Proyek Migas Selat Makassar Dorong Ketahanan Energi dan Ekonomi Nasional

0
47
Foto: Info Publik

(Vibizmedia – Nasional) Proyek Strategis Nasional (PSN) di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas), yakni North Hub Development Project di Selat Makassar, dipandang sebagai langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa proyek pengembangan gas laut dalam ini termasuk salah satu investasi migas terbesar di dalam negeri. Selain menghadirkan teknologi tinggi, proyek tersebut juga membuka peluang baru bagi industri fabrikasi nasional.

Dengan nilai investasi mencapai 15 miliar dolar AS, proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama target produksi migas nasional pada periode 2029–2030. Pemerintah menargetkan produksi minyak mencapai 900 ribu hingga 1 juta barel per hari, serta gas bumi sebesar 12 miliar kaki kubik standar per hari.

Investasi tersebut mencakup pembangunan fasilitas produksi terapung atau Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) senilai sekitar USD3 miliar, serta berbagai kebutuhan belanja modal pendukung lainnya yang mencapai USD12 miliar.

Berlokasi di kedalaman laut sekitar 2.000 meter, proyek ini mengintegrasikan pengembangan Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem di Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur. Pengelolaannya dilakukan oleh Searah, perusahaan patungan antara Eni SpA dan Petronas.

Fasilitas utama berupa FPSO Bahtera Haluan Lestari menjadi tonggak baru, karena merupakan fasilitas produksi migas pertama di Indonesia yang beroperasi di wilayah laut sangat dalam (ultra deep water). Penyaluran gas perdana ditargetkan mulai pada kuartal keempat tahun 2028.

Secara teknis, fasilitas ini dirancang mampu mengolah hingga 1 miliar kaki kubik standar gas per hari serta memproduksi sekitar 80.000 barel kondensat per hari, dengan kapasitas penyimpanan mencapai 1,4 juta barel.

Tak hanya memperkuat pasokan energi, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi yang luas. Kegiatan fabrikasi dilakukan di Batam, Tanjung Balai Karimun, dan Bintan dengan kebutuhan sekitar 4.000 ton baja, sekaligus menyerap hingga 8.000 tenaga kerja nasional selama masa konstruksi.