Mentan: Hilirisasi Kunci Perkuat Ekonomi, Energi, dan Ketahanan Pangan

0
66
Foto: Kementerian Pertanian

(Vibizmedia – Makassar)  Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci strategis dalam memperkuat ekonomi nasional, kemandirian energi, dan ketahanan pangan di tengah dinamika global. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XXVI di Hotel Claro Makassar, Kamis (26/3/2026).

Di hadapan para pengusaha Bugis Makassar dari berbagai daerah dan mancanegara, Mentan Amran menekankan pentingnya pergeseran dari ekspor bahan mentah menuju pengolahan produk bernilai tambah di dalam negeri.

Menurutnya, komoditas unggulan seperti kelapa, kelapa sawit (CPO), dan gambir memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi. Produk turunan seperti minyak olahan, santan, air kelapa, hingga berbagai produk industri dinilai mampu memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor bahan mentah.

“Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar dunia, namun masih banyak diekspor dalam bentuk mentah. Jika diolah menjadi produk turunan seperti virgin coconut oil atau coconut milk, nilainya dapat meningkat berkali lipat,” ujar Amran.

Ia juga menyoroti komoditas gambir, di mana Indonesia menguasai sekitar 80 persen pasar global, namun masih diekspor dalam bentuk setengah jadi sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati negara lain.

“Hilirisasi akan memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih besar. Nilai tertinggi suatu komoditas berada di sektor hilir, bukan di hulu,” tegasnya.

Lebih lanjut, Amran menilai potensi hilirisasi kelapa sawit sangat strategis, mengingat Indonesia menguasai lebih dari 60 persen produksi CPO dunia. Dengan pengolahan yang optimal menjadi produk turunan seperti margarin, kosmetik, dan lainnya, Indonesia dinilai dapat memperkuat posisi dalam rantai pasok global.

Menurutnya, hilirisasi tidak hanya berdampak pada penguatan ekonomi nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

Meski demikian, Amran mengakui bahwa upaya menuju swasembada dan hilirisasi tidak selalu berjalan mudah. Ia menyebut adanya tantangan, termasuk pihak-pihak yang tidak menginginkan Indonesia mengurangi ketergantungan impor.

“Program hilirisasi, swasembada pangan, dan kemandirian energi akan terus dilanjutkan sesuai arahan Presiden,” ujarnya.

Di sektor pangan, Indonesia disebut telah menunjukkan capaian positif dengan berkurangnya impor beras secara signifikan, yang turut berkontribusi terhadap penurunan harga pangan global.

Amran menyampaikan bahwa harga pangan dunia mengalami penurunan seiring berkurangnya impor beras Indonesia, yang sebelumnya mencapai jutaan ton setiap tahun.

Keberhasilan tersebut juga mendapat pengakuan internasional melalui penghargaan dari Food and Agriculture Organization selama dua tahun berturut-turut, yakni 2024 dan 2025, dalam bidang ketahanan pangan dan kontribusi terhadap sistem pangan global.

Seiring capaian tersebut, sejumlah negara mulai menunjukkan minat untuk menjalin kerja sama dan mempelajari sistem pertanian Indonesia, termasuk Jepang, Kanada, Chile, dan Belarus.

Amran menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan sektor yang sangat strategis karena krisis pangan berpotensi memicu instabilitas politik dan sosial.

“Pengalaman menunjukkan bahwa krisis pangan dapat berdampak luas hingga memicu konflik. Karena itu, penguatan ketahanan pangan dan energi menjadi prioritas utama pembangunan nasional,” pungkasnya.