{"id":412083,"date":"2026-05-19T09:44:32","date_gmt":"2026-05-19T02:44:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?p=412083"},"modified":"2026-05-19T09:44:32","modified_gmt":"2026-05-19T02:44:32","slug":"dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/","title":{"rendered":"Dari Sampah Plastik Menjadi Masa Depan Fashion"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"50\" data-end=\"568\">(Vibizmedia-Kolom) Di sebuah pabrik di India selatan, jutaan botol plastik bekas yang sebelumnya dianggap sampah kini berubah menjadi benang polyester berwarna-warni. Botol-botol itu tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir atau mengotori sungai dan lautan, melainkan diproses menjadi pakaian yang dipakai manusia sehari-hari. Di balik transformasi tersebut berdiri perusahaan keluarga bernama <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Shree Renga<\/span><\/span>, yang setiap hari mampu mengubah sekitar 1,5 juta botol plastik menjadi serat polyester daur ulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"570\" data-end=\"1132\">Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam industri mode global. Selama beberapa dekade, dunia fashion dikenal sebagai salah satu industri paling boros sumber daya dan penghasil limbah terbesar. Namun kini, semakin banyak merek pakaian mencoba menampilkan citra yang lebih ramah lingkungan dengan menggunakan polyester hasil daur ulang. Nama-nama besar seperti <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Adidas<\/span><\/span>, <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Nike<\/span><\/span>, hingga <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Shein<\/span><\/span> mulai meningkatkan penggunaan material tersebut dalam lini produk mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1134\" data-end=\"1524\">Di tengah tren itu, keluarga Sankar melihat peluang sekaligus misi sosial. Pendiri Shree Renga, K Sankar, memulai bisnis daur ulang karena ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Puluhan tahun perjuangan membangun industri daur ulang akhirnya membuahkan hasil ketika perusahaan mereka menjadi salah satu pemain penting dalam pengolahan limbah plastik menjadi bahan tekstil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1526\" data-end=\"1982\">Kini bisnis tersebut dijalankan bersama putranya, Senthil, yang sebelumnya bekerja di sektor teknologi informasi sebelum memutuskan kembali ke India untuk membantu bisnis keluarga. Baginya, masa depan industri fashion akan sangat ditentukan oleh konsep keberlanjutan. Karena itu, perusahaan mereka agresif memperbesar kapasitas produksi dengan keyakinan bahwa permintaan terhadap pakaian ramah lingkungan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1984\" data-end=\"2440\">Setiap bulan, Shree Renga membeli sekitar 900 ton sampah plastik dari berbagai pusat pengumpulan limbah. Di India, botol plastik bekas biasanya dikumpulkan oleh para pemulung sebelum dijual ke tempat penyortiran. Dari sana, limbah dipadatkan dan dijual ke pabrik daur ulang. Namun tidak semua plastik memiliki nilai yang sama. Shree Renga hanya menginginkan PET atau polyethylene terephthalate, jenis plastik yang paling umum digunakan untuk botol minuman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2442\" data-end=\"2783\">Proses pemisahan menjadi tahap paling krusial. Tutup botol, label, lem, hingga jenis plastik lain harus dipisahkan dengan sangat teliti. Jika tercampur dengan material lain, kualitas polyester yang dihasilkan bisa rusak. Perusahaan menggunakan teknologi sensor canggih untuk membedakan PET dengan plastik lain seperti PVC atau polypropylene.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2785\" data-end=\"3131\">Menariknya, hampir tidak ada bagian yang terbuang sia-sia. Tutup botol plastik dijual ke perusahaan lain yang mengolahnya menjadi casing baterai. Lumpur, pasir, dan kotoran hasil pencucian botol bahkan dicampur abu untuk dijadikan batu bata dekoratif di area pabrik. Filosofi \u201ctidak ada yang terbuang\u201d menjadi identitas utama perusahaan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3133\" data-end=\"3460\">Setelah dipisahkan, botol dihancurkan menjadi serpihan kecil atau flakes. Serpihan itu dicuci berkali-kali untuk menghilangkan lem dan kotoran. Mesin kemudian memisahkan plastik berdasarkan ukuran dan kepadatannya. PET akan tenggelam di dalam tangki air, sementara jenis plastik lain mengapung di permukaan dan disaring keluar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3462\" data-end=\"3821\">Tahap berikutnya adalah mengubah serpihan plastik menjadi serat polyester. Secara kimiawi, PET sebenarnya sama dengan polyester. Plastik dilelehkan bersama pigmen warna dalam proses yang dikenal sebagai dope-dyeing. Cairan panas itu kemudian dipaksa melewati pelat logam berlubang kecil bernama spinneret, menghasilkan filamen-filamen tipis menyerupai benang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3823\" data-end=\"4108\">Keunggulan metode ini adalah efisiensinya. Warna sudah dicampurkan langsung ke dalam material sehingga tidak memerlukan proses pewarnaan tambahan yang biasanya menghabiskan air dan energi dalam jumlah besar. Shree Renga bahkan mampu memproduksi sekitar 200 variasi warna serat berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4110\" data-end=\"4397\">Filamen yang keluar dari mesin kemudian didinginkan, diregangkan, dan distabilkan menggunakan serangkaian rol besar. Proses peregangan membuat serat menjadi lebih kuat dan fleksibel. Mesin lain memberikan pola bergelombang pada serat agar lebih mudah dicampur dengan bahan seperti katun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4399\" data-end=\"4679\">Setelah menjadi serat jadi, material dikirim ke pabrik pemintalan benang. Di sana, serat dibuka, disisir, dirapikan, lalu dipintal menjadi benang panjang yang nantinya ditenun menjadi kain. Dari titik ini, proses produksi pakaian berlangsung seperti industri tekstil pada umumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4681\" data-end=\"5047\">Namun kisah polyester sebenarnya jauh lebih panjang daripada sekadar daur ulang botol plastik. Material sintetis ini lahir dari eksperimen laboratorium pada awal abad ke-20. Ketika perusahaan kimia <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">DuPont<\/span><\/span> berhasil mengembangkan serat sintetis pertama, dunia menyambutnya sebagai terobosan besar yang mampu menggantikan sutra dan katun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5049\" data-end=\"5370\">Pada masa Perang Dunia II, pasokan sutra dari Jepang ke Amerika Serikat terhenti total. Nylon dan polyester kemudian muncul sebagai alternatif murah dan praktis. Di era 1950-an, polyester dipasarkan sebagai kain \u201cajaib\u201d yang tidak mudah kusut. Memasuki dekade 1970-an, harganya bahkan menjadi lebih murah dibanding katun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5372\" data-end=\"5657\">Industri fashion segera jatuh cinta pada material ini. Polyester kuat, fleksibel, mudah diwarnai, cepat kering, tahan panas, dan tahan noda. Semua karakteristik itu sangat cocok untuk produksi massal pakaian modern. Pada akhirnya, polyester menjadi tulang punggung fast fashion global. Merek-merek seperti <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Gap<\/span><\/span>, <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">H&amp;M<\/span><\/span>, <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Zara<\/span><\/span>, dan <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Forever 21<\/span><\/span> ikut mendorong ledakan penggunaan polyester karena material ini memungkinkan produksi pakaian murah dalam jumlah besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5959\" data-end=\"6207\">Dampaknya luar biasa besar. Pada tahun 2020 saja, produksi polyester dunia disebut cukup untuk memenuhi sekitar 2,5 juta truk sampah. Ironisnya, kurang dari 15 persen berasal dari material daur ulang. Sisanya diproduksi dari bahan bakar fosil baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6209\" data-end=\"6526\">Masalah tidak berhenti di sana. Industri fashion juga menghasilkan limbah pakaian dalam jumlah masif. Sebuah studi menunjukkan bahwa setiap detik, satu truk penuh pakaian dibuang ke tempat pembuangan akhir atau dibakar. Kebiasaan konsumen membeli pakaian murah dalam jumlah besar membuat siklus limbah terus membesar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6528\" data-end=\"6858\">Karena itulah polyester daur ulang mulai dipandang sebagai solusi sementara. Dibanding polyester baru, material hasil daur ulang dapat menghasilkan emisi sekitar 70 persen lebih rendah. Banyak perusahaan fashion kemudian berlomba menunjukkan komitmen keberlanjutan mereka dengan meningkatkan penggunaan polyester hasil daur ulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6860\" data-end=\"7151\">Pada awal 2024, lebih dari 120 perusahaan pakaian berjanji meningkatkan penggunaan polyester daur ulang. Shree Renga sendiri meluncurkan merek pakaian bernama Ecoline pada 2021. Sebagian besar produknya menggunakan 100 persen polyester daur ulang, meski beberapa masih dicampur dengan katun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7153\" data-end=\"7367\">Seluruh proses produksi dilakukan dalam fasilitas yang sama, mulai dari botol plastik hingga pakaian jadi. Bahkan sisa kain cacat pun tidak dibuang. Bagian yang rusak dipotong dan dikembalikan ke proses daur ulang.Bisnis keluarga ini mendapat perhatian besar ketika Perdana Menteri India, <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Narendra Modi<\/span><\/span>, mengenakan salah satu rompi produksi mereka pada 2023. Bagi keluarga Sankar, momen itu menjadi simbol bahwa pakaian berbahan sampah plastik akhirnya diterima secara luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7655\" data-end=\"8012\">Namun di balik optimisme tersebut, ada kenyataan yang jauh lebih kompleks. Polyester daur ulang tetaplah plastik. Ketika pakaian sintetis dicuci, serat mikroplastik berukuran sangat kecil dapat terlepas ke saluran air dan akhirnya mencemari laut. Beberapa penelitian memperkirakan bahwa serat sintetis menyumbang lebih dari sepertiga mikroplastik di lautan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8014\" data-end=\"8376\">Selain itu, mendaur ulang pakaian polyester jauh lebih rumit dibanding mendaur ulang botol plastik. Pakaian biasanya tercampur dengan katun, spandex, pewarna, dan bahan kimia lain yang sulit dipisahkan. Metode termurah saat ini adalah menghancurkan kain menjadi serat pendek, tetapi hasilnya berkualitas lebih rendah sehingga harus dicampur dengan material baru.Akibatnya, sebagian besar pakaian bekas hanya \u201cditurunkan kelasnya\u201d menjadi karpet atau bahan isolasi. Sangat sedikit yang benar-benar diubah kembali menjadi pakaian baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8551\" data-end=\"8844\">Karena itu, sejumlah perusahaan mulai mengembangkan teknologi \u201cfiber-to-fiber recycling\u201d, yaitu mendaur ulang pakaian lama menjadi pakaian baru. Salah satu eksperimen dilakukan oleh lembaga riset tekstil di Hong Kong bersama <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">H&amp;M<\/span><\/span> melalui mesin bernama Looop. Mesin tersebut mampu mengubah pakaian bekas menjadi sweater baru hanya dalam tiga hari. Prosesnya melibatkan sterilisasi, pencacahan kain, pencampuran serat baru, hingga pemintalan ulang menjadi benang baru. Konsumen bahkan bisa menyaksikan langsung proses daur ulang tersebut di toko.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9133\" data-end=\"9390\">Meski terdengar revolusioner, teknologi ini masih mahal dan lambat. Dibutuhkan waktu tiga hari hanya untuk mendaur ulang satu pakaian. Hingga kini belum ada pabrik berskala besar yang mampu memproses ribuan ton pakaian setiap hari menggunakan metode serupa. Perusahaan lain seperti <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Inditex<\/span><\/span> dan Gap juga mulai berinvestasi pada perusahaan teknologi daur ulang bernama <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Ambercycle<\/span><\/span>. Perusahaan tersebut mengembangkan proses kimia yang mampu memisahkan polyester dari pewarna dan material lain tanpa memerlukan serat baru tambahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9723\" data-end=\"9935\">Tantangan terbesar tetap soal biaya. Polyester baru masih jauh lebih murah dibanding material hasil daur ulang. Hingga saat ini, kurang dari satu persen pakaian lama benar-benar didaur ulang menjadi pakaian baru. Sementara itu, fast fashion belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Penggunaan serat sintetis diperkirakan bisa mencapai hampir tiga perempat produksi tekstil global pada 2030. Artinya, tekanan terhadap lingkungan kemungkinan masih akan terus meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10192\" data-end=\"10508\">Dalam situasi seperti ini, daur ulang plastik menjadi pakaian dipandang bukan sebagai solusi sempurna, melainkan langkah transisi. Sebagian aktivis lingkungan bahkan berpendapat bahwa botol plastik sebaiknya didaur ulang kembali menjadi botol, karena proses tersebut bisa dilakukan berkali-kali dengan lebih efisien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10510\" data-end=\"10786\">Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa kurang dari 10 persen plastik dunia benar-benar sampai ke pusat daur ulang. Bagi Senthil dan keluarganya, mengubah sampah plastik menjadi pakaian setidaknya bisa memperpanjang umur material tersebut sebelum akhirnya menjadi limbah. Di tengah gunungan sampah plastik global, filosofi itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi industri fashion yang selama ini identik dengan konsumsi berlebihan, setiap botol yang tidak berakhir di lautan menjadi kemenangan kecil yang berarti.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibizmedia-Kolom) Di sebuah pabrik di India selatan, jutaan botol plastik bekas yang sebelumnya dianggap sampah kini berubah menjadi benang polyester berwarna-warni. Botol-botol itu tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir atau mengotori sungai dan lautan, melainkan diproses menjadi pakaian yang dipakai manusia sehari-hari. Di balik transformasi tersebut berdiri perusahaan keluarga bernama Shree Renga, yang setiap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101039,"featured_media":230873,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0},"categories":[194],"tags":[34311],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v17.7.