Bukan Kurang Fokus, Mungkin Otak Kita Terlalu Terstimulasi

0
92
otak

(Vibizmedia-Kolom) Kita hidup dalam dunia yang hampir tidak pernah memberi kesempatan kepada otak untuk benar-benar diam. Begitu membuka mata di pagi hari, ponsel sudah berada di tangan. Kita memeriksa pesan, melihat media sosial, membaca berita, berpindah aplikasi, kemudian beralih ke komputer untuk bekerja. Di sela-selanya, notifikasi masuk, email muncul, pesan kerja berbunyi, dan layar lain terus meminta perhatian. Tanpa disadari, satu hari penuh dapat berubah menjadi rangkaian perpindahan perhatian dari satu layar ke layar lainnya. Chris Bailey seorang penulis buku Hyperfocus menggambarkan pengalaman tersebut sebagai kehidupan yang dipenuhi layar, sampai akhirnya ia menyadari bahwa perangkat yang seharusnya membantu kehidupannya justru ikut menentukan bagaimana ia menggunakan perhatiannya.

Bailey kemudian melakukan sebuah eksperimen sederhana tetapi cukup ekstrem, membatasi penggunaan ponselnya maksimal 30 menit setiap hari selama sebulan. Tujuannya bukan menjadi lebih produktif secara langsung, melainkan mengurangi tingkat stimulasi yang terus diterima otaknya. Setelah sekitar satu minggu, ia mulai merasakan perubahan. Rentang perhatiannya menjadi lebih panjang dan ia merasa lebih mudah berkonsentrasi. Namun yang menarik, perubahan itu tidak berhenti pada kemampuan untuk fokus. Ketika pikirannya mulai mengembara, muncul lebih banyak ide, sementara ia juga menemukan dirinya lebih sering memikirkan rencana dan masa depan.

Pengalaman tersebut membawa Bailey pada pertanyaan yang lebih mendasar, sebenarnya apa yang membuat kita sulit berkonsentrasi? Jawabannya ternyata tidak sesederhana keberadaan gangguan. Kita sering menganggap ponsel, media sosial, email, atau notifikasi sebagai musuh fokus. Namun menurut penelitian yang ia pelajari, gangguan justru dapat menjadi gejala dari persoalan yang lebih dalam, yaitu otak yang terlalu terstimulasi. Ketika otak terbiasa mendapatkan rangsangan baru secara terus-menerus, ia mulai menginginkan rangsangan tersebut. Kita bukan hanya terganggu oleh sesuatu; kita mulai mencari gangguan itu sendiri.

Salah satu mekanisme yang dibahas Bailey adalah novelty bias, yaitu kecenderungan otak untuk tertarik pada sesuatu yang baru. Informasi baru, pesan baru, email baru, atau konten baru memberikan rangsangan yang membuat kita ingin kembali memeriksanya. Karena itu, membuka ponsel sebentar sering kali tidak benar-benar berlangsung sebentar. Kita mungkin awalnya hanya ingin melihat satu pesan, tetapi kemudian berpindah ke media sosial, membaca sesuatu yang lain, menonton video, lalu membuka aplikasi berikutnya. Perhatian bergerak bukan karena kita sudah menyelesaikan tugas sebelumnya, tetapi karena otak terus mencari rangsangan baru.

Dalam kondisi seperti itu, fokus menjadi semakin sulit. Bailey mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa ketika seseorang bekerja di depan komputer dengan ponsel berada di dekatnya, perhatian dapat berpindah setelah sekitar 40 detik. Ketika aplikasi komunikasi seperti Slack terbuka, durasinya bahkan turun menjadi sekitar 35 detik. Angka tersebut menggambarkan betapa pendeknya periode perhatian ketika kita berada dalam lingkungan yang sangat kaya stimulasi. Masalahnya bukan semata-mata bahwa ada terlalu banyak gangguan di sekitar kita, melainkan bahwa otak sudah terbiasa hidup dalam keadaan yang terus mencari sesuatu untuk diperhatikan.

Kebosanan yang Ternyata Dibutuhkan

Untuk menguji gagasan tersebut lebih jauh, Bailey melakukan eksperimen kedua yang bahkan lebih tidak nyaman, ia sengaja membuat dirinya bosan selama satu jam setiap hari selama sebulan. Aktivitasnya sangat sederhana dan sebagian terdengar absurd. Ia membaca syarat dan ketentuan iTunes selama satu jam, menunggu layanan bagasi Air Canada, menghitung angka nol dalam 10.000 digit pertama pi, bahkan menghabiskan satu jam hanya dengan memperhatikan jarum jam bergerak. Tujuannya adalah membawa otak dari kondisi stimulasi tinggi menuju kondisi stimulasi yang jauh lebih rendah.

