{"id":413593,"date":"2026-06-24T13:54:07","date_gmt":"2026-06-24T06:54:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?p=413593"},"modified":"2026-06-24T13:54:07","modified_gmt":"2026-06-24T06:54:07","slug":"mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/","title":{"rendered":"Mengapa Orang Eropa Semakin Takut Belanja"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"74\" data-end=\"278\">(Vibizmedia &#8211; Kolom)\u00a0 David, seorang insinyur material di Republik Ceko, baru-baru ini sampai pada kesimpulan bahwa ia memiliki masalah dengan uang. Ia merasa takut untuk membelanjakannya.Pria berusia 24 tahun itu berhenti membeli sneaker, yang sebelumnya gemar ia koleksi, dan sering merasa khawatir terhadap pembelian kecil seperti pengisi daya telepon. David telah menabung secara agresif\u2014biasanya lebih dari separuh pendapatannya\u2014namun mulai khawatir bahwa ia telah melakukannya secara berlebihan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengatakan bahwa dirinya sempat melihat-lihat sepatu Jordan yang diinginkannya, tetapi kemudian berpikir bahwa harga tersebut terlalu mahal dan lebih baik disimpan sebagai tabungan. Ia juga menyadari bahwa sekarang dirinya membeli lebih sedikit barang dibandingkan ketika ia memiliki uang yang lebih sedikit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang Eropa semakin memperkuat budaya hidup hemat dalam beberapa tahun terakhir\u2014sebuah persoalan ekonomi tambahan bagi kawasan tersebut. Keengganan konsumen untuk berbelanja menjadi salah satu alasan utama mengapa Eropa tertinggal dari Amerika Serikat, di mana konsumsi yang kuat, terutama dari kelompok berpendapatan tinggi, terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Perusahaan-perusahaan Eropa yang memproduksi sejumlah barang paling diminati di dunia\u2014tas mewah, jam tangan, dan pakaian\u2014kini sangat bergantung pada konsumen Amerika dan Asia untuk mendorong pertumbuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara warga Amerika sering tidak memiliki masalah dalam memaksimalkan penggunaan kartu kredit mereka, hidup hemat telah mengakar kuat, terutama di wilayah utara Eropa. Norma sosial yang telah berlangsung lama mengenai penghematan dan kesederhanaan, ditambah kenangan tentang kelangkaan selama masa perang dan inflasi, telah menjadikan menabung sebagai obsesi sekaligus kewajiban moral. Dalam bahasa Belanda dan Jerman, kata untuk utang juga memiliki arti rasa bersalah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masyarakat di seluruh dunia merasakan kejutan akibat kenaikan harga, tetapi inflasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir tampaknya memberikan dampak psikologis yang lebih besar bagi warga Eropa. Lebih dari tiga tahun setelah inflasi mencapai puncaknya, konsumen masih menabung lebih banyak dan sebagian besar hanya membelanjakan uang untuk kebutuhan pokok, menurut data transaksi yang dianalisis Visa. Kebangkitan kembali inflasi yang dipicu perang di Iran kini mengancam memperburuk kelesuan konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsumsi rumah tangga meningkat 5,5 persen di zona euro dan 2 persen di Inggris sejak 2019, dibandingkan dengan 18 persen di Amerika Serikat, menurut data yang telah disesuaikan dengan inflasi dari OECD. Elena, kepala ekonom sebuah bank di Belanda, mengatakan bahwa kondisi tersebut menjelaskan sebagian besar perbedaan pertumbuhan antara Amerika Serikat dan Eropa dalam beberapa tahun terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalahnya bukan karena warga Eropa rata-rata tidak memiliki uang. Pendapatan riil yang dapat dibelanjakan, setelah memperhitungkan inflasi, kini sekitar 8 persen lebih tinggi di zona euro dibandingkan sebelum pandemi. Elena memperkirakan bahwa apabila rumah tangga kembali ke tingkat tabungan sebelum pandemi, produk domestik bruto zona euro akan sekitar 1,3 persen lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Elena, Eropa akan sangat diuntungkan apabila mampu meningkatkan permintaan domestik karena lemahnya konsumsi merupakan salah satu penghambat besar bagi perekonomian.Langkah-langkah seperti pemotongan pajak dapat membantu meningkatkan belanja masyarakat, tetapi banyak pemerintah menghadapi keterbatasan akibat tingginya tingkat utang, kebutuhan investasi pertahanan, dan populasi yang menua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rumah tangga di zona euro menabung sekitar 15 persen dari pendapatan yang dapat dibelanjakan tahun lalu, dibandingkan sekitar 12,5 persen sebelum pandemi. Di Inggris, rasio tabungan hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi. Sementara itu, tingkat tabungan warga Amerika justru turun jauh di bawah tingkat sebelum pandemi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sebuah kawasan makmur di barat daya London, Sophie dulunya