{"id":416311,"date":"2026-08-21T20:37:35","date_gmt":"2026-08-21T13:37:35","guid":{"rendered":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?p=416311"},"modified":"2026-08-22T04:53:03","modified_gmt":"2026-08-21T21:53:03","slug":"mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/","title":{"rendered":"Mengukur Daya Saing Investasi Sebuah Negara"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Vibizmedia-Kolom) McKinsey mengembangkan sebuah kerangka untuk mengukur daya saing investasi secara lebih sistematis. Fokusnya bukan lagi pada besarnya investasi yang masuk atau rendahnya biaya produksi semata, tetapi pada kemampuan suatu negara atau wilayah untuk menciptakan kondisi yang membuat investasi dapat menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, daya saing investasi tidak dipandang sebagai satu indikator tunggal, melainkan kombinasi berbagai faktor yang memengaruhi keputusan perusahaan untuk menempatkan modalnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Mengapa daya saing investasi sulit diukur<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu tantangan terbesar dalam analisis investasi adalah tidak adanya ukuran tunggal yang dapat menjelaskan mengapa investasi mengalir ke suatu lokasi. Sebuah negara dapat memiliki upah tenaga kerja yang rendah tetapi energi yang mahal. Negara lain mungkin memiliki biaya energi yang murah tetapi kekurangan tenaga kerja terampil. Ada pula negara yang menawarkan pasar domestik besar tetapi memiliki biaya logistik yang tinggi. Karena itu, McKinsey berpendapat bahwa pendekatan yang hanya melihat satu faktor, seperti biaya tenaga kerja atau tingkat pajak, tidak cukup untuk menjelaskan pola investasi global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kompleksitas tersebut membuat perusahaan melakukan evaluasi yang jauh lebih luas ketika menentukan lokasi investasi. Mereka tidak hanya membandingkan satu komponen biaya, tetapi seluruh faktor yang memengaruhi profitabilitas proyek sepanjang siklus hidup investasi. Oleh karena itu, pengukuran daya saing investasi harus mampu menangkap interaksi berbagai faktor yang menentukan keberhasilan suatu proyek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Investment Competitiveness Scoreboard sebagai alat analisis<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menjawab tantangan tersebut, McKinsey mengembangkan <em>Investment Competitiveness Scoreboard<\/em>. Kerangka ini dirancang untuk menghubungkan hasil investasi dengan faktor-faktor yang memengaruhi keputusan investasi. Tujuannya bukan untuk menghasilkan satu peringkat sederhana, tetapi untuk memberikan gambaran mengenai posisi relatif suatu negara dalam berbagai aspek yang memengaruhi daya saing investasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Scoreboard ini membantu menjelaskan mengapa suatu negara mampu menarik investasi dalam jumlah besar, mengapa negara lain tertinggal, dan faktor apa yang perlu diperbaiki agar investasi menjadi lebih kompetitif. Dengan demikian, alat ini tidak hanya berguna bagi investor, tetapi juga bagi pembuat kebijakan yang ingin memahami kelebihan dan kelemahan daya saing nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tiga dimensi utama daya saing investasi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">McKinsey membangun kerangka tersebut berdasarkan tiga dimensi utama, yaitu intensitas investasi (<em>investment intensity<\/em>), alokasi investasi (<em>investment allocation<\/em>), dan daya tarik investasi (<em>investment attractiveness<\/em>). Ketiga dimensi ini saling melengkapi dan memberikan perspektif yang berbeda mengenai daya saing suatu perekonomian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Intensitas investasi menggambarkan seberapa besar investasi yang terjadi dibandingkan ukuran aktivitas ekonomi. Alokasi investasi menunjukkan sektor atau industri mana yang menerima investasi lebih besar dibandingkan kontribusinya terhadap perekonomian. Sementara itu, daya tarik investasi mencoba menjelaskan faktor-faktor yang membuat suatu lokasi dipilih oleh investor.Ketiga dimensi tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan hanya melihat arus investasi atau pertumbuhan ekonomi secara terpisah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Investment intensity menunjukkan pembangunan kapasitas masa depan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsep <em>investment intensity<\/em> menjadi salah satu komponen paling penting dalam kerangka McKinsey. Indikator ini membandingkan pangsa investasi suatu negara dengan pangsa aktivitas ekonominya dalam industri tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika pangsa investasi lebih besar daripada pangsa produksi atau nilai tambah, hal tersebut menunjukkan bahwa negara tersebut sedang membangun kapasitas baru yang berpotensi meningkatkan posisinya pada masa depan. Sebaliknya, apabila pangsa investasinya lebih rendah dibandingkan pangsa produksinya, negara tersebut mungkin sedang kehilangan momentum investasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, <em>investment intensity<\/em> dapat digunakan sebagai indikator awal untuk membaca perubahan daya saing industri sebelum perubahan tersebut terlihat dalam data produksi atau ekspor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Alokasi investasi menunjukkan