Investasi Pariwisata Tumbuh 16,64%, Pemerintah Dorong Pengembangan Sektor Wisata

0
60
Foto: Kemenko Ekon

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah terus mengoptimalkan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional. Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor ini juga berpotensi memperluas kesempatan kerja dan mendorong pemerataan manfaat pembangunan. Di tengah dinamika global, peningkatan konektivitas, daya saing industri, serta konsistensi kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan pariwisata sekaligus membuka peluang usaha dan investasi baru.

Ketahanan ekonomi Indonesia menjadi fondasi bagi pengembangan sektor pariwisata. Pada semester I 2026, perekonomian nasional tumbuh 5,45%, tertinggi di antara negara-negara G20. Inflasi pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%, sedangkan investasi tumbuh 7,2% menjadi Rp1.010,6 triliun. Lebih dari separuh realisasi investasi tersebut berada di luar Pulau Jawa.

Pertumbuhan ekonomi yang mampu bertahan di atas 5% selama lima kuartal berturut-turut juga mencerminkan kuatnya permintaan domestik dan berlanjutnya aktivitas investasi. Kondisi ini menjadi modal penting bagi pembangunan infrastruktur pariwisata, pengembangan akomodasi, serta peningkatan mutu layanan bagi wisatawan.

“Bagi sektor pariwisata, stabilitas ekonomi sangat penting karena daya beli masyarakat yang lebih kuat mendorong perjalanan domestik, sementara investasi mendukung pembangunan infrastruktur, akomodasi, dan peningkatan layanan,” ujar Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dradjad Hari Wibowo saat membacakan keynote speech Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto pada Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di Jakarta, Kamis (15/10).

Kinerja Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh

Di tengah perlambatan industri pariwisata dunia, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan yang relatif kuat. Pada semester I 2026, kunjungan wisatawan internasional secara global hanya meningkat 0,4%. Sementara itu, kawasan Timur Tengah mengalami penurunan sebesar 22% dan Asia Tenggara terkoreksi 1%. Sebaliknya, Indonesia mencatat pertumbuhan kunjungan sebesar 5,71%.

Tren positif tersebut berlanjut hingga Agustus 2026. Dalam periode Januari–Agustus, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 10,58 juta, naik 5,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini juga telah mendekati 99% dari tingkat kunjungan pada periode sebanding sebelum pandemi, menandakan pemulihan pariwisata nasional terus berlangsung.

Kontribusi sektor pariwisata terlihat dari besarnya aktivitas perjalanan domestik, perolehan devisa, serta penyerapan tenaga kerja. Sepanjang 2025, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan. Pada tahun yang sama, devisa pariwisata tercatat sebesar USD18,28 miliar, sementara sektor ini menopang 25,91 juta lapangan kerja. Kontribusi langsung pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 3,97%, dengan nilai investasi sebesar Rp73,55 triliun.

Memasuki 2026, aktivitas wisata domestik masih menunjukkan perkembangan positif. Hingga Agustus, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta perjalanan atau meningkat 4,29%. Adapun devisa pariwisata pada semester I 2026 tercatat sebesar USD8,43 miliar.

Investasi di sektor pariwisata juga tumbuh 16,64%, lebih dari dua kali lipat laju pertumbuhan investasi nasional. Perkembangan ini memperlihatkan besarnya peluang pariwisata dalam mendorong kegiatan ekonomi daerah, menciptakan pekerjaan, dan memperluas kesejahteraan masyarakat.

Stimulus dan Peningkatan Kualitas Layanan

Untuk memaksimalkan peluang tersebut, pemerintah menempatkan pariwisata sebagai salah satu sektor strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Pada 2026, pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan, serta kontribusi pariwisata terhadap PDB sebesar 4,5%–4,7%. Pencapaian target tersebut membutuhkan kebijakan yang terkoordinasi, baik untuk meningkatkan permintaan perjalanan maupun memperbaiki kualitas dan daya saing destinasi.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun, yang mencakup potongan harga transportasi dan insentif perpajakan untuk mendorong perjalanan wisata dalam negeri.

Pemerintah juga memberikan dukungan berupa keringanan Pajak Penghasilan (PPh) bagi 552.000 pekerja sektor perhotelan. Selain itu, pengembangan keterampilan ditujukan bagi 400.000 tenaga kerja pariwisata setiap tahun. Perluasan akses visa dan peningkatan konektivitas udara turut menjadi bagian dari upaya memperkuat aksesibilitas destinasi dan meningkatkan kenyamanan wisatawan.

“Kami juga ingin menyoroti betapa mendesaknya inovasi dan efisiensi di sektor pariwisata Indonesia. Pemerintah akan mengembangkan ekosistem yang mendorong pelaku usaha pariwisata untuk menghasilkan desain produk kreatif dengan harga yang kompetitif,” imbuh Dradjad.

Inovasi Produk dan Penguatan Industri MICE

Selain mendorong permintaan, pemerintah menilai inovasi produk dan efisiensi operasional menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia. Kekayaan alam dan budaya yang dimiliki berbagai daerah perlu dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang menarik, kreatif, dan memiliki harga kompetitif.

Pengembangan atraksi juga dapat dilakukan melalui penyelenggaraan berbagai acara yang menggabungkan pariwisata dengan olahraga, musik, dan industri kreatif. Pendekatan ini diharapkan mampu menarik kelompok wisatawan yang lebih beragam sekaligus memperpanjang manfaat ekonomi bagi daerah tujuan wisata.

Pemerintah turut mendorong penguatan industri Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) melalui upaya menarik lebih banyak kegiatan bisnis internasional ke Indonesia. Penghubungan antara penyelenggara acara dan pelaku usaha lokal juga diperlukan agar kegiatan tersebut memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian setempat.

Kolaborasi pemerintah dan industri menjadi faktor penting untuk mengubah potensi destinasi menjadi peluang konkret berupa investasi, pengembangan usaha, dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, pertumbuhan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.

“Visi kita sangat jelas. Pariwisata perlu menciptakan lapangan kerja berkualitas, memberdayakan masyarakat lokal, menarik investasi berkelanjutan, serta memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global,” pungkas Dradjad.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Ketua Umum GIPI Hariyadi Sukamdani, Ketua Steering Committee WITF Budi Tirtawisata, Asperkeu Setda Provinsi DKI Jakarta Suharini Eliawati, serta Ketua IHLC Sapta Nirwand.