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dari Sampah Plastik Menjadi Masa Depan Fashion - Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibizmedia-Kolom) Di sebuah pabrik di India selatan, jutaan botol plastik bekas yang sebelumnya dianggap sampah kini berubah menjadi benang polyester berwarna-warni. Botol-botol itu tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir atau mengotori sungai dan lautan, melainkan diproses menjadi pakaian yang dipakai manusia sehari-hari. Di balik transformasi tersebut berdiri perusahaan keluarga bernama Shree Renga, yang setiap [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-19T02:44:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Ilustrasi-Fruits-Market-in-India-Foto-Shivam-Grover-Unsplash.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"6000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"4000\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\",\"name\":\"Vibizmedia.com\",\"description\":\"Business, Culture and Research\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Ilustrasi-Fruits-Market-in-India-Foto-Shivam-Grover-Unsplash.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Ilustrasi-Fruits-Market-in-India-Foto-Shivam-Grover-Unsplash.jpg\",\"width\":6000,\"height\":4000,\"caption\":\"Ilustrasi: Fruits Market in India (Foto: Shivam Grover\/ Unsplash)\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/\",\"name\":\"Dari Sampah Plastik Menjadi Masa Depan Fashion - Vibizmedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-05-19T02:44:32+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-19T02:44:32+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dari Sampah Plastik Menjadi Masa Depan Fashion\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/fadjar\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Dari Sampah Plastik Menjadi Masa Depan Fashion - Vibizmedia.com","og_description":"(Vibizmedia-Kolom) Di sebuah pabrik di India selatan, jutaan botol plastik bekas yang sebelumnya dianggap sampah kini berubah menjadi benang polyester berwarna-warni. Botol-botol itu tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir atau mengotori sungai dan lautan, melainkan diproses menjadi pakaian yang dipakai manusia sehari-hari. Di balik transformasi tersebut berdiri perusahaan keluarga bernama Shree Renga, yang setiap [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/","og_site_name":"Vibizmedia.com","article_published_time":"2026-05-19T02:44:32+00:00","og_image":[{"width":6000,"height":4000,"url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Ilustrasi-Fruits-Market-in-India-Foto-Shivam-Grover-Unsplash.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/","name":"Vibizmedia.com","description":"Business, Culture and Research","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#primaryimage","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Ilustrasi-Fruits-Market-in-India-Foto-Shivam-Grover-Unsplash.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Ilustrasi-Fruits-Market-in-India-Foto-Shivam-Grover-Unsplash.jpg","width":6000,"height":4000,"caption":"Ilustrasi: Fruits Market in India (Foto: Shivam Grover\/ Unsplash)"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#webpage","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/","name":"Dari Sampah Plastik Menjadi Masa Depan Fashion - Vibizmedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#primaryimage"},"datePublished":"2026-05-19T02:44:32+00:00","dateModified":"2026-05-19T02:44:32+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/05\/19\/dari-sampah-plastik-menjadi-masa-depan-fashion\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dari Sampah Plastik Menjadi Masa Depan Fashion"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/fadjar\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/412083"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101039"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=412083"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/412083\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":412084,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/412083\/revisions\/412084"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/230873"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=412083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=412083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=412083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}