Cadangan BBM Bali Ditingkatkan Jadi 15 Hari, 66 SPBU Beroperasi 24 Jam

0
60
BBM
Seorang petugas SPBU Pertamina tengah mengisi BBM Pertamax Green. FOTO: PERTAMINA

(Viibizmedia-Nasional) Pemerintah meningkatkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Bali dari 11 hari menjadi 15 hari untuk mempercepat pemulihan pasokan dan mengatasi antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Langkah ini disertai penambahan distribusi, pengoperasian SPBU selama 24 jam, serta pengerahan mobil tangki tambahan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, penambahan cadangan tersebut bukan merupakan pengurangan kuota BBM untuk Bali, melainkan upaya memperkuat ketersediaan energi di tengah gangguan distribusi.

“Saya malah hari ini baru memerintahkan, memutuskan lewat Dirjen Migas dan BPH Migas, untuk menaikkan kuota yang tadinya 11 hari, saya naikin menjadi 15 hari. Jadi bukan mengurangi, menambah,” ujar Bahlil.

Kebijakan tersebut diharapkan menjaga kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi di Pulau Dewata tetap berjalan selama distribusi BBM kembali dinormalisasi.

Pasokan tambahan dijadwalkan tiba melalui sejumlah kapal pengangkut di Fuel Terminal Sanggaran dan Terminal Manggis. Kedatangan kapal-kapal tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina Patra Niaga menjaga kesinambungan pasokan ke berbagai wilayah Bali.

Distribusi BBM Capai 3 Juta Liter per Hari

Dari sisi distribusi, Pertamina Patra Niaga menyalurkan sekitar 3 juta liter BBM per hari ke Bali. Jumlah ini lebih tinggi daripada konsumsi normal Pertalite yang diperkirakan mencapai 2,2 juta liter per hari.

Untuk mempercepat pelayanan kepada masyarakat, sebanyak 66 SPBU di wilayah Denpasar dan Badung dioperasikan selama 24 jam. Pertamina juga mengerahkan 16 mobil tangki tambahan guna memperkuat penyaluran BBM ke SPBU.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pasokan tidak hanya bergantung pada besarnya stok yang tersedia, tetapi juga pada kelancaran pengangkutan dan distribusi hingga ke konsumen.

Gangguan pada salah satu mata rantai distribusi dapat menyebabkan antrean meskipun pasokan secara keseluruhan masih tersedia. Karena itu, penambahan cadangan perlu diikuti pengaturan logistik dan pemantauan kebutuhan BBM di setiap wilayah.

Ganjil-Genap Pembelian BBM Diperpanjang

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Bali menerapkan skema pembelian BBM berdasarkan pelat nomor kendaraan ganjil dan genap sejak Sabtu (17/10/2026).

Kebijakan tersebut dinilai membantu mengurai antrean di SPBU. Atas hasil tersebut, penerapannya diperpanjang hingga Jumat (23/10/2026) untuk menjaga ketertiban pembelian selama proses pemulihan pasokan berlangsung.

Skema ini menjadi salah satu instrumen pengendalian di tingkat konsumen. Namun, kelancaran pelayanan dalam jangka panjang tetap membutuhkan kepastian pasokan dan distribusi yang konsisten, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sektor pariwisata, transportasi, dan kegiatan usaha di Bali.

Cadangan 15 Hari Bukan Berarti BBM Akan Habis

Bahlil juga menjelaskan bahwa cadangan BBM selama 15 hari tidak berarti persediaan akan habis setelah melewati periode tersebut. Perhitungan itu menggambarkan kemampuan stok untuk memenuhi kebutuhan berdasarkan tingkat konsumsi, sementara pasokan baru terus masuk melalui pengiriman berkala.

Ia mengibaratkan mekanisme tersebut seperti bak air di rumah yang terus diisi kembali sehingga ketersediaan air tidak hanya bergantung pada volume awal.

“Bukan berarti 15 hari itu habis. Nggak. Dia bergulir terus, datang terus,” tegasnya.

Pemerintah juga memastikan cadangan BBM nasional masih berada pada tingkat yang memadai. Stok Pertalite dengan Research Octane Number (RON) 90 disebut berada pada kisaran 16–18 hari, sedangkan cadangan jenis BBM lainnya dilaporkan berada di atas 20 hari, sesuai standar minimum nasional yang menjadi acuan pemerintah.

Bahlil menegaskan, cadangan nasional masih mencukupi untuk mendukung kebutuhan masyarakat di tengah gangguan distribusi yang terjadi di sejumlah wilayah.

Kelancaran Distribusi Jadi Kunci Pemulihan

Peningkatan cadangan BBM Bali menjadi 15 hari merupakan langkah untuk memperkuat ketahanan pasokan sekaligus memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap ketersediaan energi.

Meski demikian, efektivitas kebijakan tersebut akan sangat ditentukan oleh konsistensi kedatangan kapal pengangkut, kecukupan armada distribusi, serta kemampuan SPBU melayani permintaan masyarakat tanpa antrean berkepanjangan.

Pemerintah dan Pertamina Patra Niaga terus memperkuat pasokan dan distribusi agar kondisi pelayanan kembali normal. Bagi Bali yang memiliki ketergantungan tinggi pada kelancaran transportasi dan aktivitas pariwisata, ketersediaan BBM yang terjaga menjadi faktor penting untuk mendukung mobilitas masyarakat dan keberlangsungan kegiatan ekonomi.