{"id":411595,"date":"2026-05-07T10:41:16","date_gmt":"2026-05-07T03:41:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?p=411595"},"modified":"2026-05-07T10:41:16","modified_gmt":"2026-05-07T03:41:16","slug":"mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/","title":{"rendered":"Mesin Ekspor Indonesia Masih Bertahan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"43\" data-end=\"710\">(Vibizmedia &#8211; Kolom) Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi <em data-start=\"107\" data-end=\"171\">Statistik Perdagangan Luar Negeri Bulanan Ekspor Februari 2026<\/em>, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada awal tahun ini menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global dan perubahan arah perdagangan dunia. Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat mencapai US$22,17 miliar, naik tipis dibandingkan Januari 2026 sekaligus tetap berada di level tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, capaian ini memperlihatkan bahwa fondasi ekspor nasional masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"712\" data-end=\"1072\">Di balik kenaikan yang terlihat kecil itu, tersimpan cerita yang jauh lebih besar tentang transformasi struktur ekspor Indonesia. Ketika banyak negara penghasil komoditas menghadapi tekanan harga dan penurunan permintaan global, Indonesia justru mampu menjaga momentum melalui kombinasi ekspor manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, dan penguatan pasar Asia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1074\" data-end=\"1447\">Ekspor Indonesia kini tidak lagi semata bergantung pada minyak dan gas. Data BPS memperlihatkan bahwa kontribusi ekspor nonmigas mencapai 95,13 persen dari total ekspor nasional pada Februari 2026, sedangkan migas hanya menyumbang 4,87 persen. Artinya, struktur perdagangan Indonesia semakin ditopang oleh sektor manufaktur dan komoditas hilir bernilai tambah lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1449\" data-end=\"1881\">Perubahan ini menjadi sangat penting karena selama puluhan tahun Indonesia dikenal sebagai eksportir bahan mentah. Kini, ekspor industri pengolahan justru mendominasi. Nilai ekspor industri pengolahan pada Februari 2026 mencapai US$18,55 miliar atau hampir 88 persen dari total ekspor nonmigas. Sektor pertambangan dan lainnya menyumbang sekitar 10,18 persen, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya sekitar 1,83 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1883\" data-end=\"2224\">Dominasi industri pengolahan menunjukkan bahwa proses hilirisasi mulai menghasilkan dampak nyata terhadap struktur ekonomi nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah secara agresif mendorong pembangunan smelter, pengolahan mineral, dan peningkatan kandungan lokal industri manufaktur. Dampaknya kini terlihat dalam data perdagangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2226\" data-end=\"2548\">Salah satu contoh paling nyata adalah lonjakan ekspor nikel dan barang daripadanya. Pada Februari 2026, ekspor kelompok HS 75 mencapai US$944 juta, melonjak 74,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini merupakan salah satu kenaikan terbesar di antara seluruh kelompok komoditas ekspor utama Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2550\" data-end=\"2915\">Lonjakan ekspor nikel bukan sekadar angka perdagangan biasa. Ia mencerminkan perubahan posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik dan baterai. Selama bertahun-tahun Indonesia hanya menjual bijih mentah. Kini, setelah larangan ekspor mineral mentah dan percepatan pembangunan smelter, Indonesia mulai mengekspor produk bernilai tambah lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2917\" data-end=\"3151\">Transformasi tersebut juga terlihat pada ekspor besi dan baja yang mencapai US$2,06 miliar pada Februari 2026. Meski pertumbuhannya tidak setinggi nikel, sektor ini tetap menjadi salah satu tulang punggung ekspor manufaktur Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3153\" data-end=\"3464\">Cerita terbesar dalam ekspor Indonesia tetap berasal dari minyak kelapa sawit dan turunannya. Komoditas lemak dan minyak hewan\/nabati atau HS 15 menjadi komoditas ekspor terbesar Indonesia pada Februari 2026 dengan nilai mencapai US$3,41 miliar. Nilainya melonjak 46,05 persen dibandingkan Februari 2025.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3466\" data-end=\"3787\">Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pemain dominan dalam perdagangan minyak sawit global. Di tengah meningkatnya tekanan lingkungan dari negara-negara Barat dan kampanye pengurangan penggunaan sawit, permintaan global ternyata tetap kuat, terutama dari Asia, Afrika, dan negara berkembang lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3789\" data-end=\"4079\">Dalam tabel industri pengolahan, minyak kelapa sawit tercatat menyumbang nilai ekspor sebesar US$2,89 miliar hanya dalam satu bulan. Selain minyak sawit mentah, Indonesia juga semakin banyak mengekspor produk turunan seperti margarin, bahan baku makanan, dan berbagai produk olahan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4081\" data-end=\"4307\">Kondisi ini memperlihatkan bahwa hilirisasi sektor perkebunan berjalan paralel dengan hilirisasi mineral. Indonesia perlahan menggeser posisinya dari penjual bahan mentah menjadi produsen produk setengah jadi dan produk akhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4309\" data-end=\"4545\">Ekspor Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Salah satunya terlihat dari penurunan ekspor bahan bakar mineral. Nilai ekspor kelompok HS 27 turun 12,27 persen dibandingkan Februari tahun lalu menjadi US$3,33 miliar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4547\" data-end=\"4924\">Penurunan ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap komoditas energi fosil mulai menghadapi tekanan global. Harga batu bara yang tidak lagi setinggi periode booming energi pasca lonjakan geopolitik global membuat pertumbuhan ekspor sektor ini mulai melambat. Di sisi lain, transisi energi dunia juga perlahan mengurangi prospek jangka panjang komoditas energi konvensional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4926\" data-end=\"5278\">Karena itu, kemampuan Indonesia menjaga ekspor nonmigas menjadi sangat penting. Dalam periode Januari-Februari 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$44,32 miliar, naik 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini sepenuhnya ditopang ekspor nonmigas yang naik 2,82 persen, sementara ekspor migas justru turun 9,75 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5280\" data-end=\"5390\">Artinya, mesin pertumbuhan ekspor Indonesia benar-benar bergeser dari energi menuju manufaktur dan hilirisasi. Dari sisi geografis, perdagangan Indonesia juga memperlihatkan orientasi Asia yang semakin kuat. Tiongkok tetap menjadi tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan nilai mencapai US$5,30 miliar atau sekitar 23,92 persen dari total ekspor nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5637\" data-end=\"6002\">Dominasi Tiongkok menunjukkan betapa erat hubungan ekonomi kedua negara. Indonesia memasok berbagai kebutuhan industri Tiongkok, mulai dari nikel, batu bara, minyak sawit, hingga berbagai produk manufaktur. Ketika ekonomi Tiongkok melambat, Indonesia otomatis ikut merasakan dampaknya. Namun ketika industri Tiongkok pulih, ekspor Indonesia biasanya ikut terdorong.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6004\" data-end=\"6188\">Setelah Tiongkok, pasar terbesar berikutnya adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$2,49 miliar. India berada di posisi ketiga dengan US$1,59 miliar, disusul Jepang dan Malaysia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6190\" data-end=\"6446\">Menariknya, ekspor ke Korea Selatan meningkat hampir 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan semakin pentingnya hubungan industri antara Indonesia dan Korea Selatan, terutama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan logam industri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6448\" data-end=\"6703\">Sebaliknya, ekspor ke Eropa mengalami tekanan. Nilai ekspor ke kawasan Eropa turun lebih dari 11 persen dibandingkan Februari 2025. Penurunan ini memperlihatkan lemahnya permintaan di kawasan tersebut akibat perlambatan ekonomi dan tingginya biaya energi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6705\" data-end=\"6975\">Perubahan arah perdagangan dunia ini membuat Asia menjadi semakin penting bagi Indonesia. ASEAN, Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan kini menjadi fondasi utama ekspor nasional. Struktur ini membuat Indonesia relatif lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi Barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6977\" data-end=\"7236\">Di dalam negeri, distribusi ekspor antarprovinsi juga memperlihatkan perubahan besar dalam peta ekonomi nasional. Jawa Barat menjadi provinsi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai mencapai US$3,32 miliar atau sekitar 14,96 persen dari total ekspor nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7238\" data-end=\"7461\">Dominasi Jawa Barat menunjukkan pentingnya basis manufaktur di kawasan industri sekitar Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Subang. Industri otomotif, elektronik, tekstil, dan mesin menjadi penopang utama ekspor provinsi ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7463\" data-end=\"7705\">Namun, yang paling menarik adalah kebangkitan Sulawesi Tengah. Provinsi ini mencatat nilai ekspor US$1,95 miliar dan menjadi penyumbang ekspor terbesar kedua nasional. Pertumbuhan ekspornya mencapai 28,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7707\" data-end=\"8003\">Lonjakan tersebut hampir sepenuhnya ditopang industri nikel dan smelter. Dalam beberapa tahun terakhir, Sulawesi Tengah berubah drastis dari daerah berbasis pertanian menjadi pusat industri logam nasional. Kawasan industri Morowali menjadi simbol transformasi ekonomi berbasis hilirisasi mineral.Maluku Utara juga mengalami fenomena serupa. Ekspor provinsi ini naik hampir 30 persen menjadi lebih dari US$1 miliar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8125\" data-end=\"8322\">Kedua provinsi tersebut memperlihatkan bagaimana hilirisasi mengubah peta ekonomi Indonesia. Pertumbuhan tidak lagi hanya terkonsentrasi di Jawa, tetapi mulai menyebar ke wilayah penghasil mineral.