Kemnaker Dorong Generasi Muda Jadi Inovator dan Pencipta Lapangan Kerja

0
65
Foto: Kemnaker

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mendorong generasi muda Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi, tidak hanya dengan memasuki pasar kerja, tetapi juga melalui penciptaan inovasi, pengembangan teknologi, dan pendirian usaha yang mampu membuka lapangan kerja baru.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan pentingnya membangun ekosistem inovasi yang mendukung potensi generasi muda agar dapat menghasilkan solusi nyata serta meningkatkan produktivitas nasional. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan pidato kunci pada Grand Final Pitch dan Prototype Showcase/Demo GenoHack 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Minggu (25/10/2026).

“Saya sangat mendukung inisiatif seperti ini. Memang sudah seharusnya anak-anak muda terbaik bangsa hadir bukan hanya mencari lowongan kerja, tetapi juga bisa menciptakan pekerjaan,” ujar Yassierli.

GenoHack 2026 mengangkat tema Hackathon Deeptech Genomik 2026. Dalam babak final, sembilan tim mempresentasikan ide dan prototipe inovasi berbasis teknologi genomik. Kegiatan ini menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengembangkan hasil pemikiran ilmiah dan kemampuan teknologi menjadi solusi yang berpotensi menjawab berbagai kebutuhan masyarakat.

Yassierli mengapresiasi GenoHack sebagai wadah yang memberikan kesempatan kepada anak muda untuk menguji sekaligus mengembangkan gagasan inovatif. Ia berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan lebih luas di berbagai perguruan tinggi sehingga semakin banyak mahasiswa dan lulusan yang memperoleh ruang untuk berkreasi dan menghasilkan terobosan baru.

“Anak muda sudah seharusnya tampil ke depan menjadi inovator. Dan dari inovator itulah yang akan meningkatkan produktivitas,” katanya.

Menurut Yassierli, pengembangan inovasi memiliki keterkaitan erat dengan upaya pemerintah memperluas kesempatan kerja. Kehadiran inovator berpotensi melahirkan produk, teknologi, dan model bisnis baru yang tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha serta menyerap tenaga kerja.

Dengan demikian, keberhasilan lulusan perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuannya memperoleh pekerjaan. Mereka juga diharapkan mampu menciptakan nilai tambah melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, dan pembentukan usaha yang memberikan dampak ekonomi lebih luas.

Di bidang genomik, riset dan pengembangan teknologi membuka peluang bagi generasi muda untuk menghadirkan berbagai inovasi yang dapat diterapkan dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Namun, proses tersebut memerlukan dukungan berkelanjutan agar gagasan dan prototipe yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi solusi yang siap dimanfaatkan.

Untuk mewujudkan hal itu, Yassierli menekankan perlunya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem inovasi yang kondusif. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menyediakan ruang bagi generasi muda untuk meningkatkan kompetensi, menguji gagasan, dan mengembangkan hasil inovasi hingga memberikan manfaat yang lebih luas.

“Tentu pemerintah harus hadir, dan inilah pekerjaan rumah kita untuk bisa mengolaborasikan ini ke depan,” ujarnya.

Melalui dukungan terhadap kegiatan seperti GenoHack 2026, Kemnaker berharap semakin banyak generasi muda yang mampu mengubah pengetahuan dan kreativitas menjadi inovasi produktif. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja baru.

Ke depan, tantangan yang perlu dijawab bukan hanya menghasilkan gagasan kreatif, melainkan juga membangun kolaborasi dan dukungan yang memungkinkan inovasi berkembang secara berkelanjutan serta memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia.