BNPB Apresiasi Kinerja SAR Longsor Bandung Barat, 53 Korban Ditemukan

0
46
Longsor Bandung Barat
Usai berbincang dengan para pengungsi korban longsor Bandung Barat, Kepala BNPB Letjen TNI Dr Suharyanto S.Sos., M.M., (baju rompi hijau) membagikan makanan kepada anak-anak di pos pengungsian Kantor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu, 28 Januari 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, masih terus dilakukan hingga Rabu (28/1). Pada kunjungan kerja keduanya ke lokasi terdampak, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengapresiasi kinerja tim SAR yang dinilai signifikan sejak hari pertama operasi.

Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto saat meninjau lokasi longsor pada Rabu siang. Ia menyampaikan bahwa hingga hari kelima operasi, tim SAR telah berhasil menemukan 53 korban yang dievakuasi dalam kantong jenazah. Dari jumlah tersebut, 35 korban telah teridentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI).

Suharyanto menambahkan, ahli waris korban yang telah teridentifikasi juga telah menerima santunan dari Kementerian Sosial.

Dalam mendukung kelancaran operasi SAR, BNPB turut melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan untuk mengurangi intensitas hujan yang berpotensi memperlambat proses evakuasi dan membahayakan personel, mengingat kondisi tanah di area longsoran masih labil.

“Cuaca hujan terus, namun kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Alhamdulillah bisa membantu walaupun tidak sama sekali menghentikan,” ujar Suharyanto.

Ia menjelaskan, saat kondisi cuaca memungkinkan, personel SAR kembali melakukan pencarian dan evakuasi dengan dukungan alat berat serta anjing pelacak. Suharyanto menegaskan bahwa masa tanggap darurat ditargetkan selesai dalam dua minggu dan tidak akan diperpanjang. Ia berharap situasi pascabencana dapat segera pulih dan terkendali.

Terkait proses pemulihan, BNPB bersama pemerintah daerah telah mendata sebanyak 48 unit rumah rusak berat atau hancur akibat longsor. Selain itu, diperlukan identifikasi lanjutan terhadap rumah-rumah warga yang berada di zona rawan dan berpotensi harus direlokasi.

“Badan Geologi Kementerian ESDM juga sedang mendata, kira-kira di samping 48 tadi, apakah ada rumah-rumah masyarakat yang memang harus direlokasi,” kata Suharyanto.

BNPB meminta pemerintah daerah untuk menyiapkan lokasi atau lahan relokasi bagi warga terdampak. BNPB juga akan menyalurkan bantuan dana tunggu hunian kepada keluarga yang terdampak langsung dan saat ini tinggal sementara bersama keluarga atau kerabat. Bantuan tersebut akan diberikan mulai Januari hingga Maret 2026.

“Apabila mereka terdampak langsung dan harus mengungsi di rumah keluarganya, haknya tetap diberikan. Jika rumahnya rusak berat, hilang, atau hancur, mereka juga mendapatkan dana tunggu hunian,” tambahnya.

Kunjungan kedua Kepala BNPB ke lokasi terdampak juga bertujuan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Suharyanto menyampaikan bahwa bantuan dari berbagai pihak telah membantu meringankan beban masyarakat terdampak bencana tanah longsor.