Kemenpar Kembangkan Camino de Flores untuk Perluas Dampak Ekonomi Pariwisata di Flores

0
228
Foto: Kemenpar

(Vibizmedia – Jakarta)  Kementerian Pariwisata mendorong pengembangan Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores sebagai jalur wisata berbasis spiritualitas yang diharapkan dapat membantu pemulihan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pascagempa bumi. Program ini dirancang untuk memperluas persebaran wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di berbagai wilayah Pulau Flores.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Camino de Flores menjadi strategi untuk mengurangi konsentrasi kunjungan wisatawan yang selama ini lebih banyak terpusat di Manggarai Barat, terutama Labuan Bajo. Melalui pola perjalanan baru ini, potensi wisata di kabupaten lain di Flores diharapkan ikut berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata.

Hal tersebut disampaikan Widiyanti dalam konferensi pers peluncuran Camino de Flores di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (13/10/2026).

“Camino de Flores hadir sebagai bentuk pola perjalanan (travel pattern) baru yang strategis. Melalui program ini, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, lanskap alam, hingga kegiatan dan ritual budaya,” ujar Widiyanti.

Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores—A Spiritual Journey of Reflection and Recovery merupakan program wisata jalan kaki atau Flores Walk yang menyasar segmen khusus, terutama komunitas peziarah (faith-based community) dan wisatawan yang mencari ketenangan melalui mindfulness tourism.

Pada tahap awal, Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) akan melaksanakan proyek percontohan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026. Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan menempuh rute Bajawa–Boawae–Ende sepanjang kurang lebih 70 kilometer.

Rute tersebut dirancang untuk memadukan perjalanan spiritual, penelusuran sejarah, keindahan alam, serta interaksi langsung dengan masyarakat setempat. Setelah tahap percontohan, pengembangan Camino de Flores direncanakan mencakup Etape Barat yang menghubungkan Labuan Bajo–Ruteng dan Etape Timur dari Maumere–Larantuka. Seluruh etape juga berpotensi digabungkan sesuai kebutuhan dan minat wisatawan.

Widiyanti menegaskan, proyek percontohan ini bukan semata-mata kegiatan promosi pariwisata, melainkan juga sarana menguji kesiapan destinasi dari aspek teknis, operasional, kelembagaan, serta keterlibatan masyarakat.

Untuk mendukung keamanan perjalanan, Kementerian Pariwisata melalui Kedeputian Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur bersama BPOLBF telah menyiapkan dokumen Risk Assessment dan Emergency Response Plan. Persiapan tersebut mencakup penyiagaan petugas pengarah perjalanan atau road marshal, pos kesehatan, penyediaan air minum bergerak (mobile water station), serta mitigasi risiko cuaca dan kondisi rute dengan elevasi yang menantang.

Selain mengembangkan pariwisata, Camino de Flores juga membawa misi sosial melalui kegiatan penggalangan dana untuk membantu masyarakat Flores. Dana yang terkumpul direncanakan mendukung renovasi rumah sakit dan gereja, perbaikan sarana budaya serta pariwisata, dan penyediaan fasilitas sanitasi maupun akses air bersih.

Widiyanti mengapresiasi inisiatif Mari Elka Pangestu bersama tim dalam menghadirkan program tersebut. Menurutnya, Camino de Flores menawarkan pengalaman yang melampaui keindahan alam karena menyatukan unsur spiritualitas, budaya, sejarah, dan partisipasi masyarakat lokal.

Untuk menjaga keberlanjutan jalur wisata ini, Kementerian Pariwisata juga mendorong pembentukan tata kelola lintas wilayah yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kerja sama tersebut direncanakan melibatkan Kementerian Pariwisata, BPOLBF, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten di Ngada, Nagekeo, dan Ende, keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal. Pembagian peran masing-masing pihak akan diperkuat melalui mekanisme kerja sama atau nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU).

Melalui konsep perjalanan yang lebih lambat dan mendalam, wisatawan diharapkan dapat tinggal lebih lama di Flores. Peningkatan lama tinggal tersebut berpotensi mendorong perputaran ekonomi di desa-desa yang dilalui, sekaligus membuka kesempatan usaha bagi pemilik homestay, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin tenun, serta pemandu wisata lokal.

