(Vibizmedia-Kolom) Sehari sebelum berangkat, saya membuka daftar check-in di layar ponsel dan tertegun cukup lama. Nomornya berderet rapi dari atas ke bawah, grup dengan nama-namanya terasa seperti peta dunia yang diketik satu per satu. Ada Zhang dan Liang dari Tiongkok, ada Choi, Yi, dan Hwang dari Korea, lalu ada Sharma, Kalra, Megan dari Inggris, Andrzej dari Polandia, dan Grover dari India. Ada pula nama-nama dari Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan tentu saja kawan-kawan Sri Lanka yang menjadi tuan rumah kami.
Di sela-sela deretan itu, saya menemukan nama dari negeri sendiri, dan tidak jauh dari situ ada nama-nama dari Filipina. Di bagian bawah daftar ada empat baris sederhana yang hanya bertuliskan “Guide 1”, “Guide 2”, “Guide 3”, dan “Guide 4”, seolah mengingatkan bahwa seratusan orang ini akan dibimbing masuk ke dunia yang sama sekali berbeda dari ruang pameran. Saat itu saya belum tahu bahwa daftar yang kering tersebut akan menjadi pintu menuju salah satu sore paling hidup dalam perjalanan saya. Yang saya tahu hanyalah bahwa saya akan menjelajahi taman nasional bersama kawan-kawan dari 27 negara.
Dunia dalam Satu Rombongan
Siang itu kami berkumpul di lobi resor dengan wajah-wajah yang sudah mulai akrab setelah beberapa hari mengikuti SL MICE Expo 2026. Ada kawan dari Singapura, Malaysia, India, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Ada juga yang jauh-jauh datang dari Rusia, Inggris, Italia, Polandia, Rumania, Spanyol, Jerman, Prancis, Swedia, Siprus, Afrika Selatan, dan Australia. Saya sendiri mewakili Indonesia.
Logat kami berbeda-beda, dan kalau didengarkan dari kejauhan, lobi itu seperti ruang sidang yang riuh tanpa penerjemah. Ada yang bercanda dengan aksen Inggris yang kental, ada yang menyapa dengan bahasa Rusia, dan ada yang mencampur bahasa Inggris dengan logat India yang renyah. Meski begitu, kami saling mengerti dengan mudah, karena tawa dan rasa penasaran tidak membutuhkan kamus. Dari sanalah rombongan besar itu bergerak menuju bus, dengan satu tujuan yang sama, Minneriya National Park.
Bus yang Berubah Jadi Kelas Alam
Begitu bus melaju, perut yang kenyang dan mata yang berat membuat beberapa kawan terkantuk-kantuk di kursinya. Perjalanan menuju Minneriya memakan waktu sekitar tiga jam, dan pemandu kami tahu betul bahwa ia tidak akan punya kesempatan menjelaskan apa pun begitu kami sudah berada di atas jip yang berisik. Karena itu ia berdiri di depan, meminta maaf dengan senyum karena mengganggu tidur siang kami, lalu mengatakan bahwa penjelasan ini tidak bisa menunggu sampai kami tiba di taman.
Ia ternyata lulusan ilmu flora dan fauna, dan semangatnya terasa sejak kalimat pertama. Ia memulai dari yang paling dasar, yaitu bahwa di dunia ada dua jenis gajah, Afrika dan Asia, dan gajah Asia masih terbagi lagi menjadi beberapa subspesies. Ada gajah Sri Lanka, gajah India, serta gajah di kawasan Malaysia, Thailand, hingga Sumatra. Seorang kawan dari Malaysia menyenggol lengan saya sambil berbisik bahwa Sumatra itu dekat dengan negeri saya, dan saya mengangguk bangga seolah-olah gajah-gajah itu saudara jauh saya sendiri.
Lalu ia melempar pertanyaan ke seisi bus, kenapa gading gajah Asia jauh lebih berharga daripada gading gajah Afrika. Seorang kawan dari barisan belakang menjawab bahwa gading gajah Afrika berongga di dalamnya, dan pemandu langsung bertepuk tangan sambil membenarkan bahwa gading gajah Asia justru padat. Ia melanjutkan dengan fakta-fakta lain yang membuat kami tercengang, seperti gajah bisa hidup sampai sekitar 80 tahun, mirip manusia. Induk betina mengandung selama sekitar 22 bulan dan merawat anaknya hingga sembilan tahun, sementara gajah jantan yang sudah melewati usia itu akan meninggalkan kawanan dan hidup menyendiri.
