(Vibizmedia – Kolom) Perusahaan-perusahaan barang mewah tampak seperti kelinci yang terperangkap sorotan lampu. Pasar barang mewah resale mendekati titik balik, tetapi banyak merek tidak dapat memutuskan ke mana harus melompat.
Tahun lalu, nilai pasar resale barang mewah mencapai 50 miliar euro untuk pertama kalinya, berdasarkan estimasi dari Bain & Co., setara dengan $59 miliar pada nilai tukar saat ini. Bisnis resale tumbuh lebih cepat daripada pasar utama dan kini memiliki ukuran yang sama dengan seluruh perdagangan yang dilakukan merek-merek mewah melalui gerai diskon—saluran terbesar ketiga mereka berdasarkan penjualan.
Perusahaan-perusahaan barang mewah memiliki hubungan yang canggung dengan platform resale terbesar seperti Fashionphile dan The RealReal. Merek-merek papan atas termasuk Chanel telah menggunakan jalur hukum untuk mengawasi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh para pelaku resale.
Untuk menghindari jerat hukum, para pelaku resale harus menghindari penggunaan merek dagang perusahaan lebih dari yang diperlukan. Ini berarti mereka dapat menggunakan logo untuk mendeskripsikan produk yang mereka jual, tetapi tidak boleh menampilkannya secara berlebihan dalam kampanye iklan atau konten media sosial mereka. Mereka juga menghindari menciptakan kesan adanya afiliasi dengan merek-merek mewah dalam pemasaran mereka jika memang tidak ada hubungan resmi.
Masalahnya adalah ribuan pelaku resale kecil yang bermunculan setiap tahun. Barang-barang mewah dijual kembali melalui siaran langsung di platform media sosial, melalui akun Shopify, dan situs resale antar individu seperti Vestiaire Collective, di mana merek-merek yang sangat menjaga citra tidak memiliki kendali atas bagaimana barang mereka ditampilkan.
Produk mewah baru dan bekas semakin sering dijual di bawah atap yang sama ketika department store ikut terlibat. Fashionphile memiliki kemitraan dengan Neiman Marcus di mana pelanggan dapat menukar barang mewah bekas mereka dengan kredit untuk dibelanjakan pada barang mewah baru di toko tersebut.
Menurut Boston Consulting Group, porsi barang bekas dalam lemari pakaian konsumen telah naik 7 poin persentase menjadi 28% sejak 2020. Ritel tradisional dan model bisnis yang lebih baru seperti layanan sewa dan langganan justru kehilangan pangsa. Tas tangan, salah satu produk paling menguntungkan bagi merek-merek mewah, sangat terdampak oleh pergeseran ini. Konsumen muda Generasi Z kini melakukan hampir setengah dari pembelian tas mereka di peritel barang bekas.
Merek-merek mewah pernah bereksperimen dengan platform resale di masa lalu. Gucci sempat menjalin kerja sama sementara dengan Vestiaire Collective. Chloe dan Coach saat ini memiliki inisiatif yang memungkinkan pembeli dengan cepat mendaftarkan barang mereka jika memutuskan untuk melakukan resale. Paspor produk digital mengimpor seluruh data keaslian dan spesifikasi produk ke dalam daftar resale yang baru.
Yang lain menjalankan resale secara internal tetapi dalam skala khusus. Ralph Lauren menjual desain vintage di situs webnya dengan harga sangat tinggi, termasuk topi baseball era 1990-an seharga $295. Rimowa yang dimiliki LVMH memungkinkan pelanggan membawa koper lama mereka ke toko merek tersebut untuk ditukar dengan kredit untuk pembelian berikutnya. Perusahaan kemudian memperbarui dan menjual kembali koper tersebut.
Rolex dapat memberikan contoh. Program barang bekas bersertifikat dari merek jam tangan tersebut menghasilkan lebih dari $500 juta dalam penjualan tahun lalu, menurut estimasi dari perusahaan analitik data WatchCharts. Rolex mempertahankan kendali ketat atas bagaimana program tersebut dijalankan, tetapi menyerahkan logistik kepada peritel pihak ketiga yang menangani seluruh penjualan dan penetapan harga. Hal ini menciptakan perbedaan dari para penjual jam tidak resmi dan membantu Rolex secara perlahan mendapatkan kendali atas bagaimana produknya dijual kembali.
Salah satu opsi bagi merek-merek mewah yang mengikuti model ini mungkin adalah menciptakan program barang bekas resmi yang permanen dengan department store kelas atas, atau platform resale yang dikelola dengan baik seperti Fashionphile. Mereka dapat menegosiasikan kendali penuh atas bagaimana inisiatif tersebut dijalankan, sebagai imbalan atas pemberian jaminan keaslian kepada pelanggan.
Merek-merek mewah dapat dimengerti enggan terlibat dalam bisnis resale yang rumit. Masalahnya, resale terbukti sangat diminati konsumen sehingga mereka berisiko kehilangan pangsa pasar jika tetap berada di pinggir lapangan.
Pasar resale barang mewah di Indonesia
Di Indonesia, geliat resale barang mewah juga menunjukkan akselerasi yang konsisten, sejalan dengan tren global. Laporan Bain & Company dalam studi Luxury Study mereka menyebutkan bahwa Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan konsumsi barang mewah tercepat pascapandemi, didorong oleh demografi muda dan penetrasi digital yang tinggi.
Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan kelas menengah yang terus berkembang, menjadi pasar yang semakin relevan dalam peta konsumsi luxury regional. Dalam konteks ini, resale menjadi pintu masuk yang lebih terjangkau bagi konsumen baru yang ingin mengakses merek-merek premium tanpa harus membeli produk baru dengan harga penuh.
Menurut laporan Boston Consulting Group, peningkatan minat terhadap barang secondhand bukan hanya didorong oleh pertimbangan harga, tetapi juga oleh faktor keberlanjutan dan pergeseran pola pikir generasi muda. Tren ini juga tercermin di Indonesia, di mana konsumen Gen Z dan milenial aktif bertransaksi melalui platform digital. Statista dalam laporan e-commerce Asia Tenggara menyoroti bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar dengan pertumbuhan transaksi online tercepat di kawasan, menciptakan ekosistem yang subur bagi perdagangan resale barang mewah melalui media sosial, marketplace, dan platform khusus preloved.
Platform regional seperti Vestiaire Collective dan The RealReal memang belum memiliki penetrasi fisik yang kuat di Indonesia, tetapi model bisnis mereka menginspirasi banyak pelaku lokal. Media seperti Bloomberg dalam berbagai laporannya tentang ekonomi digital Asia Tenggara menekankan bahwa social commerce—penjualan melalui Instagram, TikTok, dan live streaming—berkembang pesat di Indonesia. Dalam praktiknya, banyak tas dan aksesori dari merek global diperjualbelikan lewat akun Instagram kurasi maupun personal shopper, sering kali tanpa afiliasi resmi dengan brand.
Fenomena ini menciptakan tantangan tersendiri bagi pemilik merek global. Seperti dicatat oleh Reuters dalam liputannya mengenai kontrol merek terhadap pasar sekunder, brand luxury global semakin khawatir terhadap isu autentikasi, harga, dan positioning merek di pasar resale. Di Indonesia, di mana penjualan sering terjadi secara peer-to-peer dan lintas platform, pengawasan menjadi jauh lebih kompleks. Produk dapat berpindah tangan beberapa kali tanpa jejak dokumentasi resmi, meningkatkan risiko barang palsu atau rekondisi yang tidak transparan.
Namun di sisi lain, laporan McKinsey & Company mengenai konsumen Asia menunjukkan bahwa aspirasi terhadap brand global tetap sangat kuat di Indonesia. Bagi banyak konsumen muda urban di Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya, membeli barang luxury melalui jalur resale dianggap sebagai strategi finansial yang lebih rasional. Mereka dapat menjual kembali barang tersebut di kemudian hari, menciptakan siklus nilai yang lebih dinamis dibanding pembelian ritel konvensional. Logika “asset-like consumption” ini semakin umum dalam kategori tas dan jam tangan.
Media Financial Times dalam pembahasan mereka mengenai circular economy di industri fashion menyebut bahwa brand yang tidak terlibat aktif dalam ekosistem resale berisiko kehilangan kendali atas narasi nilai produknya. Jika diterapkan pada Indonesia, potensi kehilangan kontrol tersebut bahkan lebih besar karena struktur pasar yang sangat terfragmentasi. Tanpa program resale resmi atau sertifikasi keaslian yang terintegrasi, brand global praktis menyerahkan pasar sekunder kepada pelaku independen.
Indonesia berpotensi menjadi laboratorium menarik bagi strategi resale luxury yang lebih terstruktur. Dengan pertumbuhan kelas atas yang stabil dan adopsi digital yang agresif, kolaborasi antara brand global dan department store premium lokal atau platform e-commerce besar dapat menjadi solusi. Seperti yang disarankan dalam berbagai analisis Bain & Company, brand yang mampu menggabungkan kontrol kualitas, jaminan autentikasi, dan kemudahan transaksi digital akan berada dalam posisi terbaik untuk memanfaatkan momentum resale—baik di pasar matang maupun pasar berkembang seperti Indonesia.









