MPLS Ramah 2026 Dorong Pembentukan Karakter dan Kepemimpinan Siswa

0
76
Foto: Kemendikdasmen

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 berjalan aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari perundungan dan perpeloncoan.

Komitmen ini diwujudkan melalui pengawasan langsung ke berbagai sekolah serta penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sebagai dasar ekosistem pendidikan yang berpihak pada peserta didik.

Hal tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, saat mengunjungi pelaksanaan MPLS Ramah di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta Selatan. Kunjungan ini bertujuan memastikan implementasi Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 berjalan optimal sekaligus menjamin perlindungan hak-hak murid baru selama masa transisi ke jenjang pendidikan menengah.

Di hadapan sekitar 290 siswa baru, Fajar menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang belajar yang aman sekaligus menjadi rumah kedua bagi peserta didik. Lingkungan yang ramah, menurutnya, sangat penting untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, baik akademik maupun karakter.

Ia menambahkan, keberhasilan MPLS tidak hanya diukur dari pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga dari kemampuan sekolah membangun budaya positif sejak hari pertama. Oleh karena itu, penguatan karakter, kepemimpinan, dan nilai-nilai Pancasila menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MPLS Ramah.

Fajar juga mengapresiasi SMA Labschool Kebayoran yang telah mengintegrasikan pendidikan karakter dan kepemimpinan dengan melibatkan organisasi siswa dalam pendampingan murid baru.

Kepala SMA Labschool Kebayoran, Suparno, menjelaskan bahwa rangkaian MPLS berlangsung selama lima hari, mulai dari pra-MPLS pada 10 Juli hingga 17 Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga pembentukan karakter, semangat kebangsaan, ketakwaan, dan kepemimpinan siswa.

Ia menambahkan, OSIS, Majelis Perwakilan Kelas (MPK), dan Rohani Islam (Rohis) dilibatkan sebagai mentor bagi siswa baru. Pendekatan ini membuat proses adaptasi menjadi lebih akrab sekaligus memperkuat budaya saling menghormati di lingkungan sekolah.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa pengawasan MPLS Ramah dilakukan secara berlapis, mulai dari penerbitan regulasi, sosialisasi ke satuan pendidikan, hingga pemantauan langsung di lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada praktik kekerasan, baik fisik maupun psikologis.

Sebagai bentuk transparansi, sekolah juga membagikan panduan serta jadwal kegiatan MPLS kepada orang tua. Hal ini memungkinkan wali murid turut memantau proses adaptasi anak sekaligus memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.

Melalui pengawasan yang ketat, regulasi yang jelas, serta keterlibatan aktif seluruh pihak, Kemendikdasmen menargetkan MPLS Ramah 2026 menjadi momentum membangun budaya sekolah yang menghormati hak anak, bebas kekerasan, serta mendorong lahirnya generasi pelajar yang berkarakter dan berdaya saing.