prioritas ekonomi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dimensi kedua adalah <em>investment allocation<\/em>. McKinsey menekankan bahwa investasi tidak tersebar secara merata antarindustri. Beberapa sektor menerima investasi jauh lebih besar karena dianggap memiliki prospek pertumbuhan yang lebih tinggi atau nilai strategis yang lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">China, misalnya, menerima investasi yang sangat besar dalam manufaktur, elektronik, dan mesin. Amerika Serikat menunjukkan konsentrasi investasi yang tinggi pada ICT, software, dan inovasi teknologi. Sementara itu, sektor tertentu di Eropa mengalami investasi yang lebih rendah dibandingkan kebutuhan untuk mempertahankan kapasitas industrinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Analisis alokasi investasi membantu mengidentifikasi sektor mana yang sedang menjadi fokus pembangunan kapasitas dan sektor mana yang berpotensi mengalami tekanan kompetitif pada masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Investment attractiveness menjelaskan alasan di balik investasi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dimensi ketiga adalah <em>investment attractiveness<\/em>. Jika dua dimensi sebelumnya menjelaskan hasil investasi, maka dimensi ini mencoba menjelaskan penyebabnya.Daya tarik investasi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti biaya tenaga kerja, biaya energi, biaya material, biaya modal, produktivitas, kualitas infrastruktur, akses pasar, kecepatan pembangunan proyek, dan risiko operasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">McKinsey menunjukkan bahwa investor tidak memilih lokasi berdasarkan satu faktor tunggal. Mereka mempertimbangkan kombinasi seluruh faktor tersebut dalam menentukan apakah suatu proyek dapat menghasilkan keuntungan yang memadai.Karena itu, negara yang ingin meningkatkan investasi perlu memahami faktor mana yang menjadi sumber keunggulan dan faktor mana yang justru mengurangi daya saingnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Biaya bukan satu-satunya penjelasan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu temuan menarik dari analisis McKinsey adalah bahwa biaya yang rendah tidak selalu menghasilkan investasi yang tinggi. Dalam beberapa kasus, negara dengan biaya tertentu yang lebih tinggi tetap mampu menarik investasi karena memiliki produktivitas lebih tinggi, akses pasar lebih baik, atau ekosistem industri yang lebih matang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaliknya, negara dengan biaya tenaga kerja rendah tidak selalu berhasil menarik investasi jika produktivitas rendah, infrastruktur terbatas, atau proses bisnis terlalu lambat.Temuan ini menunjukkan bahwa daya saing investasi merupakan hasil dari keseimbangan antara biaya dan kemampuan menghasilkan nilai tambah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Produktivitas menjadi faktor pembeda<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam banyak industri, produktivitas menjadi faktor yang membedakan negara yang benar-benar kompetitif dengan negara yang hanya menawarkan biaya murah.Perusahaan tidak menghitung berapa besar upah yang dibayarkan kepada pekerja. Mereka menghitung berapa biaya tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit output. Dengan demikian, produktivitas yang lebih tinggi dapat mengimbangi tingkat upah yang lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal yang sama berlaku pada penggunaan energi, mesin, dan modal. Semakin produktif penggunaan faktor-faktor tersebut, semakin kuat posisi kompetitif sebuah proyek.Karena itu, investasi pada pendidikan, keterampilan, teknologi, dan inovasi memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar menurunkan biaya produksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Keunggulan harus dilihat per industri<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">McKinsey juga menekankan bahwa daya saing tidak dapat diukur secara seragam untuk semua sektor.Industri baterai memiliki struktur biaya yang berbeda dengan industri farmasi. Industri semikonduktor memiliki kebutuhan yang berbeda dengan industri pengolahan makanan. Pusat data memiliki faktor keberhasilan yang berbeda dibandingkan industri baja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, analisis daya saing harus dilakukan pada tingkat industri, bukan hanya pada tingkat nasional. Sebuah negara dapat sangat kompetitif dalam satu sektor tetapi kurang kompetitif dalam sektor lainnya.Pendekatan ini membantu menjelaskan mengapa beberapa negara berhasil menjadi pusat global dalam industri tertentu meskipun tidak selalu unggul dalam seluruh sektor ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Peran ekosistem dalam menarik investasi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain biaya dan produktivitas, McKinsey menunjukkan pentingnya ekosistem industri. Keberadaan pemasok, pelanggan, lembaga penelitian, tenaga kerja terampil, dan infrastruktur pendukung dapat menciptakan keuntungan yang sulit ditiru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika sebuah industri berkembang di suatu wilayah, investasi baru cenderung mengikuti karena perusahaan dapat memanfaatkan jaringan yang sudah ada. Ekosistem tersebut mengurangi biaya koordinasi, mempercepat inovasi, dan meningkatkan efisiensi