(Vibizmedia-Nasional) Industri mainan nasional menunjukkan prospek positif di tengah peluang pasar domestik dan global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat nilai ekspor industri mainan Indonesia mencapai sekitar US$664,6 juta pada 2025, meningkat 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tren positif tersebut berlanjut pada 2026. Pada periode Januari-Juni 2026, nilai ekspor mainan Indonesia mencapai US$351,8 juta, naik dari US$297,7 juta pada periode yang sama tahun 2025.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan industri mainan nasional memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan, baik dari sisi produksi maupun perluasan pasar.
“Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global,” ujar Reni di Jakarta, Senin (5/10).
Menurut Reni, industri mainan tidak hanya menghasilkan produk hiburan, tetapi juga memiliki nilai tambah dalam mendukung pendidikan dan perkembangan anak. Mainan dapat menjadi media pembelajaran interaktif yang membantu mengembangkan kreativitas, kemampuan motorik, imajinasi, hingga kemampuan memecahkan masalah.
Karena itu, pemerintah mendorong industri mainan untuk mengembangkan produk yang memiliki nilai edukatif, seperti mainan konstruksi, puzzle, board game, dan berbagai media pembelajaran interaktif.
Didukung 15.663 Tenaga Kerja
Reni mengungkapkan, berdasarkan data BPS 2024 dan SIINas 2025, terdapat 256 unit usaha yang bergerak di sektor industri mainan dengan total 15.663 tenaga kerja.
Industri tersebut juga ditopang oleh 10 sentra IKM mainan yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
“Industri mainan memiliki fondasi produksi yang dapat terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Secara nasional, industri mainan telah menjadi bagian dari ekosistem industri yang melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar,” katanya.
Dari sisi perdagangan, industri mainan Indonesia juga mencatat surplus net ekspor dalam lima tahun terakhir. Produk mainan Indonesia telah dipasarkan ke sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Inggris, China, Australia, dan Republik Ceko.
Menurut Reni, capaian tersebut menunjukkan masih terbuka ruang yang besar bagi industri mainan nasional untuk meningkatkan penetrasi pasar internasional.
Perkuat Produk Dalam Negeri
Kemenperin juga mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).
Hingga 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan kemampuan industri mainan nasional dalam memenuhi kandungan lokal mulai terbentuk.
“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” ujar Reni.
Sementara itu, Direktur Industri Aneka Kemenperin Reny Meilany mengatakan pemenuhan standar menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kualitas dan keamanan produk mainan.
Kemenperin memberikan pembinaan dan fasilitasi kepada pelaku industri, khususnya IKM, mulai dari sertifikasi SNI mainan anak, pendampingan ISO 9001:2015, asesmen dan implementasi Industri 4.0, hingga penghitungan TKDN.
Dukungan juga mencakup pengembangan sentra IKM, perluasan akses pasar, business matching, partisipasi dalam pameran internasional, serta program restrukturisasi mesin dan peralatan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Indonesia Toy Forum 2026
Berbagai upaya tersebut turut dibahas dalam Indonesia Toy Forum 2026, hasil sinergi Kemenperin melalui Ditjen IKMA dengan Asia Toy and Play Association (ATPA).
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dunia pendidikan, dunia usaha, serta pemangku kepentingan untuk membahas peluang dan tantangan sekaligus merumuskan arah pengembangan industri mainan nasional.
Rangkaian kegiatan diisi seminar yang menghadirkan perwakilan sejumlah perusahaan, antara lain PT Mattel Indonesia, EMWAY Globalindo, The LEGO Group, dan PT Chateda.
Selain seminar, digelar pula pameran permainan dan mainan anak yang diikuti 25 pelaku industri dari skala kecil, menengah, hingga besar. Pameran berlangsung pada 29 September-1 Oktober 2026 di Plasa Industri, Gedung Kementerian Perindustrian.
Reni berharap Indonesia Toy Forum 2026 menjadi momentum untuk menghasilkan langkah konkret dalam memperkuat industri mainan nasional, meningkatkan daya saing, sekaligus memperluas penetrasi produk Indonesia di pasar global.









