Kejar Target 1 Juta Barel, Pemerintah Lelang 118 Wilayah Migas Potensial

0
90
Kilang minyak
Kilang Minyak Cilacap. DOK: PERTAMINA

(Vibizmedia-Nasional) Pemerintah terus mempercepat langkah menuju ketahanan dan swasembada energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik serta dinamika geopolitik global yang memengaruhi stabilitas pasokan dunia. Salah satu strategi utama yang ditempuh adalah mempercepat eksplorasi dan pengembangan sektor minyak dan gas bumi (migas) guna mengejar target produksi nasional sebesar 900 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari pada 2029.

Dalam upaya memperkuat cadangan dan produksi migas nasional secara berkelanjutan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia membuka peluang investasi lebih luas melalui penawaran lelang sejumlah Wilayah Kerja (WK) Migas potensial.

“Ini saya buka secara umum, siapa saja boleh ikut. Tidak perlu nego-nego di belakang meja. Yang penting punya teknologi, punya modal, dan punya keseriusan untuk mengelola hasil yang ada demi kebaikan rakyat, bangsa, dan negara,” ujar Bahlil saat membuka Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2026 di Tangerang, Rabu (20/5).

Hingga Mei 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat terdapat 118 Wilayah Kerja Migas potensial yang siap dikembangkan. Dari jumlah tersebut, 43 wilayah masih berada dalam tahap studi bersama, 50 wilayah pada tahap penawaran studi dan akuisisi data baru, serta 25 wilayah telah resmi ditandatangani, termasuk delapan WK hasil lelang 2025.

Delapan WK yang telah diteken meliputi Gagah, Bintuni, Karunia, Drawa, Jalu, Southwest Andaman, Barong, dan Nawasena. Wilayah tersebut tersebar di Sumatera Selatan, Papua Barat, Laut Andaman, Jawa Timur hingga Sulawesi Selatan dengan total potensi sumber daya mencapai 255 juta barel minyak dan 13,79 triliun kaki kubik (TCF) gas.

WK Gagah di Sumatera Selatan menjadi salah satu wilayah paling menjanjikan dengan potensi mencapai 173 juta barel minyak dan 1,1 TCF gas. Sementara WK Bintuni di Papua Barat menyimpan potensi 2,1 TCF gas. Adapun WK Jalu dan Southwest Andaman masing-masing diperkirakan memiliki potensi gas sebesar 2,9 TCF dan 3 TCF.

Secara keseluruhan, delapan wilayah kerja tersebut mencatat nilai komitmen pasti sebesar USD57,95 juta dengan bonus tanda tangan mencapai USD3,15 juta. Pemerintah menilai tingginya minat investor terhadap sektor migas Indonesia menjadi sinyal positif dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Menurut Bahlil, investasi di sektor migas tidak hanya akan mendorong penemuan cadangan energi baru dan peningkatan produksi nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap penerimaan negara serta pembukaan lapangan kerja.

Selain membuka ruang bagi investor besar, Bahlil juga menegaskan pentingnya keterlibatan pengusaha daerah dalam proyek migas agar manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat lokal.

“Agar pengusaha-pengusaha daerah dikolaborasikan, jangan semua kontraktor orang Jakarta. Jadikan orang daerah menjadi tuan di negerinya sendiri selama profesional,” tegasnya.

Pemerintah saat ini juga terus mendorong percepatan investasi hulu migas melalui penyederhanaan regulasi, reaktivasi sumur idle, hingga penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Bahlil meminta seluruh pihak, termasuk SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), memperkuat kolaborasi dan tidak menghambat investasi.

Menurutnya, sektor hulu migas memiliki risiko besar sehingga proses investasi harus dipermudah agar target swasembada energi nasional dapat tercapai tepat waktu.