operasional.Karena itu, keberhasilan investasi sering kali bersifat kumulatif. Semakin kuat sebuah ekosistem industri, semakin besar kemampuannya menarik investasi tambahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Kecepatan menjadi bagian dari daya saing<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">McKinsey juga memasukkan waktu sebagai bagian dari daya saing investasi. Dalam banyak industri modern, kemampuan memulai operasi lebih cepat dapat menjadi keunggulan yang sangat berharga.Keterlambatan pembangunan fasilitas, proses perizinan yang panjang, atau hambatan administratif dapat meningkatkan biaya dan mengurangi keuntungan proyek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, kecepatan menjadi faktor ekonomi yang nyata. Negara yang mampu mempercepat proses investasi dapat meningkatkan daya saingnya bahkan tanpa mengubah struktur biaya secara signifikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Risiko memengaruhi keputusan investasi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain potensi keuntungan, investor juga memperhitungkan risiko. Semakin tinggi ketidakpastian yang dihadapi suatu proyek, semakin tinggi pula tingkat pengembalian yang dibutuhkan untuk membenarkan investasi tersebut.Risiko dapat berasal dari perubahan regulasi, ketidakpastian kebijakan, gangguan rantai pasok, volatilitas energi, atau ketegangan geopolitik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, stabilitas dan kepastian menjadi bagian penting dari daya saing investasi. Negara yang mampu menciptakan lingkungan bisnis yang dapat diprediksi memiliki peluang lebih besar untuk menarik modal jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Scoreboard sebagai alat kebijakan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu nilai utama dari <em>Investment Competitiveness Scoreboard<\/em> adalah kemampuannya membantu pembuat kebijakan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.Alih-alih hanya berfokus pada peningkatan nilai investasi, pemerintah dapat melihat faktor-faktor yang benar-benar memengaruhi keputusan investor. Apakah masalah utama terletak pada energi? Produktivitas? Infrastruktur? Keterampilan tenaga kerja? Atau proses perizinan?Pendekatan ini memungkinkan kebijakan yang lebih terarah dan lebih efektif dalam meningkatkan daya saing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Indonesia dalam perspektif scoreboard<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Indonesia, kerangka ini memberikan cara yang lebih komprehensif untuk menilai posisi daya saing investasi. Indonesia memiliki sejumlah keunggulan seperti pasar domestik besar, sumber daya alam melimpah, lokasi strategis, dan tenaga kerja yang relatif kompetitif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor tersebut. Indonesia juga perlu memastikan bahwa produktivitas meningkat, biaya logistik menurun, energi tersedia dengan harga kompetitif, keterampilan tenaga kerja terus berkembang, dan proses investasi dapat berjalan lebih cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan menggunakan pendekatan <em>Investment Competitiveness Scoreboard<\/em>, Indonesia dapat melihat secara lebih jelas sektor mana yang memiliki keunggulan kompetitif dan sektor mana yang masih memerlukan perbaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Dari mengukur investasi menuju memahami investasi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pesan utama dari bagian ini adalah bahwa investasi tidak boleh hanya dilihat sebagai angka realisasi atau nilai modal yang masuk. Yang lebih penting adalah memahami mengapa investasi terjadi, apa yang membuat suatu lokasi kompetitif, dan bagaimana faktor-faktor tersebut dapat diperkuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui <em>Investment Competitiveness Scoreboard<\/em>, McKinsey menunjukkan bahwa daya saing investasi merupakan hasil interaksi antara biaya, produktivitas, risiko, kecepatan, ekosistem industri, dan berbagai faktor lainnya. Negara yang mampu mengelola kombinasi faktor tersebut secara efektif akan memiliki peluang lebih besar untuk menarik investasi, membangun kapasitas produktif, dan memperkuat posisinya dalam ekonomi global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak investasi yang masuk, tetapi apakah investasi tersebut terjadi karena negara tersebut benar-benar menawarkan kondisi yang lebih kompetitif dibandingkan alternatif lainnya. Itulah inti dari konsep <em>investment competitiveness<\/em> yang menjadi landasan analisis McKinsey.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibizmedia-Kolom) McKinsey mengembangkan sebuah kerangka untuk mengukur daya saing investasi secara lebih sistematis. Fokusnya bukan lagi pada besarnya investasi yang masuk atau rendahnya biaya produksi semata, tetapi pada kemampuan suatu negara atau wilayah untuk menciptakan kondisi yang membuat investasi dapat menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, daya saing investasi tidak dipandang sebagai satu indikator [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101039,"featured_media":415291,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0},"categories":[194],"tags":[6153],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v17.7.