{"id":391943,"date":"2024-09-18T16:57:52","date_gmt":"2024-09-18T09:57:52","guid":{"rendered":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?p=391943"},"modified":"2024-09-18T16:57:52","modified_gmt":"2024-09-18T09:57:52","slug":"cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/","title":{"rendered":"Cendekiawan AS Cinta Bahasa dan Budaya Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>(Vibizmedia \u2013 Nasional) Sejumlah warga AS menuntut ilmu di Indonesia. Mereka jadi cendekiawan dalam bidang, yang bahkan semakin sedikit ditekuni orang Indonesia. Di AS, mereka menyebarluaskan ilmu tersebut di institusi-institusi pendidikan tinggi.<\/p>\n<p>Berikut penuturan dua cendekiawan yang menekuni kebudayaan Jawa dan Sunda. Puluhan tahun menjadi duta budaya Pasundan di AS, Andrew Weintraub fasih berbahasa Sunda. Gaya bicaranya pun\u00a0<em>Sunda pisan\u00a0<\/em>(kental sekali logat Sunda-nya).<\/p>\n<p>&#8220;Kan sudah diajarkan bahasa Sunda di Bandung. Belajar bahasa Sunda dan teater wayang. Wayang golek khususnya,&#8221; serunya.<\/p>\n<p>Diaspora Indonesia di AS biasa menyebut Andrew, yang senang dipanggil Mas, sebagai seniman Sunda. Dia intens mempelajari kebudayaan Sunda sejak 1984 setelah \u2018tersihir\u2019 musik tradisional Pasundan.<\/p>\n<p>Dalam upayanya ini, Andrew kerap tersandung bahasa. Tidak bisa berkomunikasi. Karena itu, ia mengaku terpaksa belajar bahasa Sunda.<\/p>\n<p>\u201cUntuk mengerti wayangnya dan untuk wawancara dengan dalang-dalang, kadang-kadang mereka sendiri tidak bisa bahasa Indonesia, jadi saya terpaksa berbahasa Sunda dalam riset. Trus, memang bahasa daerah untuk teater dan kesenian itu sangat penting karena ada banyak arti yang tidak bisa disampaikan dalam bahasa Indonesia, ya, harus pakai bahasa daerah,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Begitu hambatan bahasa teratasi, Andrew seperti tak terbendung. Baginya alunan kecapi suling adalah musik yang indah. Dia juga meneliti teater wayang golek dan semua bentuk kesenian Sunda.<\/p>\n<p>\u201cSejak itu saya bolak-balik ke Indonesia untuk cari data, untuk membuat studi tentang pantun sunda, kecapi suling, wayang golek. Dan pencak silat juga belajar,\u201d imbuh Andrew.<\/p>\n<p>Hasilnya, dia bisa nembang (melantunkan karya sastera dengan aturan tertentu), menjadi dalang wayang golek, dan semakin banyak mempelajari wujud budaya Bumi Parahiyangan. Pokoknya, kata Andrew, semua aspek. Pemahaman secara total kehidupan orang Sunda.<\/p>\n<p>Andrew tidak hanya belajar. Ia juga mengajar, menyebarluaskan kebudayaan Sunda di Pittsburgh University, perguruan tinggi di negara bagian Pennsylvania. Secara rutin ia mengadakan acara pergelaran musik, mengingat posisinya sebagai musikolog, walau ia lebih pas disebut anthropolog musik.<\/p>\n<p>\u201cHubungan antara musik dan kebudayaan sangat kaya. Melalui musik, bisa tahu tentang kebudayaannya. Kita harus mengaitkan musik dengan bahasa dan kehidupan suku etnis yang kita sedang teliti. Tidak bisa dipisahkan. Jadi, karena hubungannya sangat dekat, kalau saya belajar bahasa, saya akan lebih tahu tentang musik, bahasa dan kehidupan orang-orang di sana, dan akan lebih jelas kalau saya belajar bahasa dan musik masing masing,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Belakangan Andrew merambah musik Dangdut. Ia membentuk kelompok musik Dangdut Cowboys. Dan kini sedang melakukan penelitian musik dan kebudayaan Banyuwangi di Jawa Timur, khususnya suku Osing. Ia berencana bermukim empat bulan di sana tahun depan.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia sangat kaya dalam kebudayaan dan suku etnis yang beda-beda. Mungkin karena geografi ya, fisik, karena banyak pulau. Oleh karena itu ada banyak bahasa, ada banyak budaya, ada banyak cara kehidupan. Sangat berbeda,\u201d sebutnya.<\/p>\n<p>Cendekiawan lain, Joseph Errington, didapuk sebagai seniman Jawa. Perkenalannya pada kebudayaan Jawa dimulai ketika di kampusnya, Wesleyan University di negara bagian Connecticut, digelar gamelan dan tari Jawa. Sesekali ada pertunjukan wayang.