Wisatawan juga akan memperoleh kesempatan mengenal kehidupan dan identitas budaya masyarakat Flores melalui tradisi tenun ikat, kuliner khas, serta nilai religius yang melekat dalam keseharian warga.

Tenun ikat tidak hanya merepresentasikan identitas dan nilai adat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga, khususnya perempuan penenun. Demikian pula kuliner lokal yang mencerminkan pengetahuan dan tradisi yang diwariskan antargenerasi. Pengalaman tersebut, apabila dipadukan dengan perjalanan spiritual dan interaksi bersama warga, dapat memperkaya pengalaman wisata sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Widiyanti mengatakan, hasil evaluasi proyek percontohan akan menjadi dasar penyusunan rute final, standar kelayakan, dan profil risiko. Dokumen tersebut nantinya digunakan untuk mengembangkan Camino de Flores sebagai produk wisata berkelanjutan yang dapat ditawarkan kepada mitra industri, termasuk agen perjalanan dan operator tur.

“Kami berharap Camino de Flores menjadi magnet baru yang berkualitas di Kawasan Timur Indonesia,” ujarnya.

Terinspirasi dari jalur ziarah di Spanyol

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menjelaskan bahwa gagasan tersebut terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol. Jalur ziarah yang berakar sejak abad ke-9 itu berkembang setelah penemuan makam Santo Yakobus di Galicia pada 813 Masehi. Rute tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu jalur ziarah utama dunia dan memperoleh pengakuan dari UNESCO serta Dewan Eropa.

Pada 2024–2025, Camino de Santiago mencatat hampir 500 ribu hingga 530 ribu peziarah setiap tahun yang berasal dari lebih dari 160 negara. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi untuk menghadirkan jalur serupa di Flores dengan pendekatan yang memadukan perjalanan iman, alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Saya berpikir Indonesia bisa punya Camino-nya sendiri, dan Flores adalah tempat yang sempurna untuk itu. Camino de Flores mengadaptasi semangat Camino de Santiago untuk Flores sebagai wisata spiritual yang juga berkelanjutan, yang memadukan spiritualitas, alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal,” kata Mari Elka, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011–2014.

Ia menjelaskan, perjalanan dengan berjalan kaki melewati situs religi, kawasan alam, dan berbagai daya tarik budaya akan memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi wisatawan. Selain memperpanjang lama tinggal, pola perjalanan ini diharapkan mengalirkan manfaat ekonomi secara langsung ke desa-desa yang menjadi bagian dari rute.

Menurut Mari Elka, Camino de Flores merupakan salah satu bentuk pariwisata inklusif berbasis masyarakat yang mengedepankan keberlanjutan. Pengembangannya juga diharapkan mampu memperkenalkan lebih luas kekayaan budaya dan potensi wisata di luar Labuan Bajo.

NTT dorong pengembangan jalur serupa di wilayah lain

Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut positif peluncuran Camino de Flores. Ia menilai konsep tersebut berpotensi memperkuat daya tarik wisata Flores sekaligus menjadi model pengembangan wisata berbasis karakter dan keunikan daerah.

Emanuel bahkan membuka peluang untuk mengembangkan konsep serupa di wilayah lain di NTT, dengan menyesuaikan potensi masing-masing daerah.

“Kita bisa buat Camino de NTT. Jadi di Flores buat sendiri, Timor buat sendiri, Sumba buat sendiri sesuai dengan daya tarik, cerita dan keunikan masing-masing,” ujarnya.

Ia juga menilai semangat solidaritas dan kebersamaan dalam Camino de Flores relevan dengan upaya pemulihan Flores setelah gempa bumi. Menurutnya, pengembangan wisata yang menggabungkan spiritualitas, budaya, dan pemberdayaan masyarakat dapat menjadi momentum untuk mendorong kebangkitan daerah.

“Camino de Flores akan memberikan dampak yang nyata bagi kami di provinsi. Tema spiritualitas dan pemulihan di Flores ini sangat tepat dan menjadi momentum yang kuat buat kami di Flores ini untuk bisa bangkit kembali,” kata Emanuel.