Dampak El Nino, Debit Sungai Mahakam Menyusut dan Jalur Logistik Terganggu

0
267
Foto: Kementerian PU
(Vibizmedia – Jakarta) Dampak kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino kian nyata meredam debit air Sungai Mahakam, urat nadi perairan utama di Kalimantan Timur. Menyusutnya volume air sungai tidak sekadar mengancam ketersediaan air baku, tetapi juga melumpuhkan akses transportasi air yang memegang peranan vital dalam mobilitas warga dan rantai pasok kebutuhan pokok.
Anjloknya Curah Hujan dan Penyusutan Debit Air
Meskipun Kalimantan Timur secara umum memiliki curah hujan harian tinggi mencapai 3.600–3.700 mm per tahun, puncak kemarau pada pertengahan 2026 mencatat penurunan yang sangat drastis.
Pada bulan Juli 2026 curah hujan terukur berada di angka 289 mm. Sementara pada bulan Agustus 2026 curah hujan merosot tajam hingga tersisa hanya 25 mm.
Kondisi ini memicu penurunan debit air yang sangat signifikan di area hulu. Adapun untuk bagian hilir, fluktuasi muka air cenderung lebih stabil berkat adanya efek peredaman (damping), aliran dasar (baseflow) dari anak-anak sungai, serta pengaruh pasang surut.
Lumpuhnya Jalur Logistik dan Dampak Ekonomi
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, mengonfirmasi bahwa dangkalnya Sungai Mahakam membatasi jangkauan moda transportasi air penyeberangan penumpang, logistik pangan, dan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Perahu dan kapal logistik kini hanya sanggup melayani rute hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat. Akibatnya, pengiriman pasokan menuju Kabupaten Mahakam Ulu terpaksa dialihkan sepenuhnya melalui jalur darat yang memakan waktu tempuh hingga 2×24 jam. Terhambatnya akses ini mulai memicu kelangkaan BBM serta kenaikan harga barang kebutuhan pokok di daerah terisolasi.
Langkah Mitigasi Kementerian PU
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menginstruksikan BWS Kalimantan IV Samarinda untuk terus mengawal perkembangan debit air Sungai Mahakam secara ketat. Melalui Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian PU berkoordinasi langsung dengan pemerintah daerah setempat guna merumuskan langkah penanganan darurat dan meminimalkan dampak krisis distribusi bagi warga setempat.