<\/p>\n<p>Beranjak ke pasca sarjana, tanpa ragu Jo \u2013 begitu ia akrab dipanggil &#8212; memutuskan untuk mempelajari lebih jauh bahasa Jawa, bahasa asing yang sangat jarang diketahui ketika itu, tahun 1976. Nalurinya mengatakan, \u201cKalau pementasan Jawa begitu menarik, bahasanya pasti juga menarik. Nah itu. Pertama kali, saya mau belajar bahasa Jawa. Bukan bahasa Indonesia,\u201d akunya.<\/p>\n<p>Jo kemudian belajar bahasa Jawa tiga bulan. Setelah itu, dia pergi ke Cornell University untuk belajar bahasa Indonesia selama satu tahun. Ia mengungkapkan, \u201cVariasi bahasa Indonesia itu sangat mengesankan.\u201d<\/p>\n<p>Penasaran, Jo pergi ke Indonesia. Ia menjadi mahasiswa penerima beasiswa Fulbright di Yogyakarta. Ia kuliah di Fakultas Sastera, mengambil jurusan bahasa Jawa Kuno. \u201cTapi saya juga dapat tutor untuk bahasa Jawa sehari-hari. Jadi, dengan satu tahun di sana sudah bisa bahasa Jawa sedikit,\u201d jelas Jo.<\/p>\n<p>\u201cUntuk disertasi saya, unggah ungguh bahasa Jawa. Pada waktu itu, unggah ungguh masih cukup biasa. Tapi orang muda sudah kurang biasa. Apalagi yang halus. Makanya saya belajar bahasa Jawa,\u201d jawabnya.<\/p>\n<p>Hingga kini, Jo masih fasih berbahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Pada 2010, dia kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian di Kupang, terkait bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cJadi saya ingin mengerti bagaimana bahasa Indonesia digunakan sehari-hari oleh orang muda terdidik di kota itu. Dan itu tugasnya mengerti bagaimana bahasa Indonesia itu bisa begitu bervariasi, tetapi juga bisa (menjadi) bahasa persatuan,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Sumber: voaindonesia.com<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibizmedia \u2013 Nasional) Sejumlah warga AS menuntut ilmu di Indonesia. Mereka jadi cendekiawan dalam bidang, yang bahkan semakin sedikit ditekuni orang Indonesia. Di AS, mereka menyebarluaskan ilmu tersebut di institusi-institusi pendidikan tinggi. Berikut penuturan dua cendekiawan yang menekuni kebudayaan Jawa dan Sunda. Puluhan tahun menjadi duta budaya Pasundan di AS, Andrew Weintraub fasih berbahasa Sunda. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101011,"featured_media":391944,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0},"categories":[192,17875,182,8873],"tags":[31818],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v17.7.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cendekiawan AS Cinta Bahasa dan Budaya Indonesia - Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibizmedia \u2013 Nasional) Sejumlah warga AS menuntut ilmu di Indonesia. Mereka jadi cendekiawan dalam bidang, yang bahkan semakin sedikit ditekuni orang Indonesia. Di AS, mereka menyebarluaskan ilmu tersebut di institusi-institusi pendidikan tinggi. Berikut penuturan dua cendekiawan yang menekuni kebudayaan Jawa dan Sunda. Puluhan tahun menjadi duta budaya Pasundan di AS, Andrew Weintraub fasih berbahasa Sunda. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-18T09:57:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Duta-Budaya-Pasundan-di-Amerika-Serikat-Andrew-Weintraub.-andrewweintraub.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"767\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"510\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Emy Trimahanani\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\",\"name\":\"Vibizmedia.com\",\"description\":\"Business, Culture and Research\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Duta-Budaya-Pasundan-di-Amerika-Serikat-Andrew-Weintraub.-andrewweintraub.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Duta-Budaya-Pasundan-di-Amerika-Serikat-Andrew-Weintraub.