Kerapu Budidaya Sorong Tembus Pasar Hong Kong, Bukti Potensi Akuakultur Papua

0
115
Foto: KKP

(Vibizmedia – Jakarta) Ikan kerapu hasil budi daya dari Sorong, Papua Barat Daya, mencatat langkah penting dalam pengembangan komoditas perikanan Indonesia. Untuk pertama kalinya, kerapu hidup yang dibudidayakan di wilayah tersebut berhasil memasuki pasar Hong Kong melalui ekspor perdana sebanyak 3,5 ton.

Pengiriman ini bukan sekadar membuka akses pasar baru bagi pembudi daya di Papua. Ekspor tersebut juga memperlihatkan bahwa produk perikanan dari kawasan timur Indonesia memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional ketika didukung standar mutu, keamanan pangan, dan tata kelola budi daya yang memenuhi persyaratan negara tujuan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari penerapan sistem sertifikasi mutu pada kegiatan akuakultur. Plt. Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP), Ishartini, mengatakan kerapu yang dikirim ke Hong Kong telah memiliki sertifikasi Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB) atau Good Aquaculture Practice (GAP), serta Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP).

“KKP melalui Badan Mutu sebagai competent authority (CA) memiliki skema sertifikasi yang diakui dunia yaitu CBIB atau GAP untuk komoditas yang berasal dari akuakultur, sehingga kerapu hidup Sorong bisa masuk pasar Hongkong,” kata Ishartini dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (7/9).

Ekspor perdana tersebut dilakukan dari Sorong, Papua Barat Daya, pada Kamis (4/9). Sebanyak lima jenis kerapu dikirim dalam kondisi hidup ke Hong Kong, yakni Kerapu Batu (Epinephelus polyphekadion), Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus), Kerapu Tiger (Epinephelus fuscoguttatus), Kerapu Bakau (Epinephelus coioides), dan Kerapu Kertang (Epinephelus lanceolatus).

Total volume pengiriman mencapai 3,5 ton dengan nilai sekitar USD 33.283. Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Sorong memiliki peluang untuk berkembang sebagai salah satu sentra produksi dan distribusi komoditas kerapu bernilai ekonomi tinggi dari kawasan timur Indonesia.

Papua Punya Modal Alam untuk Budi Daya Kerapu

Papua memiliki kondisi geografis dan sumber daya pesisir yang mendukung pengembangan akuakultur, termasuk budi daya kerapu. Perairan Papua Barat Daya, khususnya kawasan Sorong dan wilayah pesisir sekitarnya, memiliki ekosistem laut yang luas dengan kualitas perairan yang menjadi salah satu faktor penting dalam pemeliharaan ikan laut.

Kerapu sendiri merupakan salah satu komoditas ikan laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Permintaan terhadap kerapu hidup terutama berasal dari pasar Asia, termasuk restoran dan konsumen yang menjadikan ikan hidup sebagai bagian dari perdagangan ikan premium.

Karakteristik tersebut membuat pengembangan budi daya kerapu memiliki prospek ekonomi yang menarik bagi masyarakat pesisir. Dibandingkan hanya mengandalkan penangkapan dari alam, budi daya dapat menjadi sumber produksi yang lebih terencana sekaligus membantu menjaga keberlanjutan populasi ikan di perairan.

Dalam praktiknya, budi daya kerapu membutuhkan pengelolaan yang relatif ketat. Benih harus berasal dari sumber yang baik, kualitas air perlu dipantau secara berkala, pakan harus diberikan sesuai kebutuhan ikan, sementara kebersihan wadah dan fasilitas budi daya harus dijaga untuk mencegah munculnya penyakit.

Karena itu, keberhasilan ekspor kerapu Sorong tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan ikan dalam jumlah besar. Faktor yang tidak kalah penting adalah kemampuan pembudi daya memenuhi standar produksi dan keamanan yang ditetapkan pasar internasional.

Sertifikasi Menjadi Kunci Membuka Pasar Ekspor

Kepala UPT Badan Mutu KKP Sorong, Kasrida, mengatakan sertifikasi CBIB memberikan jaminan bahwa ikan yang dihasilkan melalui proses budi daya telah memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan pangan.

Sertifikasi tersebut diperoleh setelah kegiatan budi daya melalui audit oleh Inspektur Mutu terhadap 16 parameter manajemen budi daya. Penilaiannya mencakup berbagai aspek, mulai dari kualitas dan pengelolaan benih, suplai serta pengelolaan air, kebersihan fasilitas dan peralatan, wadah budi daya, penggunaan pakan, hingga pengelolaan limbah dan penanganan hasil panen.

Dengan standar tersebut, rantai produksi tidak berhenti pada bagaimana ikan tumbuh dan mencapai ukuran jual. Seluruh proses harus dapat ditelusuri dan dikelola dengan baik agar produk yang dihasilkan memenuhi aspek kesehatan ikan sekaligus aman untuk dikonsumsi.

Bagi pembudi daya di Papua, penerapan CBIB juga dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan posisi tawar. Produk yang telah memiliki sertifikasi mutu lebih mudah diarahkan untuk memasuki pasar yang mensyaratkan standar keamanan dan kualitas tertentu.

Ishartini mengatakan perusahaan yang telah memiliki sertifikat jaminan mutu dapat mengurus SMKHP secara daring melalui aplikasi Siap Mutu. Mekanisme tersebut diharapkan membuat proses administrasi ekspor menjadi lebih cepat sehingga pengiriman komoditas perikanan tidak tertunda.

Dari Sorong Menuju Pasar Global

Masuknya kerapu budi daya Sorong ke Hong Kong memberikan gambaran mengenai peluang yang dapat dikembangkan dari sektor perikanan Papua. Selama ini, kekayaan laut Papua lebih sering dilihat dari sisi sumber daya alam. Padahal, pengembangan akuakultur yang dikelola secara berkelanjutan dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar di tingkat daerah.

Tantangannya adalah bagaimana memastikan kegiatan budi daya berkembang tanpa mengorbankan kualitas lingkungan pesisir. Pengelolaan limbah, penggunaan pakan, kepadatan ikan, kesehatan ikan, serta daya dukung perairan harus menjadi bagian dari perencanaan produksi.

Di sisi lain, rantai pasok juga perlu diperkuat. Ekspor ikan kerapu hidup membutuhkan penanganan khusus karena ikan harus tetap dalam kondisi prima sejak dipanen, ditampung, diangkut, hingga tiba di negara tujuan. Infrastruktur transportasi, fasilitas karantina dan mutu, sistem holding, serta konektivitas logistik menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas komoditas.

Keberhasilan ekspor perdana 3,5 ton kerapu Sorong karena itu dapat dipandang sebagai titik awal, bukan tujuan akhir. Jika standar budi daya, kualitas benih, teknologi pemeliharaan, infrastruktur pascapanen, dan akses pasar terus diperkuat, Papua Barat Daya berpeluang mengembangkan kerapu sebagai salah satu komoditas unggulan akuakultur bernilai tinggi.

Lebih jauh, keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi kelautan di Papua tidak harus bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. Melalui budi daya yang bertanggung jawab, sumber daya pesisir dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu menjangkau pasar internasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Ekspor kerapu Sorong ke Hong Kong menjadi bukti awal bahwa komoditas akuakultur dari Papua memiliki tempat di pasar global. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi kualitas dan pasokan agar pengiriman perdana tersebut berkembang menjadi perdagangan yang berkelanjutan.