(Vibizmedia – Commodity) Keripik buah, sayuran, jamur hingga tempe dengan cita rasa kekinian mulai membuka jalan bagi produk UMKM Indonesia ke pasar Amerika Selatan. Dua pelaku usaha Indonesia berhasil memperoleh pesanan dari buyer di Cili senilai USD29 ribu atau sekitar Rp510 juta, dengan pengiriman dilakukan pada pekan kedua Agustus 2026.
Produk tersebut akan dipasarkan melalui jaringan ritel setempat. Transaksi ini menjadi contoh bahwa produk pangan olahan Indonesia memiliki peluang menembus pasar yang relatif jauh, tidak hanya mengandalkan komoditas mentah.
Dua UMKM yang mencatatkan transaksi tersebut adalah CV Pangantama Makmur Abadi dan CV Arva Indonesia. Pangantama mengekspor keripik mangga, apel, nangka, brokoli dan jamur. Sementara Arva Indonesia membawa keripik tempe dengan varian truffle, honey butter, serta Himalayan salt basil.
Pesanan berasal dari Cencosud Retail S.A., salah satu perusahaan ritel besar di Cili. Transaksi ini merupakan tindak lanjut partisipasi kedua perusahaan dalam Espacio Food & Service 2025. Setelah pameran, komunikasi bisnis berlanjut melalui fasilitasi Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Santiago bersama KBRI Santiago hingga menghasilkan pesanan perdana.
Fajarini Puntodewi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, menilai transaksi tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama jangka panjang. Apabila produk-produk ekspor tersebut memperoleh respons positif dari konsumen Cili, peluang transaksi lanjutan terbuka semakin besar.
Dalam business matching yang digelar pada 29 Juli 2026, calon importir Cili Agro Imagina juga menunjukkan minat terhadap produk rempah dari PT Mega Inovasi Organik. Potensi pembeliannya diperkirakan mencapai satu kontainer 20 feet senilai USD70 ribu.
Prospek pasar Cili menjadi semakin menarik ketika melihat hubungan dagang kedua negara. Pada Januari–Juni 2026, perdagangan Indonesia-Cili mencapai USD277,4 juta, dengan ekspor Indonesia sebesar USD219,8 juta dan surplus USD162,2 juta.
Peluang ekspor ke Cili tidak hanya berada pada produk industri, tetapi mulai terbuka bagi pangan olahan bernilai tambah. Bagi UMKM, pasar yang jauh bukan lagi sekadar tantangan logistik, melainkan peluang untuk membangun merek Indonesia di pasar global.









