(Vibizmedia-Nasional) Industri kecil dan menengah (IKM) Indonesia berpeluang mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global komponen elektronika dan kelistrikan. Pertumbuhan kendaraan listrik, transisi energi, kecerdasan buatan (AI), serta pembangunan pusat data membuka pasar baru yang perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industri manufaktur nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Kementerian Perindustrian menilai Indonesia memiliki modal strategis untuk mengembangkan industri komponen elektronika. Selain didukung pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki sumber daya nikel, kobalt, tembaga, dan timah yang dapat menjadi bagian dari pengembangan ekosistem industri berbasis teknologi.
Kawasan industri Jabodetabek–Karawang juga dinilai berpotensi menjadi pusat pengembangan komponen elektronika karena didukung ekosistem manufaktur dan jaringan industri yang relatif matang.
Peluang tersebut semakin terbuka seiring proyeksi McKinsey Global Institute yang menyebutkan nilai pasar komponen elektronika dunia berpotensi melampaui US$1 triliun pada 2030. Pertumbuhan permintaan terutama didorong oleh perkembangan kendaraan listrik, kecerdasan buatan, dan internet of things (IoT).
Bahkan, permintaan komponen untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan pada periode 2023–2030 diproyeksikan tumbuh tiga kali lipat dibandingkan konsumsi elektronika konvensional.
Peluang Besar, Tantangan Ada pada Akses Pasar
Meski memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan, tantangan utama IKM Indonesia bukan semata-mata kemampuan memproduksi komponen. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana produk lokal dapat memenuhi standar industri besar, memperoleh kontrak pasokan berkelanjutan, dan masuk secara formal ke dalam rantai pasok manufaktur.
Sejumlah IKM nasional telah mampu memproduksi komponen seperti printed circuit board assembly (PCBA), wire harness, konektor, copper braid, panel listrik, serta sistem proteksi dan distribusi daya.
Namun, kemampuan produksi tersebut belum otomatis menjamin akses ke pasar industri besar. Kebutuhan sertifikasi internasional, konsistensi kualitas, kapasitas produksi, pembiayaan, dan kepastian penyerapan masih menjadi hambatan yang perlu diatasi.
Karena itu, pengembangan IKM komponen elektronika perlu bergeser dari pendekatan yang berfokus pada pelatihan menuju pembentukan kemitraan bisnis yang menghasilkan kontrak dan pesanan nyata.
Keterlibatan industri besar dan badan usaha milik negara (BUMN) menjadi penting, terutama untuk membuka akses bagi IKM sebagai pemasok tier-2, memberikan pendampingan teknis, serta membangun hubungan pasokan jangka menengah dan panjang.
Jumlah IKM Elektronika Meningkat
Potensi pengembangan industri ini tercermin dari pertumbuhan jumlah pelaku usaha. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, jumlah IKM pada kelompok KBLI 26, yang mencakup industri komputer, barang elektronika, dan optik, mencapai 5.816 unit usaha pada 2025. Jumlah tersebut meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan 2021.
Sementara itu, jumlah IKM pada kelompok KBLI 27 atau industri peralatan listrik tercatat sebanyak 781 unit usaha.
Pertumbuhan jumlah pelaku usaha tersebut menjadi modal bagi penguatan basis produksi domestik. Namun, peningkatan jumlah unit usaha perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, standardisasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan industri dalam skala besar.
Tanpa penguatan aspek tersebut, pertumbuhan jumlah IKM berisiko tidak sejalan dengan peningkatan kontribusi terhadap nilai tambah industri nasional.
Kendaraan Listrik hingga Pusat Data Jadi Pasar Baru
Perubahan struktur industri global menciptakan sejumlah peluang konkret bagi IKM Indonesia. Transisi energi dan elektrifikasi meningkatkan kebutuhan panel distribusi, inverter, switchgear, konektor, modul pengisian daya, serta komponen sistem proteksi kelistrikan.
Di sektor kendaraan listrik dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), IKM berpeluang memasok wire harness, PCB untuk battery management system, sensor, dan berbagai komponen pendukung lainnya.
Sementara itu, percepatan digitalisasi, pembangunan jaringan 5G, serat optik, dan pusat data meningkatkan kebutuhan komponen elektronika untuk mendukung infrastruktur digital. Penerapan industri 4.0 juga mendorong permintaan sensor, modul kontrol, dan PCBA bagi sistem otomasi produksi.
Peluang ini semakin relevan ketika perusahaan global menerapkan strategi China+1, yaitu mendiversifikasi lokasi produksi di luar Tiongkok. Indonesia berpotensi menjadi salah satu alternatif basis manufaktur, sepanjang mampu menawarkan kualitas, efisiensi biaya, kepastian pasokan, dan iklim usaha yang kompetitif.
TKDN Harus Berujung pada Pesanan Nyata
Kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri melalui tingkat komponen dalam negeri (TKDN) juga dapat memperluas kesempatan IKM untuk menjadi pemasok industri besar. Namun, efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada kemampuan produsen lokal memenuhi spesifikasi teknis, standar kualitas, harga, dan jadwal pengiriman.
Dengan demikian, penguatan TKDN perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapabilitas industri. Tujuannya bukan hanya meningkatkan persentase kandungan lokal, melainkan membangun pemasok domestik yang mampu bertahan dan berkembang dalam persaingan.
Untuk mendorong hal tersebut, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka menggelar Forum Diskusi Kemitraan IKM Komponen Elektronika dan Kelistrikan dengan Industri Besar/BUMN pada 12 Oktober 2026.
Forum ini mempertemukan pelaku IKM, industri besar, BUMN, asosiasi industri, dan pemerintah daerah guna menjajaki kerja sama serta memperkuat integrasi rantai pasok nasional.
Industri besar dan BUMN diharapkan membuka akses pemasok formal bagi IKM, memberikan kepastian penyerapan melalui kontrak jangka menengah, serta memfasilitasi transfer pengetahuan teknis dan standar kualitas. Di sisi lain, IKM perlu meningkatkan konsistensi mutu, ketepatan waktu pengiriman, dan kapasitas produksi.
Penguatan sertifikasi ISO dan IPC, pemanfaatan pembiayaan seperti kredit usaha rakyat (KUR), partisipasi dalam program business matching, serta pembentukan konsorsium antarpelaku IKM juga menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam skala besar.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan IKM elektronika tidak cukup diukur dari bertambahnya jumlah pelaku usaha atau terselenggaranya forum kemitraan. Ukuran yang lebih menentukan adalah meningkatnya jumlah IKM yang masuk ke rantai pasok formal, bertambahnya kontrak pasokan, meningkatnya kandungan lokal, dan terciptanya nilai tambah di dalam negeri.
Jika peluang transisi energi dan digitalisasi dapat dimanfaatkan secara konsisten, IKM berpotensi menjadi bagian penting dari transformasi Indonesia dari pasar konsumen elektronika menjadi basis produksi komponen yang semakin kompetitif di tingkat global.