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8324\" data-end=\"8605\">Provinsi-provinsi berbasis energi tradisional justru mengalami tekanan. Kalimantan Timur, misalnya, mencatat penurunan ekspor lebih dari 13 persen akibat melemahnya sektor batu bara dan energi. Sumatera Selatan juga mengalami penurunan tajam hingga hampir 39 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8607\" data-end=\"8731\">Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam struktur ekspor nasional: dari batu bara menuju logam industri dan manufaktur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8733\" data-end=\"9053\">Pada sektor pertanian, meski kontribusinya kecil terhadap total ekspor nasional, beberapa komoditas menunjukkan kinerja menarik. Kopi Indonesia mencatat ekspor senilai lebih dari US$109 juta hanya pada Februari 2026. Rempah-rempah seperti lada putih, lada hitam, dan cengkeh juga tetap menjadi komoditas bernilai tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9055\" data-end=\"9273\">Di sektor perikanan, ekspor kepiting, udang, dan hasil laut budidaya menunjukkan permintaan global yang tetap kuat. Bahkan mutiara hasil budidaya mencatat nilai ekspor lebih dari US$8 juta meski volumenya sangat kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9275\" data-end=\"9533\">Fenomena ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dalam ekspor produk premium berbasis sumber daya alam. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan pengolahan, kualitas, dan akses pasar agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri. Di sisi lain, data BPS juga memperlihatkan bahwa volume ekspor Indonesia justru turun 6,44 persen menjadi sekitar 52,61 juta ton pada Februari 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9685\" data-end=\"9973\">Penurunan volume tetapi kenaikan nilai menunjukkan adanya perubahan harga dan komposisi produk ekspor. Indonesia mulai lebih banyak mengekspor barang dengan nilai lebih tinggi dibandingkan sekadar volume besar berharga murah. Ini merupakan sinyal positif bagi kualitas pertumbuhan ekspor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9975\" data-end=\"10244\">Namun tantangan ke depan tetap tidak ringan. Dunia sedang bergerak menuju proteksionisme baru, transisi energi, dan perang teknologi. Negara-negara maju mulai menerapkan berbagai regulasi lingkungan yang dapat menjadi hambatan baru bagi produk ekspor negara berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10246\" data-end=\"10529\">Industri sawit menghadapi tekanan sertifikasi dan isu keberlanjutan. Produk berbasis karbon tinggi juga berisiko terkena pajak karbon di berbagai negara maju. Sementara sektor manufaktur harus bersaing dengan Vietnam, India, dan Meksiko yang semakin agresif menarik investasi global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10531\" data-end=\"10843\">Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan harga komoditas. Peningkatan daya saing industri menjadi kunci utama. Infrastruktur logistik, kualitas tenaga kerja, kepastian hukum, dan efisiensi birokrasi akan menentukan apakah momentum hilirisasi saat ini dapat bertahan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10845\" data-end=\"11148\">Diversifikasi pasar juga menjadi kebutuhan mendesak. Ketergantungan terlalu besar pada Tiongkok membuat Indonesia rentan terhadap perlambatan ekonomi negara tersebut. Penguatan pasar India, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin dapat menjadi strategi penting untuk memperluas basis ekspor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11150\" data-end=\"11399\">Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, data ekspor Februari 2026 sesungguhnya memberikan gambaran yang cukup optimistis. Indonesia memang belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan komoditas. Namun arah transformasinya mulai terlihat jelas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11401\" data-end=\"11636\">Ekspor manufaktur semakin dominan. Hilirisasi mulai menghasilkan nilai tambah. Kawasan industri baru tumbuh di luar Jawa. Produk logam, kendaraan, dan elektronik mulai mengambil peran lebih besar dalam perdagangan luar negeri nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11638\" data-end=\"11999\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Perjalanan menuju negara industri tentu masih panjang. Tetapi data perdagangan Februari 2026 menunjukkan bahwa Indonesia mulai bergerak ke arah tersebut. Mesin ekspor nasional masih hidup, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, pertumbuhan itu tidak hanya ditopang oleh bahan mentah, melainkan juga oleh proses industrialisasi yang perlahan mulai mengakar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibizmedia &#8211; Kolom) Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Perdagangan Luar Negeri Bulanan Ekspor Februari 2026, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada awal tahun ini menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global dan perubahan arah perdagangan dunia. Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat mencapai US$22,17 miliar, naik tipis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101039,"featured_media":410522,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0},"categories":[194],"tags":[1411],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v17.7.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mesin Ekspor Indonesia Masih Bertahan - Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibizmedia &#8211; Kolom) Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Perdagangan Luar Negeri Bulanan Ekspor Februari 2026, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada awal tahun ini menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global dan perubahan arah perdagangan dunia. Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat mencapai US$22,17 miliar, naik tipis [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-07T03:41:16+00:00\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:image\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Ilustrasi-Kemendag-gali-peluang-pasar-ekspor-non-tradisional-yakni-Hong-Kong-Mozambik-Fiji-Laos-Brasil-Uruguay-hingga-Oman.Foto-Dok-Pelindo.webp\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\",\"name\":\"Vibizmedia.com\",\"description\":\"Business, Culture and Research\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Ilustrasi-Kemendag-gali-peluang-pasar-ekspor-non-tradisional-yakni-Hong-Kong-Mozambik-Fiji-Laos-Brasil-Uruguay-hingga-Oman.Foto-Dok-Pelindo.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Ilustrasi-Kemendag-gali-peluang-pasar-ekspor-non-tradisional-yakni-Hong-Kong-Mozambik-Fiji-Laos-Brasil-Uruguay-hingga-Oman.Foto-Dok-Pelindo.webp\",\"width\":1200,\"height\":675,\"caption\":\"Ilustrasi: Kemendag gali peluang pasar ekspor non tradisional, yakni Hong Kong, Mozambik, Fiji, Laos, Brasil, Uruguay, hingga Oman.(Foto: Dok Pelindo)\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/\",\"name\":\"Mesin Ekspor Indonesia Masih Bertahan - Vibizmedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-05-07T03:41:16+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-07T03:41:16+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mesin Ekspor Indonesia Masih Bertahan\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/fadjar\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mesin Ekspor Indonesia Masih Bertahan - Vibizmedia.com","og_description":"(Vibizmedia &#8211; Kolom) Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Perdagangan Luar Negeri Bulanan Ekspor Februari 2026, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada awal tahun ini menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global dan perubahan arah perdagangan dunia. Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat mencapai US$22,17 miliar, naik tipis [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/","og_site_name":"Vibizmedia.com","article_published_time":"2026-05-07T03:41:16+00:00","twitter_card":"summary_large_image","twitter_image":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Ilustrasi-Kemendag-gali-peluang-pasar-ekspor-non-tradisional-yakni-Hong-Kong-Mozambik-Fiji-Laos-Brasil-Uruguay-hingga-Oman.Foto-Dok-Pelindo.webp","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/","name":"Vibizmedia.com","description":"Business, Culture and Research","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#primaryimage","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Ilustrasi-Kemendag-gali-peluang-pasar-ekspor-non-tradisional-yakni-Hong-Kong-Mozambik-Fiji-Laos-Brasil-Uruguay-hingga-Oman.Foto-Dok-Pelindo.webp","contentUrl":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Ilustrasi-Kemendag-gali-peluang-pasar-ekspor-non-tradisional-yakni-Hong-Kong-Mozambik-Fiji-Laos-Brasil-Uruguay-hingga-Oman.Foto-Dok-Pelindo.webp","width":1200,"height":675,"caption":"Ilustrasi: Kemendag gali peluang pasar ekspor non tradisional, yakni Hong Kong, Mozambik, Fiji, Laos, Brasil, Uruguay, hingga Oman.(Foto: Dok Pelindo)"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#webpage","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/","name":"Mesin Ekspor Indonesia Masih Bertahan - Vibizmedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#primaryimage"},"datePublished":"2026-05-07T03:41:16+00:00","dateModified":"2026-05-07T03:41:16+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/07\/mesin-ekspor-indonesia-masih-bertahan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mesin Ekspor Indonesia Masih Bertahan"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/fadjar\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411595"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101039"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=411595"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411595\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":411596,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411595\/revisions\/411596"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/410522"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=411595"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=411595"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=411595"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}