BNPT Perkuat Literasi Digital untuk Lindungi Anak dari Paparan Ekstremisme

0
55
Foto: BNPT

(Vibizmedia – Jakarta) Kemajuan teknologi digital memberikan semakin banyak pilihan bagi anak dan remaja untuk memperoleh informasi, belajar, berkomunikasi, hingga menikmati hiburan. Namun, di balik manfaat tersebut, ruang digital juga menghadirkan tantangan baru berupa potensi penyebaran konten dan narasi ekstremisme yang dapat menyasar kelompok usia muda.

Persoalan ini menjadi perhatian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam memperkuat strategi pencegahan terorisme. Salah satu upaya dilakukan melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang menjadi mitra BNPT di berbagai daerah.

Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah pola penyebaran paham ekstremisme. Karena itu, strategi pencegahan juga perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, termasuk dengan memberikan perlindungan kepada anak tidak hanya di lingkungan fisik, tetapi juga ketika mereka beraktivitas di dunia maya.

“Perkembangan terorisme ini semakin masif terhadap anak-anak di bawah umur. Mereka banyak tergabung ke dalam grup-grup di media sosial, ada juga melalui game online,” kata Eddy dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Periode Triwulan Ketiga Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurut Eddy, potensi paparan ekstremisme melalui platform digital membutuhkan perhatian lintas sektor. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri karena anak berinteraksi dengan lingkungan yang jauh lebih luas, mulai dari keluarga, sekolah, teman sebaya, komunitas hingga masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, orang tua dan tenaga pendidik memiliki posisi penting dalam membantu anak memahami informasi yang mereka temui di internet. Kemampuan mengenali konten berbahaya dan mempertanyakan informasi secara kritis menjadi bagian dari upaya membangun daya tangkal sejak dini.

Tiga Pilar Pencegahan

Dalam konteks pendidikan, BNPT mendorong FKPT memperkuat program pencegahan melalui tiga pendekatan utama, yakni literasi digital, pendidikan karakter, dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking).

“Fokus intervensi FKPT adalah literasi digital, pendidikan karakter dan critical thinking. Outcome yang diharapkan adalah anak-anak dan remaja mampu mengenali dan menolak konten ekstremisme,” jelas Eddy.

Literasi digital diperlukan agar anak memiliki kemampuan menggunakan teknologi secara aman sekaligus memahami risiko yang terdapat di dalamnya. Sementara pendidikan karakter diharapkan dapat memperkuat nilai toleransi, kebangsaan, dan penghargaan terhadap perbedaan.

Adapun kemampuan berpikir kritis menjadi bekal bagi anak dan remaja untuk tidak menerima begitu saja informasi yang mereka temui di media sosial maupun platform digital lainnya. Mereka diharapkan mampu menilai sumber, memahami konteks, dan mengenali narasi yang berpotensi mengarah pada paham ekstremisme.

FKPT Perkuat Pencegahan di Daerah

Penguatan peran FKPT dinilai penting karena setiap daerah memiliki karakteristik sosial, budaya, serta tantangan yang berbeda. Kedekatan FKPT dengan masyarakat memungkinkan program pencegahan disesuaikan dengan kondisi lokal sehingga pesan edukasi dapat lebih mudah diterima dan menjangkau kelompok yang membutuhkan perhatian.

Pendekatan berbasis daerah juga memungkinkan upaya pencegahan dilakukan lebih dekat dengan lingkungan tempat anak tumbuh. Sekolah, keluarga, komunitas, dan organisasi masyarakat dapat dilibatkan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak sekaligus memperkuat ketahanan mereka terhadap berbagai pengaruh negatif.

BNPT menegaskan bahwa perlindungan anak dari paparan ekstremisme merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya perlu membangun sistem pencegahan yang tidak hanya berfokus pada dunia nyata, tetapi juga ruang digital.

Dengan kolaborasi tersebut, pencegahan terorisme dapat dilakukan lebih awal, sebelum paparan berkembang menjadi keterpaparan yang lebih serius. Upaya tersebut diarahkan untuk membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat, toleran, mampu berpikir kritis, serta bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital.