CKG Ungkap Masalah Kesehatan Masyarakat, Hipertensi dan Diabetes Masih Banyak Tak Tertangani

0
72
Foto: Kemenkes

(Vibizmedia – Jakarta) Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat deteksi dini penyakit dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatannya. Hasil pemeriksaan menunjukkan masih tingginya sejumlah masalah kesehatan, mulai dari karies gigi, hipertensi, diabetes, obesitas hingga gangguan kadar kolesterol.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak mengabaikan hasil pemeriksaan CKG. Menurutnya, skrining kesehatan menjadi penting karena banyak penyakit tidak menular berkembang tanpa menimbulkan gejala yang dirasakan secara jelas oleh penderitanya.

Hipertensi, diabetes dan gangguan kolesterol, misalnya, merupakan faktor risiko yang berkaitan erat dengan sejumlah penyakit serius. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung hingga gangguan fungsi ginjal apabila tidak diketahui dan dikendalikan sejak dini.

“Di Indonesia kematian paling tinggi karena stroke, nomor dua serangan jantung, nomor tiga kanker, nomor empat ginjal. Nah, penyakit nomor 1, 2, dan 4 stroke, jantung, dan ginjal itu penyebabnya hipertensi, diabetes, dan kolesterol,” kata Menkes dalam rapat kerja di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

CKG sebagai Upaya Deteksi Dini

CKG merupakan program pemerintah yang memberikan pemeriksaan kesehatan secara gratis kepada masyarakat. Program ini dirancang untuk membantu menemukan faktor risiko maupun penyakit sejak tahap awal sehingga dapat segera dilakukan tindak lanjut.

Pelaksanaan CKG tidak hanya ditujukan untuk mengetahui apakah seseorang sedang mengalami penyakit tertentu, tetapi juga untuk membangun kebiasaan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, masyarakat diharapkan dapat melakukan perubahan pola hidup maupun memperoleh penanganan medis sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.

Dalam pelaksanaannya, pemeriksaan dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk pemerintah, termasuk Puskesmas. Hasil skrining selanjutnya menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi, pemantauan maupun rujukan apabila diperlukan.

Hasil sementara CKG 2026 memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan masyarakat masih cukup besar. Dari 53,9 juta peserta yang telah menjalani pemeriksaan, masalah gigi berupa karies menjadi temuan dengan proporsi tertinggi, yakni 17.538.649 orang atau 32,5 persen.

“Masalah CKG yang paling besar ternyata gigi. Padahal gigi ini bisa menjadi sumber segala macam penyakit,” ujar Budi.

Tingginya kasus karies juga menjadi perhatian karena ketersediaan tenaga kesehatan gigi masih belum mencukupi. Kementerian Kesehatan mencatat terdapat kekurangan sekitar 2.700 dokter gigi di Puskesmas di seluruh Indonesia.

Jutaan Kasus Hipertensi Terdeteksi

Selain masalah kesehatan gigi, skrining CKG juga menemukan tingginya kasus penyakit tidak menular. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 73,1 juta peserta, terdapat 7,13 juta orang yang terdeteksi mengalami hipertensi atau sekitar 9,7 persen.

Sementara itu, sebanyak 7,25 juta peserta atau 9,9 persen berada dalam kondisi pre-hipertensi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kelompok masyarakat yang sudah memiliki faktor risiko dan perlu melakukan pengendalian agar tidak berkembang menjadi hipertensi.

Temuan diabetes juga cukup signifikan. CKG mencatat 1,19 juta orang atau 2,2 persen peserta mengalami diabetes. Di samping itu, sebanyak 2,49 juta orang atau 4,5 persen berada pada kondisi pre-diabetes.

Masalah metabolik lainnya terlihat pada kelompok peserta berusia lebih dari 40 tahun yang memiliki riwayat hipertensi atau diabetes. Dari kelompok tersebut, temuan dislipidemia atau kadar kolesterol tinggi mencapai 72,7 persen atau sekitar 256.485 orang.

Menurut Menkes, angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan kesehatan masyarakat tidak berhenti pada menemukan penyakit melalui skrining. Persoalan berikutnya adalah memastikan masyarakat yang telah mengetahui kondisi kesehatannya benar-benar mendapatkan pengobatan dan melakukan pengendalian penyakit secara konsisten.

Sebagian Besar Kasus Belum Mendapat Pengobatan

Data Kementerian Kesehatan memperlihatkan masih terdapat kesenjangan cukup besar antara jumlah kasus yang ditemukan dan masyarakat yang menjalani pengobatan.

Dari 7,13 juta kasus hipertensi yang teridentifikasi melalui CKG, baru 755.907 orang atau sekitar 11 persen yang tercatat aktif menjalani pengobatan. Sementara dari 1,19 juta kasus diabetes yang ditemukan, baru 151.552 orang atau sekitar 13 persen yang menjalani pengobatan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan gratis perlu diikuti dengan langkah lanjutan. Masyarakat yang telah mengetahui dirinya memiliki tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi atau faktor risiko lainnya perlu melakukan konsultasi dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Pemerintah juga mendorong masyarakat memanfaatkan Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lanjutan. Untuk kasus hipertensi dan diabetes, obat dapat diperoleh secara gratis melalui Puskesmas sesuai hasil pemeriksaan dan indikasi medis.

Menkes mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai muncul komplikasi untuk mulai mengendalikan penyakit.

“Tolong jangan anggap remeh kalau tekanan darahnya sudah di atas 120/80, mendingan datang ke Puskesmas dikasih obat gratis. Kalau didiamkan saja merasa dirinya sehat, 3 sampai 5 tahun nanti bisa kena stroke atau cuci darah,” pesan Menkes.