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengukur Daya Saing Investasi Sebuah Negara - Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibizmedia-Kolom) McKinsey mengembangkan sebuah kerangka untuk mengukur daya saing investasi secara lebih sistematis. Fokusnya bukan lagi pada besarnya investasi yang masuk atau rendahnya biaya produksi semata, tetapi pada kemampuan suatu negara atau wilayah untuk menciptakan kondisi yang membuat investasi dapat menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, daya saing investasi tidak dipandang sebagai satu indikator [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibizmedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-21T13:37:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-21T21:53:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/tunacakalangkeJepang.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"900\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\",\"name\":\"Vibizmedia.com\",\"description\":\"Business, Culture and Research\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/tunacakalangkeJepang.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/tunacakalangkeJepang.jpeg\",\"width\":1600,\"height\":900,\"caption\":\"Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan produk olahan tuna dan cakalang Indonesia akan memperoleh tarif preferensi 0 persen saat memasuki pasar Jepang mulai 1 Agustus 2026. Kebijakan ini diyakini dapat meningkatkan daya saing ekspor nasional sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi nelayan dan industri pengolahan ikan. (Foto: KKP)\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/\",\"name\":\"Mengukur Daya Saing Investasi Sebuah Negara - Vibizmedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-08-21T13:37:35+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-21T21:53:03+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengukur Daya Saing Investasi Sebuah Negara\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"url\":\"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/fadjar\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengukur Daya Saing Investasi Sebuah Negara - Vibizmedia.com","og_description":"(Vibizmedia-Kolom) McKinsey mengembangkan sebuah kerangka untuk mengukur daya saing investasi secara lebih sistematis. Fokusnya bukan lagi pada besarnya investasi yang masuk atau rendahnya biaya produksi semata, tetapi pada kemampuan suatu negara atau wilayah untuk menciptakan kondisi yang membuat investasi dapat menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, daya saing investasi tidak dipandang sebagai satu indikator [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/","og_site_name":"Vibizmedia.com","article_published_time":"2026-08-21T13:37:35+00:00","article_modified_time":"2026-08-21T21:53:03+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":900,"url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/tunacakalangkeJepang.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/","name":"Vibizmedia.com","description":"Business, Culture and Research","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#primaryimage","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/tunacakalangkeJepang.jpeg","contentUrl":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/tunacakalangkeJepang.jpeg","width":1600,"height":900,"caption":"Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan produk olahan tuna dan cakalang Indonesia akan memperoleh tarif preferensi 0 persen saat memasuki pasar Jepang mulai 1 Agustus 2026. Kebijakan ini diyakini dapat meningkatkan daya saing ekspor nasional sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi nelayan dan industri pengolahan ikan. (Foto: KKP)"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#webpage","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/","name":"Mengukur Daya Saing Investasi Sebuah Negara - Vibizmedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#primaryimage"},"datePublished":"2026-08-21T13:37:35+00:00","dateModified":"2026-08-21T21:53:03+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/2026\/08\/21\/mengukur-daya-saing-investasi-sebuah-negara\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengukur Daya Saing Investasi Sebuah Negara"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#\/schema\/person\/acd0acd5ac6bfd62391d17ec4280a628","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/#personlogo","inLanguage":"en-US","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d79f24ecb2ad7c15745ba47fab7ce439?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","url":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/author\/fadjar\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416311"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101039"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=416311"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416311\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":416333,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/416311\/revisions\/416333"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/415291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=416311"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=416311"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.vibizmedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=416311"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}