terbiasa mengeluarkan uang untuk menonton teater, makan malam bersama pasangan di restoran China kelas atas, dan berlibur ke luar negeri ke tempat-tempat seperti Kenya bersama suami dan kedua anaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sophie dan suaminya mengalami kenaikan gaji dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ia mengaku tidak lagi sanggup membayar berbagai hal seperti cokelat Lindt atau makan malam di luar sejak lonjakan inflasi pada 2022. Ia beralih ke toko bahan makanan yang lebih murah, menggunakan merek generik, dan menabung jauh lebih banyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sophie mengatakan bahwa keluarganya dahulu menikmati gaya hidup yang cukup nyaman, tetapi sekarang mereka telah memangkas banyak pengeluaran. Menurutnya, mereka sebenarnya mampu membayar berbagai kebutuhan tersebut, tetapi kini memilih untuk tidak melakukannya.Sebagian warga Eropa, terutama generasi muda, khawatir bahwa dana pensiun pemerintah tidak akan mampu menopang mereka di masa depan ketika populasi yang menua semakin membebani sistem kesejahteraan sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lucas, seorang konsultan strategi berusia 32 tahun di Paris, mengatakan bahwa sekitar satu setengah tahun lalu ia menyadari bahwa sebagai warga Eropa tidak cukup hanya mengandalkan pensiun yang disediakan negara. Ia menilai bahwa masa depan generasinya akan sangat berbeda dibandingkan generasi orang tua mereka.Lucas mulai menyusun anggaran beberapa tahun lalu dengan menggunakan lembar Excel untuk melacak seluruh pengeluarannya. Ia pindah ke apartemen yang lebih murah dan berusaha menabung sekitar 50 persen dari pendapatannya. Ia juga mulai berinvestasi dalam saham dan dana indeks.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak warga Eropa masih skeptis terhadap investasi. Mereka menyimpan sekitar sepertiga aset keuangan mereka dalam bentuk tunai atau rekening bank dengan tingkat bunga rendah yang sering kali tertinggal dari inflasi. Para ekonom menilai mereka akan lebih diuntungkan apabila berinvestasi lebih banyak di pasar keuangan seperti yang dilakukan warga Amerika. Mengalihkan sebagian dari triliunan euro yang mengendap di rekening bank rumah tangga ke investasi yang lebih produktif juga diyakini dapat membantu perekonomian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Emma, seorang psikolog keuangan dan pelatih yang berbasis di dekat Frankfurt, menyelenggarakan seminar bagi trader dan penasihat keuangan untuk membantu mereka merasa lebih nyaman dalam mengambil risiko.Emma menjelaskan bahwa pasar saham belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di negaranya sehingga banyak orang masih memandangnya sebagai sesuatu yang berbahaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Emma meminta peserta seminarnya menuliskan sejarah keluarga mereka terkait uang. Ia pernah menggunakan boneka tangan untuk membantu seorang klien menghadapi kecemasannya dalam memutuskan apakah akan menginvestasikan warisan keluarga yang diterimanya. Pada akhirnya, klien tersebut memutuskan untuk berinvestasi. Menurut Emma, akar masalahnya adalah banyak warga Jerman menganggap uang sebagai sumber keamanan sehingga gagasan untuk melepaskan uang sering membuat mereka merasa lumpuh oleh ketakutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia berpendapat bahwa masyarakat Jerman cenderung memproyeksikan keamanan pada uang, sementara masyarakat Amerika lebih memproyeksikan kebebasan. Emma menambahkan bahwa seseorang tidak akan pernah berkembang jika tujuan utamanya hanya menghindari ketidakpastian.Bagi banyak warga Eropa, kebutuhan untuk menabung merupakan pelajaran yang diwariskan oleh orang tua dan kakek-nenek yang pernah mengalami kehancuran ekonomi akibat perang di abad ke-20.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Belanda, Michael tumbuh dengan melihat ayahnya, yang lahir pada masa Perang Dunia II, hanya mengganti pakaian ketika pakaian tersebut benar-benar sudah rusak. Kemewahan terbesar keluarganya adalah makan di Applebee\u2019s, jaringan restoran Amerika yang dahulu pernah beroperasi di Belanda.Ketika masih remaja, Michael membeli sepasang sepatu Nike menggunakan uang hasil pekerjaannya mengantar koran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengenang bahwa sepatu tersebut sangat ia sukai, tetapi pembelian itu memicu pertengkaran besar dengan ayahnya karena telah menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk sepasang sepatu. Menurut Michael, ayahnya sama sekali tidak dapat memahami keputusan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Michael menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan rasa takut membelanjakan uang, tetapi dalam beberapa tahun terakhir ia berusaha mengambil pendekatan yang lebih santai. Ia mulai lebih sering pergi