertumbuhan Penduduk<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia memiliki populasi yang besar dan terus bertambah, yang berarti lebih banyak orang yang memasuki pasar kerja setiap tahunnya. Hal ini menambah tekanan pada pasar kerja untuk menciptakan pekerjaan baru.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Singapura dan Thailand memiliki populasi yang lebih kecil dan pertumbuhan penduduk yang lebih lambat, sehingga tekanan terhadap pasar kerja tidak seberat di Indonesia.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"4\">\n<li><b> Kebijakan Tenaga Kerja dan Regulasi<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kebijakan dan regulasi tenaga kerja di Indonesia mungkin tidak sefleksibel di negara-negara lain. Misalnya, aturan yang kaku mengenai upah minimum atau pesangon bisa membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam merekrut tenaga kerja baru.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Negara seperti Vietnam dan Kamboja mungkin memiliki regulasi yang lebih fleksibel, yang membuat perekrutan tenaga kerja lebih mudah bagi perusahaan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"5\">\n<li><b> Infrastruktur dan Investasi<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun Indonesia terus berupaya meningkatkan infrastruktur, masih ada tantangan di beberapa wilayah yang mempengaruhi akses ke pekerjaan. Keterbatasan infrastruktur dapat menghambat pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tertentu.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Singapura dan Malaysia memiliki infrastruktur yang lebih baik, yang mendorong investasi asing dan domestik serta menciptakan lapangan kerja baru.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"6\">\n<li><b> Tantangan Sektor Informal<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia memiliki sektor informal yang sangat besar. Banyak orang bekerja di sektor ini tanpa jaminan pekerjaan jangka panjang atau perlindungan sosial, yang dapat memperburuk masalah pengangguran.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di negara seperti Singapura, sektor informal lebih kecil karena adanya sistem perlindungan sosial dan pekerjaan yang lebih kuat.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulannya, tingkat pengangguran yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor struktural, kebijakan, dan demografis yang mempengaruhi dinamika pasar tenaga kerja.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Apa keunggulan kebijakan di Singapura, Thailand, Vietnam dan Kamboja sehingga tingkat pengangguran relatif rendah?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tingkat pengangguran yang relatif rendah di Singapura, Thailand, Vietnam, dan Kamboja dapat dikaitkan dengan kebijakan pemerintah dan praktik ekonomi yang efektif dalam menciptakan lapangan kerja serta menjaga stabilitas ekonomi. Berikut adalah beberapa keunggulan kebijakan di masing-masing negara tersebut:<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li><b> Singapura<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi kebijakan Pro-Bisnis dan Investasi Asing, maka Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan lingkungan bisnis yang paling ramah di dunia. Kebijakan pajak yang kompetitif, regulasi yang sederhana, serta dukungan kuat terhadap investasi asing telah menarik banyak perusahaan multinasional untuk mendirikan kantor pusat regional di Singapura, menciptakan banyak lapangan kerja berkualitas tinggi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi pendidikan dan pelatihan,\u00a0 sistem pendidikan di Singapura sangat terintegrasi dengan kebutuhan industri. Pemerintah secara aktif mendorong pendidikan STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) serta program pelatihan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Inisiatif seperti SkillsFuture menyediakan sumber daya untuk pelatihan ulang dan pengembangan keterampilan, yang membantu tenaga kerja tetap relevan di pasar kerja yang berubah-ubah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Investasi besar dalam infrastruktur dan teknologi menjadikan Singapura pusat logistik, keuangan, dan teknologi, yang terus menciptakan lapangan kerja di sektor-sektor bernilai tambah tinggi.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"2\">\n<li><b> Thailand<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Thailand memiliki sektor pariwisata yang sangat kuat, yang merupakan salah satu penyumbang utama ekonomi dan penyedia lapangan kerja yang besar. Pemerintah terus mendukung dan mempromosikan industri ini melalui kebijakan yang ramah pariwisata.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Thailand memiliki industri manufaktur yang berkembang pesat, terutama dalam bidang otomotif dan elektronik. Kebijakan yang mendukung investasi asing di sektor ini, seperti insentif pajak dan zona ekonomi khusus, telah berhasil menciptakan banyak lapangan kerja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Thailand juga mendorong pendidikan kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri, sehingga tenaga kerja siap untuk langsung terjun ke pasar kerja.