Perkembangan Bencana 16 Juli, BNPB: Gempa Poso, Banjir Manokwari, dan Karhutla di Tiga Provinsi

0
392
Banjir
Banjir yang melanda Kampung Mansaburi di Distrik Masni, Manokwari, Provinsi Papua Barat, pada Selasa, 15 Juli 2025. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan situasi bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia hingga hari ini, Rabu (16/7). Rentetan kejadian meliputi gempa bumi di Sulawesi Tengah, banjir di Papua Barat, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi, antara lain Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Riau.

Situasi pascagempa bumi di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, dilaporkan telah kondusif. Gempa berkekuatan Magnitudo 5,0 terjadi pada Senin (14/7) pukul 19.52 WIB. Meski tidak ada korban jiwa, sebanyak 38 rumah mengalami kerusakan ringan. Sebanyak 20 kepala keluarga (KK) mengungsi sementara waktu, menyebar di rumah kerabat atau mendirikan tenda di halaman rumah masing-masing. BPBD Poso masih melakukan pendataan dan pemantauan terhadap potensi gempa susulan.

Banjir yang melanda Kampung Mansaburi, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat sejak pertengahan Mei 2025, belum sepenuhnya teratasi. Tanggul darurat yang dibangun sebelumnya kembali rusak akibat debit air yang tinggi dan arus deras. Akibatnya, wilayah tersebut kembali tergenang dengan tinggi muka air antara 10 hingga 100 sentimeter.

Data terakhir per 15 Juli mencatat 57 KK atau 215 jiwa terdampak, dengan 57 unit rumah dan 2 fasilitas ibadah mengalami kerusakan. Pemerintah daerah telah mengerahkan alat berat untuk mempercepat penanganan banjir.
Karhutla di Sumatra dan Riau, Pemadaman Terkendala Akses dan Cuaca

Kebakaran hutan dan lahan juga masih menjadi ancaman serius di beberapa wilayah, diantaranya Sumatra Barat, Karhutla terjadi di Nagari Andaleh, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, pada Selasa (15/7). Luas lahan yang terbakar mencapai 3 hektar. Proses pemadaman masih berlangsung dengan dukungan personel dan kendaraan pemadam dari BPBD setempat.

Sedangkan di Sumatra Utara, Karhutla di Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba masih belum dapat dikendalikan hingga Selasa (15/7). Kondisi geografis yang terjal menyulitkan akses kendaraan pemadam, sementara sumber air untuk pemadaman juga terbatas. BPBD mencatat luas lahan terbakar mencapai 4 hektar.

Di Riau, penambahan karhutla sebesar 8 hektar tercatat pada Selasa (15/7), masing-masing di Kepulauan Rantau Bais, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir (5 hektar) dan Desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis (3 hektar). Tim pemadam terus melakukan pendinginan titik panas untuk mencegah perluasan api.

Untuk itu, BNPB terus mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana, baik geologi maupun hidrometeorologi.

Potensi gempa bumi dan erupsi gunung api masih dapat terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, mitigasi dan edukasi kebencanaan di tingkat individu dan komunitas menjadi sangat penting.

Sementara untuk bahaya hidrometeorologi basah, BNPB mencatat peringatan dini cuaca di sejumlah wilayah, yakni Provinsi Aceh, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua.

Adapun potensi kebakaran hutan masih tinggi di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian Kalimantan dan Sulawesi. Warga diimbau tidak melakukan pembakaran lahan atau aktivitas yang dapat memicu percikan api, terutama di daerah rawan.

BNPB menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat dalam menghadapi dan mencegah eskalasi bencana di seluruh wilayah Indonesia.