ke restoran dan berlibur.Ia mengatakan bahwa dirinya harus belajar bagaimana membelanjakan uang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibizmedia &#8211; Kolom)\u00a0 David, seorang insinyur material di Republik Ceko, baru-baru ini sampai pada kesimpulan bahwa ia memiliki masalah dengan uang. Ia merasa takut untuk membelanjakannya.Pria berusia 24 tahun itu berhenti membeli sneaker, yang sebelumnya gemar ia koleksi, dan sering merasa khawatir terhadap pembelian kecil seperti pengisi daya telepon. David telah menabung secara agresif\u2014biasanya lebih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101039,"featured_media":383585,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0},"categories":[22,194],"tags":[5649],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v17.7.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengapa Orang Eropa Semakin Takut Belanja - Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibizmedia &#8211; Kolom)\u00a0 David, seorang insinyur material di Republik Ceko, baru-baru ini sampai pada kesimpulan bahwa ia memiliki masalah dengan uang. Ia merasa takut untuk membelanjakannya.Pria berusia 24 tahun itu berhenti membeli sneaker, yang sebelumnya gemar ia koleksi, dan sering merasa khawatir terhadap pembelian kecil seperti pengisi daya telepon. David telah menabung secara agresif\u2014biasanya lebih [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-24T06:54:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/eropanew-696x498-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"696\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"498\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\",\"name\":\"Vibizmedia.com\",\"description\":\"Business, Culture and Research\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/eropanew-696x498-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/eropanew-696x498-1.jpg\",\"width\":696,\"height\":498,\"caption\":\"Vibizmedia Photo\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/\",\"name\":\"Mengapa Orang Eropa Semakin Takut Belanja - Vibizmedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-06-24T06:54:07+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-24T06:54:07+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengapa Orang Eropa Semakin Takut Belanja\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/fadjar\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengapa Orang Eropa Semakin Takut Belanja - Vibizmedia.com","og_description":"(Vibizmedia &#8211; Kolom)\u00a0 David, seorang insinyur material di Republik Ceko, baru-baru ini sampai pada kesimpulan bahwa ia memiliki masalah dengan uang. Ia merasa takut untuk membelanjakannya.Pria berusia 24 tahun itu berhenti membeli sneaker, yang sebelumnya gemar ia koleksi, dan sering merasa khawatir terhadap pembelian kecil seperti pengisi daya telepon. David telah menabung secara agresif\u2014biasanya lebih [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/","og_site_name":"Vibizmedia.com","article_published_time":"2026-06-24T06:54:07+00:00","og_image":[{"width":696,"height":498,"url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/eropanew-696x498-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/","name":"Vibizmedia.com","description":"Business, Culture and Research","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#primaryimage","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/eropanew-696x498-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/eropanew-696x498-1.jpg","width":696,"height":498,"caption":"Vibizmedia Photo"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#webpage","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/","name":"Mengapa Orang Eropa Semakin Takut Belanja - Vibizmedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#primaryimage"},"datePublished":"2026-06-24T06:54:07+00:00","dateModified":"2026-06-24T06:54:07+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-eropa-semakin-takut-belanja\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengapa Orang Eropa Semakin Takut Belanja"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/fadjar\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413593"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101039"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413593"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413593\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413594,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413593\/revisions\/413594"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/383585"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413593"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413593"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413593"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}