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"3\">\n<li><b> Vietnam<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak 1986, Vietnam telah menjalankan kebijakan reformasi ekonomi yang dikenal sebagai Doi Moi. Reformasi ini mendorong liberalisasi ekonomi, investasi asing, dan pengembangan sektor swasta, yang secara signifikan meningkatkan lapangan kerja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Vietnam telah menjadi pusat manufaktur global, terutama dalam produksi tekstil, elektronik, dan barang konsumen lainnya. Pemerintah telah menciptakan iklim yang mendukung untuk investasi asing dengan menawarkan insentif, zona ekonomi khusus, dan kebijakan pajak yang menarik.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Vietnam memiliki kebijakan tenaga kerja relatif fleksibel dan lebih murah dibandingkan dengan banyak negara lain, yang membuatnya menarik bagi perusahaan multinasional untuk berinvestasi dan membuka pabrik di sana.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"4\">\n<li><b> Kamboja<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sektor tekstil dan pakaian adalah tulang punggung ekonomi Kamboja, menyediakan lapangan kerja bagi jutaan orang. Kebijakan pemerintah yang mendukung ekspor dan menarik investasi asing di sektor ini telah menciptakan lapangan kerja yang signifikan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Kamboja telah menetapkan berbagai Zona Ekonomi Khusus untuk menarik investasi asing, yang dilengkapi dengan infrastruktur yang baik dan insentif pajak. Ini membantu mendorong penciptaan lapangan kerja di berbagai sektor.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Regulasi yang lebih longgar dalam hal ketenagakerjaan memungkinkan perusahaan untuk lebih mudah mempekerjakan tenaga kerja, meskipun ini sering dikritik karena kurangnya perlindungan bagi pekerja.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kebijakan spesifik di setiap negara, ada juga beberapa faktor umum yang berkontribusi terhadap rendahnya tingkat pengangguran:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Kemudahan Berbisnis<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Negara-negara ini, terutama Singapura dan Thailand, menawarkan kemudahan berbisnis yang menarik bagi investor asing, sehingga menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penciptaan lapangan kerja.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Investasi dalam Infrastruktur<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Semua negara ini telah berinvestasi dalam infrastruktur fisik dan teknologi, yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Penduduk yang Relatif Kecil dan Dinamis<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Negara seperti Singapura memiliki populasi yang kecil namun sangat terdidik, yang memungkinkan terciptanya lapangan kerja berkualitas tinggi dengan tingkat pengangguran yang rendah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Secara keseluruhan, kebijakan pro-bisnis, pendidikan yang relevan dengan industri, serta dukungan pemerintah yang kuat terhadap investasi dan industri tertentu telah membantu negara-negara ini mempertahankan tingkat pengangguran yang rendah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Perbaikan apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki tingkat pengangguran di Indonesia?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memperbaiki tingkat pengangguran di Indonesia, diperlukan serangkaian perbaikan yang komprehensif di berbagai sektor. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan:<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li><b> Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kurikulum pendidikan perlu lebih disesuaikan dengan kebutuhan industri, termasuk peningkatan fokus pada pendidikan STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) serta keahlian digital yang semakin dibutuhkan di pasar kerja modern.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengembangkan dan memperluas program pendidikan vokasi serta pelatihan teknis yang dapat mempersiapkan tenaga kerja untuk industri-industri yang berkembang seperti manufaktur, teknologi informasi, dan pariwisata.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah bisa memperkuat kerjasama antara sektor pendidikan dan industri untuk memastikan lulusan memiliki keterampilan yang relevan dan siap kerja.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"2\">\n<li><b> Mendorong Investasi Asing dan Pengembangan Sektor Swasta<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memberikan kemudahan berbisnis, yaitu mengurangi birokrasi dan regulasi yang berbelit-belit untuk menarik lebih banyak investasi asing dan mendukung pertumbuhan sektor swasta. Langkah ini termasuk penyederhanaan proses perizinan dan peningkatan transparansi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melanjutkan dan memperkuat pembangunan infrastruktur fisik dan digital untuk mendukung aktivitas ekonomi dan menarik investasi ke daerah-daerah yang kurang berkembang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meningkatkan insentif pajak untuk industri strategis dan memperluas zona ekonomi khusus yang menarik investasi di berbagai sektor.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"3\">\n<li><b> Pengembangan Sektor UMKM<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meningkatkan akses UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) terhadap pembiayaan, baik melalui program perbankan, fintech, maupun modal ventura. Ini penting untuk mendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja di sektor ini.