
(Vibizmedia – Nasional) Dalam rangka pembangunan pembangkit listrik, sebagai bagian dari program listrik 35.000 MW dan untuk memenuhi pasokan listrik di Nusa Tenggara Barat (NTB), Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan groundbreaking Mobile Power Plant (MPP) Jeranjang berkapasitas 2×25 MW di Desa Kebunayu, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Listrik merupakan kebutuhan rakyat. Terlebih lagi masyarakat di desa yang memiliki usaha kecil seperti usaha jahitan atau pembuatan kue, selain itu juga anak-anak memerlukan listrik untuk penerangan saat belajar di malam hari. Problem kongkrit seperti ini yang harus kita hadapi dan selesaikan bersama, ungkap Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke NTB, Sabtu (11/6).
Direktur PLN Sofyan Basir mengatakan bahwa pembangunan pembangkit listrik di Kabupaten Lombok Barat ini, terkait program listrik 35.000 MW dan sampai dengan akhir tahun 2019, NTB akan memiliki tambahan mencapai 500 MW.
Beberapa pembangkit dengan total kapasitas 500 MW yang akan dibangun PLN yang telah melewati tahapan pembebasan lahan tersebut adalah PLTGU Lombok 150 MW, PLTU Lombok dan PLTU Lombok 2 masing-masing berkapasitas 100 MW, PLTMG Sumbawa 50 MW dan PLTMG Bima 50 MW dengan total transmisi sepanjang 103 kms.
Pembangunan MPP di Lombok ini menjadi salah satu program strategis PLN yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2015 – 2024. Hal ini menjadi bukti awal komitmen PLN terhadap pembangunan infrastruktur kelistrikan di NTB.
MPP menjadi pilihan yang tepat untuk dapat segera menambah pasokan kelistrikan di beberapa daerah, karena proses pengerjaannya yang tidak memakan waktu lama, seperti pada MPP Lombok ini membutuhkan waktu kurang lebih 5 hingga 6 bulan agar dapat beroperasi. Dibangun sejak 8 Februari, kini pembangunan proyek MPP telah mencapai progress sebesar 70%.
Sofyan sampaikan bahwa PLN menargetkan MPP Jeranjang ini akan beroperasi pada akhir Agustus tahun 2016 ini, sebelum penyelenggaraan MTQ Nasional 2016 yang akan dilaksanakan pada akhir Juli 2016.
Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang operasionalnya menggunakan bahan bakar gas ini, diharapkan dapat menghemat hingga Rp 26 miliar per tahun, dan juga masuknya MPP dalam sistem kelistrikan Lombok dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 73,83% (per April 2016) menjadi 78,16% pada akhir Desember 2016.
Dengan adanya peningkatan rasio elektrifikasi tersebut dapat menjadi katalisator peningkatan perekonomian di Lombok dan sekitarnya, ungkap Sofyan, Sabtu (11/6). Disamping itu, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah 9,9% untuk kwartal pertama tahun ini, sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional adalah 4,92%, ekonomi di NTB lebih baik dibandingkan provinsi lain.
Sistem kelistrikan di Wilayah NTB terdiri dari 3 sistem yang terpisah yaitu Sistem Lombok, Sistem Sumbawa dan Sistem Bima. Sistem Lombok merupakan sistem terbesar dengan beban puncak mencapai kurang lebih 212 MW dan daya mampu pasok kurang lebih 219 MW per Juni 2016. Dengan tambahan 50 MW dari MPP Lombok, maka akan menambah keandalan daya pasok sistem Lombok.
Journalist : Rully
Editor : Mark Sinambela








