Dari Pipa Gas hingga Tangki Raksasa, RDMP Balikpapan Dorong Swasembada Energi

0
93
RDMP Balikpapan menghadirkan ekosistem kilang terintegrasi dari hulu ke hilir untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional. (Foto: Pertamina)

(Vibizmedia –  Balikpapan) Sorotan cahaya Kilang Balikpapan kini menjadi pemandangan khas di sepanjang Jalan Yos Sudarso, Balikpapan. Kilau tersebut bukan sekadar menandai aktivitas industri, melainkan mencerminkan hadirnya Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menopang infrastruktur energi terintegrasi Indonesia.

Melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) bersama anak usahanya, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), membangun ekosistem energi modern yang dirancang untuk memperkuat kemandirian dan swasembada energi nasional.

RDMP Balikpapan tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan kapasitas pengolahan, tetapi juga pada keterpaduan sistem energi dari hulu hingga hilir. Infrastruktur ini ibarat dapur raksasa modern yang tak hanya membutuhkan “kompor”, tetapi juga pasokan energi yang andal, fasilitas penyimpanan memadai, serta sistem distribusi yang efisien.

Agar proses pengolahan minyak mentah berjalan optimal, kilang memerlukan suplai panas dalam jumlah besar. Peran tersebut dijalankan oleh Pipa Gas Senipah–Balikpapan sepanjang 78 kilometer yang berfungsi layaknya “selang gas” bagi kilang. Dengan kapasitas alir mencapai 125 MMSCFD, pipa ini memastikan proses pengolahan berlangsung stabil dan berkelanjutan.

Sebelum memasuki tahap pengolahan, minyak mentah terlebih dahulu diterima dan disimpan. Di perairan Kabupaten Penajam Paser Utara, Pertamina membangun fasilitas penerimaan minyak mentah berupa Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 Dead Weight Ton (DWT). Dermaga terapung ini mampu melayani kapal Very Large Crude Carrier (VLCC), sehingga mendukung pasokan minyak mentah dalam skala besar.

Masih di kawasan Lawe-Lawe, Pertamina juga membangun dua tangki raksasa berkapasitas masing-masing 1 juta barel. Kehadiran fasilitas ini meningkatkan total kapasitas penyimpanan Kilang Balikpapan menjadi 7,6 juta barel, sehingga ketahanan cadangan bahan baku nasional semakin terjaga. Seluruh fasilitas tersebut terhubung melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 20 kilometer yang membentang di darat maupun bawah laut.

Proses pengolahan minyak mentah menjadi produk bernilai tambah dilakukan oleh fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Kapasitas CDU meningkat signifikan menjadi 360 ribu barel per hari dari sebelumnya 260 ribu barel, memungkinkan pengolahan minyak dalam volume yang lebih besar. Sementara itu, unit RFCC berperan mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi.

Melalui sistem pengolahan canggih tersebut, Kilang Balikpapan mampu menghasilkan berbagai produk berkualitas tinggi, seperti BBM jenis Gasoline, Diesel, dan Avtur berstandar EURO V yang lebih ramah lingkungan, LPG, serta produk petrokimia turunan seperti propilena dan sulfur.

Produk hasil pengolahan kemudian disalurkan ke masyarakat melalui Terminal BBM Tanjung Batu yang memiliki kapasitas 125 ribu kiloliter sebagai salah satu titik distribusi utama.

Seluruh infrastruktur RDMP Balikpapan saling terhubung dan tidak dapat berdiri sendiri. Tanpa pipa gas, proses pengolahan menjadi tidak efisien. Tanpa fasilitas tambat Lawe-Lawe, pasokan minyak mentah skala besar sulit dilakukan. Tanpa tangki penyimpanan raksasa, ketahanan cadangan bahan baku akan terbatas.

Keterpaduan sistem ini memberikan dampak nyata berupa pengurangan impor BBM, penghematan devisa negara, serta dukungan langsung terhadap target swasembada energi nasional.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek pembangunan kilang.
“Dengan infrastruktur yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, kami memastikan energi yang dikonsumsi masyarakat merupakan hasil kerja dan keringat bangsa sendiri,” pungkas Baron.