(Vibizmedia – Kolom) Pada suatu pagi di desa pinggiran Jawa Timur, suara sapi yang melenguh terdengar bersahut-sahutan. Di kandang sederhana berdinding bambu, seorang peternak membersihkan sisa pakan sambil menghitung-hitung hasil penjualan kemarin. Tidak banyak. Tapi cukup untuk membeli pakan hari ini. Besok, ia belum tahu.
Gambaran kecil ini mewakili jutaan peternak di Indonesia yang hidup di antara harapan dan ketidakpastian. Ketika Badan Pusat Statistik merilis Peternakan Dalam Angka 2025, angka-angka di dalamnya seolah memberi bingkai besar atas cerita-cerita kecil seperti itu. Statistik menjadi cermin dari apa yang sedang terjadi di lapangan: pemulihan yang belum utuh, ketimpangan yang masih terasa, dan sistem yang bekerja keras agar tidak runtuh.
Selama beberapa tahun terakhir, subsektor peternakan mengalami guncangan yang tidak ringan. Setelah sempat tumbuh stabil hingga 2021, populasi sapi potong nasional anjlok tajam pada 2023. Dari hampir 18 juta ekor, jumlahnya menyusut menjadi sekitar 10,8 juta ekor. Penurunan lebih dari sepertiga dalam waktu singkat bukan sekadar angka; ia mencerminkan tekanan ekonomi, naiknya harga pakan, serta melemahnya minat beternak.
Tahun-tahun berikutnya memang membawa angin segar. Populasi sapi kembali naik menjadi sekitar 13,5 juta ekor pada 2025. Namun jika dicermati, angka ini masih jauh dari kondisi sebelum krisis. Pemulihan itu ada, tetapi rapuh. Seperti bangunan yang berdiri kembali tanpa fondasi yang sepenuhnya kokoh.
Yang menarik, pemulihan ini tidak terjadi merata. Pulau Jawa tetap menjadi pusat gravitasi peternakan nasional. Lebih dari sepertiga sapi potong Indonesia masih berada di pulau ini, dengan Jawa Timur sebagai kontributor terbesar. Di satu sisi, ini menunjukkan kuatnya basis produksi. Namun di sisi lain, ketergantungan yang terlalu besar pada satu wilayah menyimpan risiko besar. Gangguan iklim, penyakit ternak, atau alih fungsi lahan di Jawa bisa langsung mengguncang pasokan nasional.
Di luar Jawa, daerah seperti Nusa Tenggara dan Sulawesi perlahan menunjukkan peran yang lebih besar. Namun perkembangan ini berjalan lebih lambat dibanding potensinya. Infrastruktur terbatas, akses pakan yang mahal, serta minimnya dukungan teknologi membuat peternak di luar Jawa harus bekerja lebih keras untuk hasil yang sama.
Kondisi yang lebih rapuh terlihat pada sapi perah. Hingga 2025, populasi sapi perah nasional belum berhasil kembali ke level sebelum 2022. Jumlahnya masih berkisar di angka 499 ribu ekor, dengan lebih dari 85 persen berada di Pulau Jawa. Ketergantungan ini menjelaskan mengapa Indonesia terus mengimpor susu dan produk turunannya.
Bagi peternak sapi perah, tantangannya berlapis. Harga pakan terus naik, sementara harga jual susu relatif stagnan. Margin keuntungan semakin menipis. Banyak yang bertahan karena keterpaksaan, bukan karena usaha ini menjanjikan masa depan cerah. Di sinilah paradoks peternakan Indonesia terlihat jelas: sektor yang strategis secara nasional, tetapi sering kali rapuh di tingkat pelaku.