Ia juga bercerita tentang panti asuhan gajah di Sri Lanka yang berdiri sejak 1975, yang awalnya hanya menampung empat bayi gajah yatim dan kini dihuni lebih dari seratus ekor. Tempat favoritnya, katanya, adalah sebuah rumah transit di pesisir selatan yang tidak pernah mengurung gajah-gajahnya. Mereka dilepas ke hutan, lalu datang sendiri ke tempat itu pada jam makan, dan hal itu berlangsung selama bertahun-tahun sampai mereka benar-benar mandiri. Kami mendengarkan seperti murid sekolah yang baru belajar sesuatu yang sungguh-sungguh baru.
Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari kursi-kursi bus. Seorang kawan bertanya apakah ada penginapan di dalam hutan, dan pemandu menjawab bahwa ada bungalo milik departemen satwa liar, tetapi izinnya harus diurus dari Kolombo dan setelah pukul enam sore tidak ada yang boleh keluar bungalo karena berbahaya. Ada juga yang bertanya soal macan tutul, dan ia menjawab bahwa jumlahnya di seluruh Sri Lanka hanya sekitar empat puluh sampai delapan puluh ekor, dengan tempat terbaik untuk melihatnya bukan di Minneriya. Yang hampir pasti kami lihat adalah gajah, dan kalau beruntung juga burung, karena di zona kering seperti ini ada sekitar 190 spesies yang bisa ditemukan.
Pindah ke Jip Terbuka
Di dekat gerbang taman, bus kami berhenti dan semua orang diminta turun, karena bus besar tidak diizinkan masuk ke dalam kawasan safari. Taman ini ditetapkan sebagai taman nasional pada 1994 setelah sebelumnya berstatus suaka margasatwa, dan aturannya ditegakkan dengan ketat. Kendaraan kami diganti dengan jip 4×4 terbuka yang masing-masing memuat enam orang, lengkap dengan nomor dan stiker hijau yang membedakan satu jip dari yang lain. Ada keriuhan kecil ketika keempat pemandu memanggil nomor-nomor, dan kami terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang tak terduga.
Saya kebagian satu jip dengan kawan-kawan yang baru saya kenal beberapa hari ini, dan obrolan kami langsung disusul tawa karena jip berguncang di tanjakan pertama. Aturan taman dijelaskan lewat gambar di pintu masuk, dan intinya jelas: tidak boleh merokok dan tidak boleh membawa api atau petasan. Pemandu juga sudah mengingatkan di bus bahwa membunuh gajah di Sri Lanka adalah kejahatan berat dengan ancaman hukuman yang sangat keras. Kami masuk sekitar pukul empat sore, dengan satu kewajiban yang harus dipatuhi, yaitu sudah keluar dari taman sebelum pukul enam.
Lorong Hijau
Jalan di dalam taman berupa tanah merah yang berkelok, diapit pepohonan rimbun yang dedaunannya begitu lebat sampai terasa seperti dinding hijau di kiri dan kanan. Jip kami melaju pelan sambil berguncang, dan di tengah perjalanan seorang kawan berkemeja krem tiba-tiba berdiri dengan tangan terkepal ke udara seperti pemenang lomba. Di sampingnya ada seorang perempuan berkaus biru dengan kacamata gelap, di belakang mereka seorang pria berbaju hitam, dan di sisi lain seorang pria berkemeja putih mengangkat ponselnya untuk berswafoto sambil tertawa lebar. Dari kejauhan, kami tampak seperti rombongan wisata keluarga yang bahagia.
Entah dari negara mana pun kami berasal, di atas jip itu kami hanyalah sekelompok orang dewasa yang mendadak kembali jadi anak-anak. Tidak ada yang membicarakan pekerjaan, tidak ada yang membahas kontrak, dan tidak ada yang mengecek surel. Plat nomor jip di depan kami, PP-7138, menjadi bahan lelucon spontan, dan kami iseng menamai diri “tim 7138” sambil saling memotret di jalan setapak yang berdebu itu. Dari jip di belakang terdengar tawa kawan-kawan lain, sementara jip di depan menghilang di tikungan, meninggalkan jejak debu tipis yang melayang pelan di antara cahaya sore.
Padang Rumput dan Danau
Lalu pepohonan tiba-tiba membuka, dan pemandangan di depan kami membuat seisi jip terdiam. Sebuah padang rumput hijau membentang luas sampai ke tepi danau yang berkilau keperakan di kejauhan, dan di atasnya langit biru bercampur gumpalan awan putih dan awan kelabu berat yang bergerak perlahan. Di bawah langit seluas itu, gajah-gajah merumput dengan tenang, seolah kedatangan puluhan jip bukan urusan mereka sama sekali. Rasanya seperti memasuki lukisan yang bergerak.
