Neraca Perdagangan Baja Terus Surplus, Indonesia Naik ke Peringkat 5 Dunia

0
77
Ilustrasi Baja Indonesia (Foto Sumber dari Kemendag)

(Vibizmedia – Industry) Indonesia menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri besi dan baja global. Ini tercermin dari kinerja neraca perdagangan besi dan baja nasional yang terus mencatatkan surplus signifikan sepanjang 2025.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa hingga November 2025, neraca perdagangan besi dan baja Indonesia (HS 72) menunjukkan surplus yang konsisten dan kuat. Capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya daya saing industri baja nasional di pasar internasional.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026), Budi mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 surplus neraca perdagangan besi dan baja mencapai US$18,44 miliar. Nilai tersebut ditopang oleh ekspor sebesar US$27,97 miliar, sementara impor tercatat US$9,53 miliar.

Kinerja positif ini sejalan dengan lonjakan posisi Indonesia dalam peta perdagangan global. Pada 2019 Indonesia berada di peringkat ke-17 sebagai eksportir besi dan baja terbesar dunia, kini posisinya melonjak ke peringkat lima dunia. Lompatan tersebut didorong oleh kebijakan hilirisasi dan peningkatan kapasitas industri nasional.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan bahwa penguatan industri besi dan baja merupakan bagian dari perhatian besar Presiden terhadap penguatan kemandirian ekonomi nasional.

Pada 2025 industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,58 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,04 persen. Dari seluruh subsektor, industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 18,62 persen.

Dari sisi investasi, sektor industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan perlengkapannya juga menunjukkan kinerja solid. Sepanjang Januari–Desember 2025, realisasi investasi di sektor ini mencapai US$14,6 miliar atau sekitar 26 persen dari total investasi penanaman modal asing.

Mengacu pada data World Steel Association, produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1.849 juta ton, dengan China sebagai produsen terbesar. Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dengan produksi baja kasar sebesar 19 juta ton, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 18,6 juta ton.

Dari sisi perdagangan, ekspor baja meningkat secara konsisten sejak 2020, sementara impor cenderung menurun sejak 2022. Kondisi tersebut mendorong pergeseran neraca perdagangan dari defisit menjadi surplus.

Meski demikian, struktur konsumsi baja domestik masih didominasi sektor konstruksi. Berdasarkan data The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) dan World Steel Association, sektor konstruksi menyerap 77,1 persen konsumsi baja nasional, disusul sektor otomotif sebesar 11,6 persen dan peralatan rumah tangga 3,3 persen.

Pada 2025, konsumsi baja per kapita Indonesia baru mencapai sekitar 60 kilogram per kapita, jauh di bawah rata-rata global sebesar 217 kilogram per kapita. Selain itu, tingkat utilisasi industri baja nasional rata-rata masih berada di angka 52,7 persen.

“Kondisi ini menunjukkan ruang ekspansi dan peningkatan kapasitas industri baja nasional masih sangat besar,” pungkas Faisol.