Hasilnya menarik karena pola yang muncul hampir sama dengan eksperimen penggunaan ponsel. Setelah sekitar satu minggu, pikirannya mulai menyesuaikan diri dengan tingkat stimulasi yang lebih rendah. Ia merasa lebih mudah berkonsentrasi, tetapi sekali lagi manfaat terbesarnya bukan hanya fokus. Ketika pikirannya memiliki ruang untuk mengembara, lebih banyak ide muncul dan lebih banyak rencana terbentuk. Dengan kata lain, kebosanan ternyata bukan sekadar keadaan ketika tidak ada yang dilakukan. Kebosanan dapat menjadi ruang kosong yang memungkinkan pikiran bekerja dengan cara yang berbeda.

Di sinilah muncul sebuah paradoks penting. Kita sering menganggap bahwa semakin banyak aktivitas yang dapat kita masukkan ke dalam satu hari, semakin produktif kita. Kita mengejar efisiensi, mengisi kalender, merespons pesan secepat mungkin, berpindah dari satu rapat ke rapat berikutnya, dan memanfaatkan setiap menit yang tersedia. Namun ketika seluruh waktu kita dipenuhi aktivitas, tidak ada lagi ruang bagi pikiran untuk mengembara. Padahal, justru ketika perhatian tidak sepenuhnya terkunci pada suatu tugas, otak dapat menghubungkan berbagai gagasan yang sebelumnya tampak tidak berhubungan.

Ketika Pikiran Mengembara, Ide Datang

Bailey menyebut kondisi tersebut sebagai scatter focus, yaitu keadaan ketika perhatian sengaja dibiarkan mengembara. Ini berbeda dari kehilangan fokus karena gangguan. Dalam scatter focus, kita tidak sedang berpindah secara impulsif dari satu notifikasi ke notifikasi lain. Kita memberikan ruang kepada pikiran untuk bergerak tanpa tujuan yang terlalu ketat. Kondisi semacam itu dapat terjadi ketika mandi, berjalan, duduk santai, melakukan pekerjaan sederhana, atau sekadar menunggu tanpa membuka ponsel.

Menariknya, ketika perhatian dibiarkan beristirahat, pikiran tidak mengembara secara acak sepenuhnya. Bailey menjelaskan bahwa pikiran manusia cenderung bergerak ke tiga wilayah utama, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam penelitian yang ia paparkan, sekitar 12 persen waktu pengembaraan pikiran berkaitan dengan masa lalu, sekitar 28 persen dengan masa kini, dan sekitar 48 persen dengan masa depan. Angka-angka tersebut tidak mencapai 100 persen karena sebagian waktu pikiran berada dalam keadaan yang tidak secara jelas terkait dengan salah satu periode tersebut.

Kecenderungan pikiran untuk memikirkan masa depan memiliki implikasi penting. Ketika kita tidak sedang sibuk menerima rangsangan dari luar, otak mendapatkan kesempatan untuk menyusun rencana, memikirkan kemungkinan, dan menghubungkan berbagai persoalan yang sedang kita hadapi. Itulah sebabnya solusi terhadap suatu masalah terkadang muncul ketika kita sedang mandi atau berjalan, bukan ketika kita sedang memaksa diri duduk di depan komputer selama berjam-jam.

Pengalaman seperti ini sebenarnya sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Kita sedang mencoba menyelesaikan sebuah email tetapi tidak menemukan kalimat yang tepat. Kemudian kita berhenti sejenak, berjalan ke ruangan lain, atau melakukan aktivitas sederhana. Tiba-tiba formulasi yang kita cari muncul begitu saja. Bukan karena otak berhenti bekerja, melainkan karena ia memperoleh kesempatan untuk mengolah masalah tersebut dari arah yang berbeda.

Produktivitas Tidak Selalu Berarti Menambah

Gagasan ini membawa kita pada kritik terhadap budaya produktivitas yang selalu mendorong kita untuk melakukan lebih banyak. Ada kecenderungan untuk mengukur produktivitas dari jumlah tugas yang selesai, jumlah rapat yang dihadiri, jumlah pesan yang dijawab, atau banyaknya pekerjaan yang dapat dimasukkan ke dalam satu hari. Bailey justru mengambil posisi sebaliknya. Ia mengatakan bahwa kita tidak selalu perlu memasukkan lebih banyak hal ke dalam hidup. Kita sudah melakukan cukup banyak, bahkan mungkin terlalu banyak. Yang kurang justru adalah ruang.