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menyediakan program pelatihan dan pendampingan bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, manajemen, dan kemampuan pemasaran, sehingga mereka bisa bersaing di pasar lokal maupun internasional.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"4\">\n<li><b> Reformasi Ketenagakerjaan<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memperkenalkan regulasi yang lebih fleksibel dalam ketenagakerjaan untuk memudahkan perekrutan dan pemutusan hubungan kerja, tanpa mengorbankan perlindungan pekerja. Ini termasuk merevisi aturan mengenai upah minimum dan pesangon.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengembangkan sistem perlindungan sosial yang kuat, termasuk asuransi pengangguran dan program jaminan sosial lainnya, untuk memberikan jaring pengaman bagi tenaga kerja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mendorong formalitas dalam pekerjaan dengan memberikan insentif bagi perusahaan yang memberikan kontrak formal dan jaminan sosial bagi pekerjanya.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"5\">\n<li><b> Diversifikasi Ekonomi<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan melakukan pengembangan sektor pariwisata, mengoptimalkan potensi pariwisata di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang belum terjangkau, untuk menciptakan lapangan kerja baru di sektor ini.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mendorong pertumbuhan industri kreatif dan teknologi dengan menyediakan infrastruktur, pelatihan, dan pendanaan bagi startup dan usaha kreatif lainnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengembangkan sektor pertanian dan perikanan dengan teknologi modern dan manajemen yang lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja di daerah pedesaan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"6\">\n<li><b> Meningkatkan Akses dan Kualitas Infrastruktur<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meningkatkan jaringan transportasi dan infrastruktur logistik di seluruh negeri untuk mendukung distribusi barang dan mobilitas tenaga kerja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menguatkan perkembangan infrastruktur digital, dengan memperluas akses internet dan meningkatkan infrastruktur digital di daerah-daerah terpencil untuk mendukung ekonomi digital dan pekerjaan jarak jauh.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"7\">\n<li><b> Peningkatan Kualitas Layanan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pelayanan publik, terutama dalam proses perizinan dan regulasi bisnis, untuk mengurangi korupsi dan memudahkan investasi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memperkuat penegakan hukum untuk memberikan kepastian hukum bagi investor dan pelaku bisnis, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"8\">\n<li><b> Pengembangan Wilayah Terpencil dan Daerah Tertinggal<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Pembangunan Infrastruktur\u00a0 di Daerah Tertinggal<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Fokus pada pembangunan infrastruktur di daerah-daerah tertinggal untuk menciptakan lapangan kerja dan mendukung pembangunan ekonomi lokal.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Program Pengembangan Ekonomi Lokal<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Mengimplementasikan program pengembangan ekonomi lokal yang sesuai dengan potensi masing-masing daerah, seperti pengembangan agribisnis, pariwisata, atau industri kreatif.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"9\">\n<li><b> Peningkatan Pengawasan dan Evaluasi Kebijakan<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menerapkan mekanisme evaluasi berkelanjutan untuk menilai efektivitas kebijakan ketenagakerjaan dan ekonomi, serta melakukan penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi tersebut.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meningkatkan pengumpulan data ketenagakerjaan yang akurat dan komprehensif untuk membuat kebijakan yang berbasis bukti.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan menerapkan langkah-langkah ini secara terpadu, Indonesia dapat mengurangi tingkat pengangguran dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas, sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibizmedia &#8211; Kolom) Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, dalam lima tahun terakhir, tingkat pengangguran di Indonesia menunjukkan variasi yang signifikan, dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial.\u00a0 Trend Penurunan pada Tingkat Pengangguran Indonesia Selama 5 Tahun Terakhir BPS mencatatkan bahwa pada tahun 2019, tingkat pengangguran berada pada angka 6,82 persen. Sementara itu, pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101059,"featured_media":391661,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0},"categories":[8873,194],"tags":[31785],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v17.7.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menyoroti Tingkat Pengangguran Indonesia, Belajar dari Keberhasilan Negara Tetangga - Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibizmedia &#8211; Kolom) Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, dalam lima tahun terakhir, tingkat pengangguran di Indonesia menunjukkan variasi yang signifikan, dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial.\u00a0 Trend Penurunan pada Tingkat Pengangguran Indonesia Selama 5 Tahun Terakhir BPS mencatatkan bahwa pada tahun 2019, tingkat pengangguran berada pada angka 6,82 persen. Sementara itu, pada [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-08T16:10:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-09-08T18:53:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/20171121_101655.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"974\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"548\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Dyah Marwatri Nugrahani\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\",\"name\":\"Vibizmedia.com\",\"description\":\"Business, Culture and Research\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/20171121_101655.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/20171121_101655.jpeg\",\"width\":974,\"height\":548,\"caption\":\"Para pembatik di salah satu toko di Solo. FOTO: VIBIZMEDIA.COM\/DYAH M NUGRAHANI\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/\",\"name\":\"Menyoroti Tingkat Pengangguran Indonesia, Belajar dari Keberhasilan Negara Tetangga - Vibizmedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2024-09-08T16:10:53+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-08T18:53:37+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/f70b88bf2606d486992528062fb292f3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menyoroti Tingkat Pengangguran Indonesia, Belajar dari Keberhasilan Negara Tetangga\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/f70b88bf2606d486992528062fb292f3\",\"name\":\"Dyah Marwatri Nugrahani\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cdc666c4ff4fe21397b9c200329f242f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cdc666c4ff4fe21397b9c200329f242f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Dyah Marwatri Nugrahani\"},\"description\":\"A journalist in www.vibizmedia.com\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/nugrahani\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Menyoroti Tingkat Pengangguran Indonesia, Belajar dari Keberhasilan Negara Tetangga - Vibizmedia.com","og_description":"(Vibizmedia &#8211; Kolom) Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, dalam lima tahun terakhir, tingkat pengangguran di Indonesia menunjukkan variasi yang signifikan, dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial.\u00a0 Trend Penurunan pada Tingkat Pengangguran Indonesia Selama 5 Tahun Terakhir BPS mencatatkan bahwa pada tahun 2019, tingkat pengangguran berada pada angka 6,82 persen. Sementara itu, pada [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/","og_site_name":"Vibizmedia.com","article_published_time":"2024-09-08T16:10:53+00:00","article_modified_time":"2024-09-08T18:53:37+00:00","og_image":[{"width":974,"height":548,"url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/20171121_101655.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Dyah Marwatri Nugrahani","Est. reading time":"11 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/","name":"Vibizmedia.com","description":"Business, Culture and Research","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#primaryimage","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/20171121_101655.jpeg","contentUrl":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/20171121_101655.jpeg","width":974,"height":548,"caption":"Para pembatik di salah satu toko di Solo. FOTO: VIBIZMEDIA.COM\/DYAH M NUGRAHANI"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#webpage","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/","name":"Menyoroti Tingkat Pengangguran Indonesia, Belajar dari Keberhasilan Negara Tetangga - Vibizmedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#primaryimage"},"datePublished":"2024-09-08T16:10:53+00:00","dateModified":"2024-09-08T18:53:37+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/f70b88bf2606d486992528062fb292f3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/08\/menyoroti-tingkat-pengangguran-indonesia-belajar-dari-keberhasilan-negara-tetangga\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menyoroti Tingkat Pengangguran Indonesia, Belajar dari Keberhasilan Negara Tetangga"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/f70b88bf2606d486992528062fb292f3","name":"Dyah Marwatri Nugrahani","image":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cdc666c4ff4fe21397b9c200329f242f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cdc666c4ff4fe21397b9c200329f242f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Dyah Marwatri Nugrahani"},"description":"A journalist in www.vibizmedia.com","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/nugrahani\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/391658"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101059"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=391658"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/391658\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":391667,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/391658\/revisions\/391667"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/391661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=391658"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=391658"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=391658"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}