Berbeda dengan sapi dan kerbau, subsektor unggas tampak jauh lebih dinamis. Ayam ras pedaging dan petelur menjadi tulang punggung protein hewani nasional. Pada 2025, populasi ayam ras pedaging menembus lebih dari 3,3 miliar ekor, sementara ayam petelur mencapai lebih dari 426 juta ekor. Angka ini mencerminkan besarnya peran unggas dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Namun dominasi ini juga membawa kerentanan. Produksi unggas sangat bergantung pada pakan impor. Setiap kenaikan harga jagung atau bungkil kedelai langsung memukul biaya produksi. Ketika harga jual tidak mengikuti kenaikan biaya, peternak kecil menjadi pihak pertama yang tertekan. Tidak mengherankan jika fluktuasi harga ayam dan telur kerap terjadi, bahkan dalam hitungan minggu.
Di balik angka produksi, persoalan konsumsi juga tak kalah penting. Konsumsi daging sapi per kapita Indonesia pada 2025 masih berkisar 2,7 kilogram per tahun. Angka ini jauh di bawah negara-negara tetangga. Konsumsi yang rendah bukan semata karena budaya makan, tetapi juga karena daya beli dan distribusi yang tidak merata.
Pulau Jawa menikmati akses paling mudah terhadap produk peternakan. Sebaliknya, wilayah timur Indonesia masih menghadapi keterbatasan pasokan dan harga yang lebih tinggi. Ini menciptakan ketimpangan gizi yang sulit diatasi hanya dengan meningkatkan produksi.
Jika ditarik lebih jauh, persoalan utama peternakan Indonesia bukan sekadar soal jumlah ternak, melainkan struktur sistemnya. Biaya produksi yang tinggi, terutama pakan yang menyumbang hingga 70 persen biaya, membuat usaha peternakan sangat sensitif terhadap gejolak harga. Dalam kondisi seperti ini, peternak kecil hampir tidak memiliki ruang untuk menyerap risiko.
Nilai Tukar Petani subsektor peternakan memang menunjukkan perbaikan dalam beberapa periode, tetapi belum cukup untuk menciptakan rasa aman jangka panjang. Banyak peternak hidup dalam situasi “cukup untuk bertahan, belum cukup untuk berkembang”.
Padahal, jika dikelola dengan baik, peternakan bisa menjadi pilar utama ketahanan pangan dan ekonomi desa. Indonesia memiliki sumber daya alam yang memadai, tenaga kerja melimpah, serta pasar domestik yang besar. Yang masih kurang adalah konsistensi kebijakan dan keberanian untuk melakukan transformasi.
Transformasi itu mencakup banyak hal. Mulai dari penguatan pakan lokal agar tidak terlalu tergantung impor, perbaikan sistem pembibitan, modernisasi kandang, hingga integrasi peternak dengan industri pengolahan. Tanpa langkah-langkah ini, peternakan akan terus berjalan di tempat, terjebak dalam siklus naik-turun yang berulang.
Lebih dari itu, peternakan seharusnya dipandang bukan hanya sebagai sektor ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari ketahanan nasional. Ketika pasokan pangan terganggu, dampaknya bukan sekadar ekonomi, tetapi juga sosial dan politik. Dalam konteks inilah data Peternakan Dalam Angka 2025 menjadi penting, ia mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dibangun dengan pendekatan jangka pendek.
Di balik setiap angka, ada cerita tentang peternak yang bertahan, tentang keluarga yang menggantungkan hidup pada kandang kecil, dan tentang negara yang masih mencari format terbaik untuk mengelola kekayaannya sendiri. Statistik mungkin terlihat dingin, tetapi di dalamnya tersimpan denyut kehidupan jutaan orang.
Peternakan Indonesia hari ini berada di persimpangan jalan. Ia bisa melangkah menuju sistem yang lebih kuat, mandiri, dan berkelanjutan, atau tetap berada dalam lingkaran masalah lama yang terus berulang. Pilihan itu, pada akhirnya, tidak hanya ditentukan oleh peternak, tetapi oleh keberanian kebijakan dan keseriusan semua pihak dalam melihat peternakan sebagai masa depan, bukan sekadar sektor pelengkap.









