Pertemuan Perdana ABAC di Jakarta, Mendag Dorong Pemanfaatan Perjanjian Perdagangan

0
110
Foto: Kemendag

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan sambutan pembuka pada Welcome Reception The First APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting yang digelar di Jakarta, Sabtu (7/2). Pertemuan ini menjadi bagian penting dari rangkaian kerja ABAC sebagai forum resmi sektor swasta APEC yang bertugas menyampaikan rekomendasi kebijakan bisnis kepada para pemimpin ekonomi APEC.

Acara tersebut dihadiri Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie, Ketua ABAC Indonesia Shinta Kamdani, ABAC Chair 2026 Li Fanrong, SOM Chair 2026 Chen Xu, serta para pelaku usaha dari berbagai sektor yang tergabung dalam ABAC.

Dalam sambutannya, Mendag Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk menciptakan lingkungan usaha yang lebih kondusif, inklusif, dan dapat diprediksi. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kelancaran rantai pasok regional, penyederhanaan prosedur perdagangan, percepatan digitalisasi, serta pengurangan hambatan regulasi guna mendukung aktivitas bisnis lintas negara.

Mendag juga menekankan pentingnya peran ABAC sebagai jembatan strategis antara dunia usaha dan pemerintah di kawasan Asia-Pasifik. Melalui ABAC, aspirasi dan kebutuhan pelaku usaha dapat dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi, serta perdagangan yang lebih terbuka dan berkelanjutan di kawasan APEC.

Lebih lanjut, Mendag mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini mengelola 20 perjanjian perdagangan internasional yang telah aktif, dengan 15 perjanjian dalam proses ratifikasi dan 11 lainnya masih dalam tahap negosiasi. Oleh karena itu, pemerintah mendorong komunitas bisnis untuk memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan tersebut secara optimal guna memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk nasional.

Pada kesempatan tersebut, Mendag Budi Santoso turut didampingi Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Johni Martha serta Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasional Natan Kambuno.