Seekor induk berbadan besar berjalan paling dekat dengan kami, kulitnya keabuan dan berkerut seperti peta tua yang sudah ribuan kali dilipat. Di dekat kakinya, dua anak gajah yang lebih muda sibuk mencabut rumput dengan belalai, sementara tak jauh dari situ seekor bayi mungil menempel di sisi induk lain yang merumput sambil sesekali mengibaskan telinga. Jauh di seberang padang, satu gajah lagi berdiri sendirian di dekat air, siluetnya kecil dan tenang. Mesin jip dimatikan, dan kami hanya mendengar bunyi rumput dicabut, napas panjang gajah, dan angin yang lewat.
Pemandu berbisik bahwa inilah alasan Minneriya begitu terkenal di dunia. Ketika musim kering tiba, air di satu sisi menyusut dan kawanan berpindah ke sisi lain yang masih berair, seperti jaringan alami yang saling terhubung, sehingga pada waktu tertentu ratusan gajah bisa berkumpul di tepi danau yang sama. Ia sendiri pernah menyaksikan sekitar tiga ratus ekor dalam satu kali kunjungan. Kami tidak melihat sebanyak itu sore itu, tetapi apa yang ada di depan mata sudah cukup membuat seorang kawan dari Korea menutup mulut dengan tangannya dan seorang kawan dari India mengeluarkan ponsel tanpa suara. Rasa kagum ternyata bahasa yang dimengerti semua orang.
Pulang dengan Penuh Cerita
Menjelang pukul enam, matahari mulai condong dan cahaya berubah keemasan, sehingga jip-jip berputar balik satu per satu menuju gerbang. Perjalanan pulang terasa lebih bergelombang dari yang kami bayangkan, dan saya baru mengerti mengapa pemandu menyuruh kami tidur siang tadi. Begitu kami kembali ke bus, suasana berubah total, karena tidak ada lagi yang mengantuk. Semua orang bicara sekaligus, saling memperlihatkan foto, menertawakan wajah sendiri di layar ponsel, dan membandingkan siapa yang mendapat sudut terbaik.
Entah bagaimana, obrolan melompat ke soal ular. Kawan-kawan dari India bercerita bahwa banyak orang di desa-desa mereka digigit ular, dan pengobatannya sulit kalau korban tidak tahu ular apa yang menggigitnya, sebab antivenom biasanya khusus untuk jenis tertentu. Pemandu membenarkan bahwa di Sri Lanka pun begitu, bahkan kadang ularnya harus dibawa ke rumah sakit agar penanganannya tepat. Seorang kawan dari Australia menyela dengan bangga bahwa negaranya punya ular-ular paling berbisa, dan seisi bus langsung bergidik sambil tertawa. Pemandu menyebut beberapa ular berbahaya di Sri Lanka, dan kami mendengarkan dengan campuran ngeri dan senang.
Ketika obrolan mulai reda, seseorang bertanya tentang negara saya, dan saya menjawab dengan bersemangat soal Indonesia, Bali, dan Jakarta. Beberapa kawan langsung bercerita bahwa mereka pernah ke sana atau sudah lama ingin berkunjung, dan percakapan pun bergeser menjadi tukar-menukar rekomendasi tempat makan, pantai, dan festival. Begitulah malam itu berjalan, dengan negara-negara yang saling bertukar cerita, saran, dan janji untuk bertemu lagi di pameran berikutnya. Tidak ada yang terburu-buru turun dari bus ketika kami akhirnya tiba kembali di resor.
Yang Tersisa
Malam harinya, di kamar resor, saya membuka kembali foto-foto hari itu satu per satu. Ada foto jip kami dengan lima wajah tertawa di atas bak terbuka, tangan terangkat dan ponsel teracung, dan ada foto padang rumput itu dengan induk gajah besar di depan, anak-anaknya di sampingnya, dan danau yang berkilau di kejauhan. Saya teringat daftar nama di layar ponsel kemarin, deretan nomor dan nama asing yang terasa dingin. Sekarang nama-nama itu punya wajah, tawa, dan cerita yang menempel di ingatan.
Gajah-gajah itu tidak peduli kami berasal dari negara mana. Mereka merumput, merawat anak-anaknya, dan berjalan mengikuti air seperti yang sudah mereka lakukan selama ribuan tahun, dan sore itu 27 negara duduk diam di atas jip-jip terbuka untuk mengamati mereka dengan kagum yang sama. Mungkin itulah pelajaran paling sederhana dari Minneriya: kadang yang menyatukan orang-orang berbeda bukan kesepakatan bisnis atau jabat tangan resmi, melainkan keheningan bersama di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar dari kita semua.









