Ekspor Batik Tumbuh, Peluang Industri Lokal Perkuat Devisa dan Serap Tenaga Kerja

0
91
Wamendag Dyah Roro saat meninjau proses produksi Batik Keris di Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah pada Jumat (6 Nov) (Foto: Kemendag)

(Vibizmedia – Industry) Industri batik nasional berpeluang besar untuk memberikan kontribusi terhadap perekonomian melalui perluasan pasar ekspor. Selain menghasilkan devisa, peningkatan ekspor batik juga berpotensi mendorong pertumbuhan usaha lokal, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan para perajin dan pelaku UMKM yang terlibat dalam rantai produksinya.

Potensi tersebut menjadi perhatian Kementerian Perdagangan saat Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengunjungi fasilitas produksi Batik Keris di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (6/11). Kunjungan ini bertujuan melihat perkembangan usaha sekaligus memetakan peluang perluasan pasar internasional bagi produk fesyen berbasis budaya Indonesia.

Menurut Roro, pengembangan industri batik Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pelestarian warisan budaya, tetapi juga memiliki efek berganda terhadap perekonomian. Proses produksi yang melibatkan masyarakat sekitar terus diharapkan dapat menciptakan kesempatan kerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah.

Salah satu contoh perusahaan yang berhasil mengembangkan bisnis berbasis budaya melalui jaringan ritel nasional adalah Batik Keris. Batik Keris juga berhasil mempertahankan kaderisasi pembatik lintas generasi. Perusahaan ini didukung 435 tenaga kerja dan 311 mesin produksi dengan kapasitas mencapai 60 ribu potong busana per bulan.

Kemendag siap memfasilitasi promosi, pembinaan, peragaan busana, hingga mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli internasional. UMKM juga didorong memanfaatkan jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara untuk menggali peluang pasar dan mengikuti business matching.

Roro menilai Asia Tenggara menjadi salah satu pasar potensial karena memiliki kedekatan sejarah dan budaya dengan Indonesia. Perluasan pasar di kawasan tersebut diharapkan dapat meningkatkan permintaan sekaligus memperkuat posisi batik sebagai produk unggulan ekspor bernilai tambah.

CEO Batik Keris Andy Rusli menyambut positif dukungan pemerintah dan menyatakan minat perusahaan untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia mendatang guna menjaring buyer internasional. Saat ini, perusahaan tetap berfokus memenuhi kebutuhan pasar domestik sembari membina perajin baru.

Data BPS menunjukkan nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai USD 30,62 juta, meningkat 13,03 persen dibandingkan 2024 sebesar USD 26,63 juta. Sementara itu, pada semester I-2026, ekspor batik tercatat USD 4,39 juta.

Peningkatan ekspor menjadi peluang untuk memperbesar pemasukan devisa sekaligus memperluas manfaat ekonomi hingga ke tingkat perajin, UMKM, dan industri pendukung. Dengan penguatan akses pasar internasional, industri batik berpotensi berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi kreatif yang mampu mengangkat daya saing produk Indonesia di pasar global.