(Vibizmedia – Jakarta) Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Indonesia meluluskan 1.735 sumber daya manusia (SDM) maritim yang dipersiapkan menghadapi transformasi industri pelayaran global menuju era digitalisasi, otomatisasi, dan green shipping. Para lulusan ini diharapkan menjadi penggerak utama industri maritim nasional yang semakin kompetitif sekaligus mampu menjawab tantangan dekarbonisasi sektor pelayaran.
Pelepasan lulusan yang berlangsung di Jakarta, Kamis (16/7/2026), terdiri atas 361 lulusan Program Diploma IV dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), serta 1.374 peserta Program Diklat Peningkatan Ahli Nautika dan Ahli Teknika Tingkat I hingga V.
Mewakili Menteri Perhubungan, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud menegaskan bahwa transformasi industri pelayaran global menuntut SDM yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi, menjunjung tinggi keselamatan pelayaran, serta berkomitmen pada perlindungan lingkungan.
“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi maritim yang sangat besar. Di tengah perubahan industri yang mengarah pada digitalisasi, teknologi cerdas, efisiensi energi, dan perlindungan lingkungan, lulusan STIP harus menjadi insan maritim yang profesional, adaptif, dan berdaya saing global,” ujar Masyhud.
Ia menambahkan, penguatan kualitas SDM merupakan kunci strategis dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Untuk itu, pemerintah terus memperbarui kurikulum pendidikan vokasi maritim agar selaras dengan kebutuhan industri melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan praktik lapangan, serta kolaborasi dengan dunia usaha.
Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan (BPSDMP), Suharto, menekankan bahwa transformasi sektor transportasi hanya dapat terwujud dengan dukungan SDM yang unggul, inovatif, dan siap menghadapi perubahan.
“BPSDMP terus mentransformasi pendidikan vokasi agar adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mendorong keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan transportasi,” jelasnya.
Menurutnya, penguatan kompetensi, karakter, serta kerja sama dengan industri nasional dan internasional akan terus menjadi prioritas dalam mencetak SDM transportasi yang mampu bersaing di tingkat global.
Sebagai perguruan tinggi vokasi di bawah Kementerian Perhubungan, STIP menerapkan sistem Outcome-Based Education (OBE) yang berfokus pada pencapaian kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja. Selain pembelajaran di kelas, para taruna dibekali praktik melalui simulator modern, laboratorium, pelayaran di kapal niaga, hingga magang di perusahaan pelayaran dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
Ketua STIP Indonesia, Tri Cahyadi, menyampaikan bahwa dinamika industri pelayaran menjadi dasar dalam pengembangan sistem pembelajaran di STIP.
“Industri pelayaran membutuhkan SDM yang adaptif terhadap teknologi, memahami standar internasional, serta memiliki karakter dan integritas yang kuat. Karena itu, STIP terus memperkuat pendekatan OBE, meningkatkan kualitas praktik, dan memperluas kerja sama internasional,” ujarnya.
Komitmen tersebut tercermin dari berbagai capaian global. Pada 2026, STIP berhasil meraih akreditasi internasional dari Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) untuk bidang Engineering Technology and Similarity Named Programs.
STIP juga menjalin kemitraan dengan sejumlah institusi maritim dunia, seperti World Maritime University (Swedia), Hochschule Flensburg University of Applied Sciences (Jerman), Jimei University (Tiongkok), serta Korea Maritime and Ocean University melalui program pertukaran mahasiswa dan dosen, pelatihan internasional, hingga pengembangan kompetensi di bidang dekarbonisasi pelayaran dan tata kelola maritim.
Mengusung tema “Navigating the Future: Seafarers as the Leaders in Maritime Technology and Guardians of the Environment”, STIP menegaskan komitmennya dalam mencetak perwira pelayaran yang mampu memimpin transformasi teknologi maritim sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dengan bertambahnya 1.735 lulusan baru, Indonesia semakin memperkuat ketersediaan SDM maritim profesional yang siap mendukung pertumbuhan industri pelayaran nasional, meningkatkan keselamatan pelayaran, serta memenuhi kebutuhan tenaga kerja global yang semakin digital, efisien, dan ramah lingkungan.
Pencapaian ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat pembangunan SDM unggul, meningkatkan daya saing industri nasional, memperkuat ekonomi maritim, serta mendorong transformasi hijau menuju pembangunan berkelanjutan.