-andrewweintraub.jpg\",\"width\":767,\"height\":510,\"caption\":\"Duta Budaya Pasundan di Amerika Serikat, Andrew Weintraub. (Foto: courtesy andrewweintraub\/ VOA Indonesia))\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/\",\"name\":\"Cendekiawan AS Cinta Bahasa dan Budaya Indonesia - Vibizmedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2024-09-18T09:57:52+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-18T09:57:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/ebf03fdc3156ab30a85bc15aa0a87e98\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cendekiawan AS Cinta Bahasa dan Budaya Indonesia\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/ebf03fdc3156ab30a85bc15aa0a87e98\",\"name\":\"Emy Trimahanani\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fd0c964969449dd26045a81e10918cc4?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fd0c964969449dd26045a81e10918cc4?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Emy Trimahanani\"},\"description\":\"Editor in Chief of Vibizmedia.com and Head of Vibiz Learning Center\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/emy-trimahanani\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Cendekiawan AS Cinta Bahasa dan Budaya Indonesia - Vibizmedia.com","og_description":"(Vibizmedia \u2013 Nasional) Sejumlah warga AS menuntut ilmu di Indonesia. Mereka jadi cendekiawan dalam bidang, yang bahkan semakin sedikit ditekuni orang Indonesia. Di AS, mereka menyebarluaskan ilmu tersebut di institusi-institusi pendidikan tinggi. Berikut penuturan dua cendekiawan yang menekuni kebudayaan Jawa dan Sunda. Puluhan tahun menjadi duta budaya Pasundan di AS, Andrew Weintraub fasih berbahasa Sunda. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/","og_site_name":"Vibizmedia.com","article_published_time":"2024-09-18T09:57:52+00:00","og_image":[{"width":767,"height":510,"url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Duta-Budaya-Pasundan-di-Amerika-Serikat-Andrew-Weintraub.-andrewweintraub.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Emy Trimahanani","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/","name":"Vibizmedia.com","description":"Business, Culture and Research","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#primaryimage","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Duta-Budaya-Pasundan-di-Amerika-Serikat-Andrew-Weintraub.-andrewweintraub.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Duta-Budaya-Pasundan-di-Amerika-Serikat-Andrew-Weintraub.-andrewweintraub.jpg","width":767,"height":510,"caption":"Duta Budaya Pasundan di Amerika Serikat, Andrew Weintraub. (Foto: courtesy andrewweintraub\/ VOA Indonesia))"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#webpage","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/","name":"Cendekiawan AS Cinta Bahasa dan Budaya Indonesia - Vibizmedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#primaryimage"},"datePublished":"2024-09-18T09:57:52+00:00","dateModified":"2024-09-18T09:57:52+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/ebf03fdc3156ab30a85bc15aa0a87e98"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2024\/09\/18\/cendekiawan-as-cinta-bahasa-dan-budaya-indonesia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cendekiawan AS Cinta Bahasa dan Budaya Indonesia"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/ebf03fdc3156ab30a85bc15aa0a87e98","name":"Emy Trimahanani","image":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fd0c964969449dd26045a81e10918cc4?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fd0c964969449dd26045a81e10918cc4?s=96&d=mm&r=g","caption":"Emy Trimahanani"},"description":"Editor in Chief of Vibizmedia.com and Head of Vibiz Learning Center","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/emy-trimahanani\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/391943"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101011"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=391943"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/391943\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":391945,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/391943\/revisions\/391945"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/391944"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=391943"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=391943"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=391943"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}