IKM Mulai Masuk Rantai Pasok Motor Listrik, Lokalisasi Komponen Digenjot

0
64
Motor Listrik Nasional
Motor Listrik Nasional. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia – Industry) Transformasi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) mulai membuka ruang lebih besar bagi industri kecil dan menengah (IKM) nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong IKM tidak hanya menjadi penerima manfaat pertumbuhan pasar kendaraan listrik, tetapi ikut masuk sebagai pemasok komponen bagi industri besar dan original equipment manufacturer (OEM).

Langkah tersebut mulai membuahkan hasil. Dua IKM binaan Kemenperin, PT Kannindo Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri, kini menjadi bagian dari ekosistem pendukung motor listrik nasional (Molinas) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Cikarang, 13 Agustus 2026.

Keduanya telah memproduksi komponen box baterai dan bracket baterai untuk Molinas Alva di bawah PT Electra Mobilitas Indonesia. Keberhasilan ini menunjukkan peluang IKM nasional untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat kandungan lokal kendaraan listrik.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pengembangan kendaraan listrik harus menghasilkan efek berganda bagi industri nasional. Karena itu, pembinaan IKM diarahkan bukan sekadar meningkatkan kapasitas produksi, tetapi memastikan pelaku usaha memenuhi kualifikasi sebagai pemasok.

“Target kami bukan sekadar semakin banyak IKM yang mendapatkan pembinaan, tetapi juga memenuhi persyaratan industri,” kata Agus di Jakarta, Selasa (18/8).

Kemenperin menerapkan pendekatan supplier development dengan menjadikan kebutuhan industri besar dan OEM sebagai dasar pembinaan. IKM potensial terlebih dahulu menjalani asesmen yang mencakup teknologi, kualitas, kapasitas produksi, engineering, sertifikasi, produktivitas, biaya, hingga ketepatan pengiriman.

Dari sisi komponen, peluang awal terbuka pada produk yang teknologinya telah dikuasai IKM, seperti komponen logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, dan wiring harness. IKM dengan kemampuan manufaktur lebih tinggi selanjutnya dapat diarahkan memproduksi battery housing, motor housing, komponen kelistrikan, precision machining, hingga komponen pendukung battery pack dan power electronics.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menambahkan, Kemenperin memperkuat kemitraan IKM dengan industri besar, OEM, dan Tier-1 melalui business matching, penyampaian spesifikasi, pengembangan prototipe, pengujian, hingga proses kualifikasi pemasok.

“Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah IKM yang mengikuti business matching, tetapi berapa banyak yang berhasil menjadi qualified supplier dan mendapatkan pesanan industri secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan pola tersebut, Kemenperin menargetkan IKM semakin terintegrasi dalam ekosistem KBLBB. Bukan hanya memperkuat industri komponen dan lokalisasi, langkah ini diharapkan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang bagi IKM Indonesia menembus rantai pasok global.