Analogi yang digunakan Bailey menarik, lalu lintas di jalan raya tidak hanya bergerak karena kendaraan melaju cepat. Ruang di antara kendaraan justru menjadi salah satu faktor yang memungkinkan arus lalu lintas bergerak. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada pekerjaan dan kehidupan. Jika seluruh waktu kita dipenuhi aktivitas tanpa jeda, perhatian akan terus bertabrakan dengan tuntutan baru. Sebaliknya, ketika terdapat ruang, pikiran memiliki kesempatan untuk bergerak, mengolah informasi, dan menemukan arah.

Karena itu, mengurangi aktivitas tidak selalu berarti menjadi malas. Dalam konteks tertentu, mengurangi stimulasi justru dapat menjadi strategi produktivitas. Kita mungkin menyelesaikan lebih sedikit hal secara kasatmata, tetapi memperoleh sesuatu yang tidak mudah dihitung, kejernihan berpikir, kemampuan berkonsentrasi, kreativitas, dan gagasan baru.

Menciptakan Ruang di Tengah Dunia Digital

Pesan utama Bailey bukanlah bahwa teknologi harus ditinggalkan. Teknologi tetap memiliki manfaat besar. Persoalannya adalah bagaimana kita mengendalikan tingkat stimulasi yang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Ponsel, misalnya, dapat menjadi alat komunikasi, navigasi, hiburan, dan pekerjaan sekaligus. Tetapi ketika semua fungsi tersebut selalu aktif sepanjang waktu, batas antara kebutuhan dan kebiasaan menjadi semakin kabur.

Salah satu pendekatan yang ditawarkan Bailey adalah membuat ritual untuk benar-benar terputus dari internet. Ia sendiri memiliki kebiasaan tidak terhubung ke internet antara pukul 20.00 dan 08.00. Ia juga menerapkan hari khusus setiap minggu untuk beristirahat dari teknologi bersama tunangannya. Tujuannya bukan sekadar mengurangi waktu layar, tetapi mengembalikan perhatian kepada dunia fisik dan pengalaman yang berlangsung di luar perangkat digital.

Kita tidak harus mengikuti pola tersebut secara persis. Prinsip yang lebih penting adalah menciptakan batas. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk menerima informasi, dan ada waktu ketika kita tidak perlu melakukan apa pun. Bahkan menunggu antrean tanpa membuka ponsel dapat menjadi latihan sederhana untuk membiarkan pikiran beristirahat. Berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain tanpa melihat layar juga dapat memberikan beberapa menit bagi pikiran untuk mengolah berbagai hal yang sebelumnya tertunda.

Fokus Bukan Sekadar Menyingkirkan Gangguan

Gagasan yang paling menarik dari Bailey adalah perubahan cara pandang terhadap fokus. Kita sering berpikir bahwa untuk fokus, kita harus menyingkirkan semua gangguan. Namun jika akar masalahnya adalah otak yang terlalu terstimulasi, menghilangkan gangguan dari lingkungan saja mungkin tidak cukup. Ketika otak sudah terbiasa dengan rangsangan yang cepat dan terus-menerus, ia akan mencari sesuatu yang baru meskipun tidak ada notifikasi yang masuk.

Karena itu, latihan fokus bukan hanya tentang membuat lingkungan menjadi lebih tenang. Kita juga perlu melatih otak untuk nyaman berada dalam keadaan yang lebih tenang. Kebosanan, jeda, berjalan tanpa ponsel, mandi tanpa layar, atau sekadar duduk dan membiarkan pikiran mengembara dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Perlahan-lahan, kita belajar bahwa tidak setiap detik harus diisi oleh informasi.

Dari sini muncul sebuah pemahaman yang cukup sederhana tetapi penting, kehidupan yang produktif tidak selalu membutuhkan lebih banyak stimulasi. Kadang-kadang yang dibutuhkan justru lebih sedikit. Ketika otak tidak terus-menerus dipaksa berpindah dari satu rangsangan ke rangsangan berikutnya, perhatian mendapatkan kesempatan untuk kembali stabil. Dan ketika perhatian menjadi lebih stabil, muncul ruang bagi sesuatu yang sering hilang dari kehidupan digital yang terlalu padat, berpikir.

Kualitas perhatian menentukan kualitas pengalaman kita sehari-hari. Jika setiap momen dipenuhi perpindahan perhatian dan stimulasi, hidup dapat terasa semakin ramai, terpecah, dan melelahkan. Sebaliknya, ketika kita memberikan ruang bagi otak untuk tenang, kita tidak hanya mendapatkan kemampuan untuk bekerja dengan lebih fokus. Kita juga mendapatkan kembali kesempatan untuk berpikir, merencanakan, menemukan ide, dan menyadari apa yang sebenarnya penting.