
(Vibizmedia – Nasional) Kondisi saat ini berbeda dengan kondisi yang terjadi pada tahun 1998, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan nilai tukar saat ini di kisaran Rp 13.315 per dolar AS, justru dapat meningkatkan surplus anggaran tahun 2015 hingga mencapai Rp 2,3 triliun.
Setiap pelemahan rupiah Rp 100/dolar AS maka pemerintah surplus sebesar Rp 2,3 triliun, sebab penerimaan negara dari migas atau pertambangan yang dalam bentuk dolar AS akan naik ketika dikonversikan ke rupiah, sekalipun ada kenaikan belanja seperti pembayaran utang luar negeri, tetapi secara keseluruhan masih surplus.
Penerimaan negara yang berasal dari migas karena dihilangkannya pemberian subsidi pada bahan bakar minyak (BBM), selisih antara tambahan penerimaan dari sektor migas dan royalti pertambangan itulah keuntungannya akibat dari perlemahan kurs, dikurangi tambahan pembayaran bunga utang.
Karena lebih dari separuh kebutuhan BBM domestik didatangkan dari impor, makin lama subsidi semakin besar. Dengan rendahnya nilai tukar rupiah dapat berbahaya terhadap defisit anggaran kalau bbm masih di subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Akibat dihilangkanya subsidi BBM, pelemahan rupiah tidak mengalami pelebaran defisit sehingga surplus bertambah, ungkap Bambang Brodjonegoro Jumat, (3/7).
Journalist : Rully
Editor : Mark Sinambela








